Tempe tercatat memiliki konsentrasi protein dan serat yang lebih tinggi dibandingkan tahu meski keduanya berasal dari bahan baku kedelai yang sama pada Kamis (16/4/2026). Perbedaan signifikan ini dipengaruhi oleh metode pengolahan yang melibatkan proses fermentasi pada tempe dan penyaringan sari kedelai pada tahu.
Berdasarkan data Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI) yang dilansir dari Detik Health, dalam setiap 100 gram bahan, tempe mengandung sekitar 20,8 gram protein. Sementara itu, tahu pada takaran yang sama hanya memiliki kandungan protein sebesar 10,9 gram.
Kadar air yang tinggi pada tahu menjadi penyebab utama rendahnya kepadatan protein dibandingkan tempe. Selain protein, tempe juga unggul dalam kandungan energi sebesar 201 kkal, lemak 8,8 gram, karbohidrat 13,5 gram, dan kalium 234 mg per 100 gram.
Sebagai perbandingan, tahu hanya mengandung energi sebesar 80 kkal dan lemak 4,7 gram. Perbedaan mencolok juga terlihat pada sektor serat, di mana tempe jauh lebih kaya karena menggunakan biji kedelai utuh, sedangkan serat tahu banyak terbuang saat proses penyaringan sari kedelai.
Proses fermentasi dengan ragi yang mengandung jamur Rhizopus pada tempe memberikan keunggulan tambahan berupa peningkatan ketersediaan penyerapan nutrisi. Mikroorganisme tersebut memecah senyawa kompleks sehingga zat gizi lebih mudah dimanfaatkan oleh tubuh manusia.
Penelitian dalam International Journal of Gastronomy and Food Science tahun 2021 menunjukkan bahwa produk kedelai fermentasi mendukung kesehatan metabolik dan menjaga kadar kolesterol darah. Fermentasi juga mengurangi asam fitat yang biasanya menghambat penyerapan mineral seperti zat besi dan seng.
Di sisi lain, tahu tetap memiliki keunggulan tekstur yang lembut sehingga lebih mudah dicerna oleh anak-anak maupun lansia. Kandungan kalorinya yang rendah menjadikan tahu pilihan populer bagi individu yang sedang membatasi asupan energi harian.
Metode memasak sangat menentukan kualitas akhir nutrisi kedua bahan makanan tersebut. Teknik mengukus atau menumis dengan sedikit minyak lebih disarankan guna menghindari penyerapan lemak berlebih yang biasanya terjadi pada proses penggorengan tradisional.