Dermatolog Jelaskan Penyebab dan Cara Mengatasi Pori-Pori Tersumbat

Dermatolog Jelaskan Penyebab dan Cara Mengatasi Pori-Pori Tersumbat
Foto: Ilustrasi Dermatolog Jelaskan Penyebab dan Cara Mengatasi Pori-Pori Tersumbat.

Sejumlah pakar dermatologi menjelaskan mekanisme penyumbatan pori-pori wajah yang diakibatkan oleh akumulasi sebum, sel kulit mati, dan kotoran lingkungan pada Minggu (19/4/2026). Masalah kulit ini sering kali memicu munculnya jerawat serta membuat tekstur wajah tampak tidak merata.

Penyumbatan terjadi saat produksi minyak alami yang berfungsi menjaga kelembapan justru diproduksi secara berlebihan. Kondisi tersebut, sebagaimana dilansir dari Wolipop, dapat membuat pori-pori tampak lebih besar, kusam, hingga menyebabkan peradangan pada folikel kulit.

Dermatolog Courtney Rubin menjelaskan bahwa pori-pori pada dasarnya merupakan saluran alami untuk keluarnya keringat dan minyak. Namun, risiko gangguan muncul apabila sisa kosmetik dan kotoran tidak dibersihkan secara maksimal dari permukaan kulit.

"Semua faktor ini bisa meningkatkan risiko pori-pori tersumbat, yang pada akhirnya bisa memicu jerawat," jelas Courtney Rubin, Dermatolog.

Rubin menambahkan bahwa penggunaan retinoid sangat efektif dalam mengontrol produksi minyak sekaligus mempercepat regenerasi sel. Langkah ini penting agar material organik tidak menumpuk di dalam saluran pori.

"Retinoid membantu sel kulit mati terangkat dengan baik, sehingga tidak menumpuk dan menyumbat pori," jelas Courtney Rubin.

Dermatolog Shereene Idriss menyoroti kekeliruan masyarakat yang sering menyamakan kondisi ini dengan komedo biasa. Ia juga memperingatkan bahaya memencet pori-pori secara mandiri atau menggunakan alat penyedot karena berisiko menimbulkan bekas luka permanen.

"Kalau kamu terus-menerus memencet pori, lama-kelamaan pori-pori bisa terlihat lebih besar," kata Shereene Idriss, Dermatolog.

Idriss juga menyarankan penggunaan eksfoliator kimia dibandingkan masker tarik atau scrub yang bersifat ablatif pada kulit. Penggunaan asam salisilat (BHA) dinilai lebih optimal karena mampu melarutkan minyak hingga ke bagian dalam pori.

"Scrub tidak spesifik untuk masalah pori tersumbat dan justru bisa menyebabkan iritasi," ujar Shereene Idriss.

Meskipun perawatan rutin dapat memperbaiki tampilan wajah, Idriss menegaskan bahwa pori-pori tidak akan pernah bisa benar-benar bersih secara total. Penggunaan produk berlabel non-comedogenic menjadi kunci preventif untuk meminimalkan sumbatan baru.

"Akan selalu ada sedikit sumbatan, tapi kamu bisa meminimalkan tampilannya dengan skincare yang tepat," tambah Shereene Idriss.

Senada dengan rekan sejawatnya, Joshua Zeichner menyebutkan bahwa istilah medis seperti sebaceous filaments atau blackheads memiliki metode penanganan yang serupa. Ia mengibaratkan penggunaan bahan aktif tertentu seperti pembersih saluran yang menjaga akses pori tetap terbuka.

"Perbedaannya tidak terlalu penting, karena pada dasarnya cara mengatasinya hampir sama," ujar Joshua Zeichner, Dermatolog.

Zeichner memberikan catatan khusus mengenai penggunaan retinoid jenis adapalene yang mampu menekan angka peradangan. Zat ini bekerja langsung pada folikel untuk mencegah terjadinya sumbatan sejak tahap awal.

"Bayangkan seperti pembersih pipa yang menjaga pori tetap terbuka," kata Joshua Zeichner.

Artikel terkait

Rekomendasi