Penumpang Stasiun Pasar Senen Khawatir Usai Kecelakaan Kereta di Bekasi

Penumpang Stasiun Pasar Senen Khawatir Usai Kecelakaan Kereta di Bekasi
Foto: Ilustrasi Penumpang Stasiun Pasar Senen Khawatir Usai Kecelakaan Kereta di Bekasi.

Sejumlah penumpang kereta api jarak jauh di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, mengekspresikan kekhawatiran mereka pada Selasa (28/4/2026) menyusul insiden tabrakan kereta yang terjadi di wilayah Bekasi. Meski diliputi rasa waswas akibat kecelakaan pada Senin malam tersebut, para penumpang tetap memilih melanjutkan perjalanan menuju berbagai kota tujuan.

Amanda (22), seorang penumpang yang hendak menuju Klaten, mengakui adanya perasaan tidak tenang saat mengetahui kabar musibah tersebut. Kendati demikian, ia menyatakan tetap menaruh kepercayaan terhadap aspek keselamatan dan respons cepat dari operator moda transportasi ini.

"Kalau trauma sih sebenarnya enggak, lebih ke takut dan lebih hati-hati saja. Tapi saya percaya pihak KAI juga kerjanya cepat," ujar Amanda saat ditemui Megapolitan di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, Selasa (28/4/2026).

Ia menambahkan bahwa pilihannya menggunakan kereta api didasari oleh faktor kenyamanan yang telah ia rasakan selama tiga tahun terakhir. Proses administrasi yang praktis menjadi alasan tambahan baginya untuk tidak beralih ke moda transportasi lain.

"Selama ini saya sudah tiga tahun pakai kereta, fasilitasnya nyaman dan prosesnya mudah," kata Amanda.

Sentimen serupa diutarakan oleh Rifa (23), calon penumpang kereta api tujuan Purwokerto yang sempat merasa gelisah mendengar kabar kecelakaan tersebut. Baginya, insiden di lintasan rel merupakan kejadian tidak terduga yang sulit dihindari.

"Waswas sih iya, tapi enggak sampai trauma banget. Namanya juga kecelakaan yang enggak bisa dihindari," kata Rifa.

Rifa menegaskan tetap akan menunggu di stasiun meski jadwal keberangkatan keretanya mengalami keterlambatan. Ia bahkan tidak berencana mengambil opsi pengembalian dana seandainya fasilitas tersebut ditawarkan.

"Enggak sih, tetap nunggu saja," kata Rifa.

Sementara itu, rasa cemas yang lebih dalam dirasakan oleh Rosa (26), penumpang tujuan Garut yang sedang dalam kondisi hamil. Kekhawatiran tersebut muncul karena kereta yang ditumpanginya akan melintasi titik lokasi yang sama dengan tempat terjadinya kecelakaan.

"Tadinya takut mau pulang ke Garut karena ada musibah itu, jadi sempat trauma," kata Rosa.

Rasa takut tersebut masih menyelimuti Rosa hingga saat ia berada di stasiun untuk menunggu jadwal keberangkatan. Status kehamilan yang dijalaninya membuat kewaspadaan terhadap keamanan perjalanan menjadi lebih tinggi.

"Masih takut sebenarnya sih, apalagi nanti lewat jalur itu," kata Rosa.

Yoga (27), suami dari Rosa, memberikan perhatian khusus terhadap kondisi penumpukan penumpang yang terjadi di area stasiun. Menurutnya, situasi padat tersebut memberikan tantangan tersendiri bagi kelompok penumpang rentan.

"Kasihan juga yang lagi hamil atau bawa bayi, mereka jadi desak-desakan, sumpek juga kan," kata Yoga.

Meski mengeluhkan kondisi stasiun, Yoga menyatakan dapat memahami penyebab penumpukan tersebut sebagai imbas dari kecelakaan besar antara KRL dan KA Argo Bromo Anggrek. Ia berharap peristiwa serupa tidak terulang dan mengimbau masyarakat untuk lebih tertib.

"Semoga tidak ada kejadian lagi, biar lancar di jalan. Terus juga kalau bisa warga taati aturan, jangan sampai karena satu pelanggaran dampak ke nyawa orang lain," ucap Yoga.

Dilansir dari Megapolitan, tabrakan tersebut melibatkan KRL jurusan Cikarang bernomor PLB 5568A dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di emplasemen Stasiun Bekasi Timur KM 28+920 pada Senin pukul 20.52 WIB. Berdasarkan data terbaru dari Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin per Selasa pagi, sebanyak 15 penumpang KRL dilaporkan tewas, sementara 240 penumpang KA Argo Bromo Anggrek dalam kondisi selamat.

Artikel terkait

Rekomendasi