Hantavirus dan leptospirosis merupakan dua jenis penyakit yang kerap dikaitkan dengan keberadaan hewan pengerat. Meskipun keduanya memiliki keterkaitan dengan reservoir yang sama, terdapat perbedaan mendasar yang perlu dipahami masyarakat.
Perbedaan tersebut mencakup aspek penyebab, mekanisme penularan, hingga gejala klinis yang muncul. Dilansir dari Detik Health, pengenalan karakteristik masing-masing penyakit sangat penting untuk melakukan upaya pencegahan sejak dini.
Hantavirus dipicu oleh virus dari genus Orthohantavirus yang dibawa oleh berbagai jenis hewan pengerat. Tikus got, tikus rumah, tikus sawah, hingga mencit rumah menjadi perantara utama penyebaran virus ini kepada manusia.
Penularan terjadi saat seseorang melakukan kontak langsung dengan hewan pengerat atau ekskresinya seperti air liur, urine, dan feses. Partikel debu yang telah terkontaminasi juga dapat menjadi media penularan jika terhirup atau mengenai membran mukosa.
Varian Penyakit Akibat Hantavirus
Penyakit ini termanifestasi dalam dua bentuk utama, yaitu Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). HFRS menyerang ginjal dengan gejala demam, nyeri punggung, hingga perdarahan hebat.
Sementara itu, HPS lebih fokus menyerang sistem pernapasan dengan masa inkubasi 14 hingga 17 hari. Pasien biasanya mengalami sesak napas akut, kelelahan ekstrem, serta nyeri otot pada bagian paha dan punggung.
Mengenal Bakteri Leptospirosis
Berbeda dengan hantavirus, leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospira interogans. Bakteri ini tidak hanya dibawa oleh tikus, tetapi juga hewan lain seperti babi, anjing, kuda, sapi, dan kambing.
Bakteri Leptospira diketahui mampu bertahan hidup selama bertahun-tahun di dalam ginjal hewan tanpa menimbulkan gejala pada hewan tersebut. Penularan pada manusia sering terjadi melalui kulit yang terluka saat terpapar urine hewan atau air yang terkontaminasi.
Gejala leptospirosis umumnya muncul dalam rentang waktu dua hari hingga empat minggu pascainfeksi. Tanda-tandanya meliputi demam tinggi, sakit kepala, mata merah, nyeri otot, hingga munculnya bintik merah pada kulit.
Langkah Pencegahan Efektif
Guna menghindari paparan kedua penyakit ini, kebersihan lingkungan menjadi faktor kunci yang harus diperhatikan. Masyarakat disarankan untuk selalu menyimpan makanan dan minuman di wadah tertutup agar tidak memancing kedatangan tikus.
Penggunaan alat pelindung diri seperti sarung tangan dan sepatu bot sangat dianjurkan saat bekerja di area berisiko. Selain itu, menutup luka dengan plester tahan air dan mencuci tangan secara rutin merupakan langkah preventif yang esensial.