Para ayah mulai memperkuat pendampingan terhadap anak perempuan untuk menghadapi tekanan standar media sosial melalui pendekatan dialogis dan pemberian teladan relasi yang sehat pada Senin (20/4/2026). Langkah ini bertujuan membentengi jati diri remaja agar tidak terjerumus pada tren negatif di dunia maya, sebagaimana dilansir dari Lifestyle.
Keterlibatan sosok ayah dinilai bukan lagi sekadar sebagai pelindung yang membatasi ruang gerak, melainkan sebagai pembimbing yang membuka ruang diskusi. Kehadiran figur laki-laki pertama di rumah ini menjadi kompas moral bagi anak dalam memilah informasi yang layak dipercaya maupun yang harus diabaikan.
Rio, seorang ayah dari dua anak perempuan, menekankan pentingnya orang tua menjadi contoh nyata dalam membangun hubungan yang ideal sejak dini.
"Kita harus jadi contoh buat anak-anak kita, mencontohkan langsung gimana sih relasi yang ideal itu. Harus dibentuk dari sekarang," ucap Rio.
Penegasan Rio tersebut merujuk pada upaya membangun standar bagi anak perempuan dalam menuntut penghargaan dari lawan jenis di masa depan. Melalui perilaku konsisten, ayah membantu anak agar tidak menormalisasi perlakuan buruk dari lingkungan sekitar.
"Makanya kita itu harus jadi contoh yang baik. Enggak ada yang sempurna memang, cuma kalau kita tahu ada perilaku kita yang buruk, dan kita enggak mau anak berperilaku sama, ya yang buruk itu jangan ditonjolin ke anak," imbau Rio.
Rio juga mengungkapkan bahwa dirinya memanfaatkan rutinitas harian seperti momen antar-jemput sekolah sebagai waktu bagi anak untuk berani terbuka mengenai keseharian mereka.
"Di momen anter jemput ini anak suka curhat di sekolahnya ada apa, di medsos dia nemu apaan. Bukan berarti di rumah atau di momen lain anak tertutup, enggak, tapi emang pas anter jemput dia lebih terbuka," kata Rio.
Sementara itu, Rafli yang merupakan ayah dari anak berusia 10 tahun, menerapkan strategi pendampingan rasional daripada sekadar memberikan larangan keras. Ia mengkhawatirkan anak yang masih labil akan meniru gaya hidup atau penggunaan produk yang belum sesuai usia mereka.
"Kalau dibebasin akses ini itu, karena masih remaja awal, umur 10 tahun, masih labil. Takutnya terjerumus ke hal-hal negatif, mencontoh gaya berpakaian atau pake skincare yang bukan untuk usianya," terang Rafli.
Kedekatan emosional yang telah dibangun Rafli melalui aktivitas santai di akhir pekan mempermudah proses penyampaian nilai-nilai kehidupan tanpa membuat anak merasa sedang diceramahi secara formal.
"Quality time sama anak, mungkin karena udah deket dari dulu sering jalan-jalan berdua anak, gampang buat bikin mereka terbuka sama apapun. Kitanya juga gampang masukin ajaran-ajaran, nasihat-nasihat," kata Rafli.
Rafli menambahkan bahwa cara ayah berinteraksi dengan sesama, baik kepada rekan sebaya maupun orang lain, akan direkam secara tajam oleh insting anak perempuan sebagai standar pergaulan.
"Dengan mencontohkan secara langsung cara kita bergaul, ngobrol ke sesama sepantaran, ke yang atas, atau ke yang bawah. Jadi dia langsung bisa melihat," ujar Rafli.