Layanan buy now pay later atau BNPL perbankan mencatatkan pertumbuhan baki debet sebesar 24,20 persen secara tahunan menjadi Rp28,3 triliun pada Maret 2026. Ekspansi ini didorong oleh integrasi fitur paylater ke dalam ekosistem belanja daring dan pembayaran harian guna menjangkau nasabah ritel lebih luas.
Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan porsi paylater perbankan mengalami kenaikan tipis menjadi 0,33 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di angka 0,32 persen. Dilansir dari Finansial, jumlah rekening pengguna layanan ini turut meningkat menjadi 30,81 juta akun dari posisi 30,55 juta pada Februari 2026.
Direktur Risiko, Kepatuhan, dan Hukum PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) Ganda Raharja Rusli menilai prospek bisnis paylater di sektor perbankan masih terbuka lebar bagi nasabah. Produk tersebut diproyeksikan menjadi alternatif kartu kredit konvensional untuk transaksi bernilai kecil karena prosesnya yang instan.
ÔÇ£Bank juga akan terus mengintegrasikan fitur paylater bank langsung di halaman pembayaran (checkout) e-commerce,ÔÇØ ungkap Ganda, Selasa (5/5/2026).
Allo Bank saat ini terus mengoptimalkan penetrasi melalui skema pembayaran QRIS di gerai luring serta integrasi ekosistem. Langkah tersebut diambil untuk mengubah fungsi paylater dari sekadar belanja daring menjadi alat pembayaran kebutuhan harian nasabah.
Di sisi lain, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) mencatatkan pertumbuhan pengguna paylater mencapai 192.000 nasabah atau naik 9 persen secara tahunan hingga kuartal I/2026. Outstanding paylater perseroan menyentuh angka Rp342 miliar yang mayoritas digunakan untuk konsumsi ritel dan perjalanan.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menjelaskan bahwa peningkatan transaksi tersebut turut dipicu oleh momentum musiman di awal tahun. Pendapatan selain bunga perusahaan juga terdongkrak oleh kenaikan fee dan komisi dari layanan digital tersebut.
ÔÇ£Kami juga senantiasa menghadirkan berbagai penawaran dan promo menarik sesuai dengan kebutuhan nasabah di berbagai segmen,ÔÇØ kata Hera, Selasa (5/5/2026).
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede mengamati bahwa bank memiliki keunggulan kompetitif berupa basis nasabah dan akses data transaksi yang kuat. Hal ini menjadi modal penting dalam menghadapi kompetisi dengan perusahaan pembiayaan yang tumbuh lebih pesat hingga 55,85 persen.
ÔÇ£Semakin mudah proses persetujuan, semakin besar risiko nasabah mengambil kredit berulang di banyak tempat tanpa kemampuan bayar yang memadai,ÔÇØ kata Josua, Selasa (5/5/2026).
Ia menekankan pentingnya bagi perbankan untuk membangun model bisnis yang terukur melalui integrasi data rekening dan histori transaksi nasabah. Pendekatan ini dinilai lebih aman dibandingkan sekadar mengejar volume penyaluran pembiayaan semata.
ÔÇ£Jadi ruang tumbuhnya ada, tetapi bank sebaiknya tidak sekadar mengejar volume, melainkan membangun BNPL sebagai bagian dari ekosistem transaksi dan loyalitas nasabah,ÔÇØ ujarnya.
Secara industri, Josua melihat kontribusi BNPL terhadap total pendapatan bank masih tergolong kecil mengingat baki debetnya baru mencapai Rp28,3 triliun. Angka tersebut masih sangat rendah jika dibandingkan dengan total kredit perbankan nasional yang mencapai Rp8.659 triliun.
ÔÇ£Ruang tumbuhnya ada, tetapi bank sebaiknya tidak sekadar mengejar volume, melainkan membangun BNPL sebagai bagian dari ekosistem transaksi dan loyalitas nasabah,ÔÇØ tuturnya.
Risiko gagal bayar pada segmen nasabah muda yang belum memiliki rekam jejak kredit panjang menjadi tantangan utama yang harus dimitigasi. Pertumbuhan sektor ini wajib disertai dengan disiplin dalam penilaian rasio utang melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) agar tidak menurunkan kualitas portofolio ritel secara keseluruhan.