Apakah mungkin kualitas literasi dan numerasi kita yang kerap tertinggal bukan semata soal kurikulum atau kemampuan siswa, melainkan juga tentang cara kita menilai dan membangun fondasi belajar di kelas?
Sejak sepekan terakhir, saya melakukan perubahan dalam metode penilaian. Jika sebelumnya saya menggunakan aplikasi evaluasi daring dengan soal pilihan ganda, kini saya kembali pada penilaian lisan.
Keputusan ini tentu bukan tanpa pertimbangan. Penilaian lisan membutuhkan waktu dan energi lebih besar. Namun, di balik kelelahan itu, saya menemukan sesuatu yang terasa lebih jujur dan autentik.
Kegelisahan saya bermula dari pengalaman pada penilaian daring sebelumnya. Belum sampai sepuluh menit, seluruh soal telah dijawab dengan tingkat akurasi mendekati sempurna.
Padahal, soal-soal tersebut dirancang berbasis keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS) yang menuntut analisis.
Sebagai guru yang setiap hari mendampingi mereka di kelas, saya cukup memahami profil kemampuan masing-masing siswa.
Hasil yang terlalu sempurna justru menimbulkan tanda tanya. Bahkan, siswa yang selama ini aktif dan fokus dalam pembelajaran justru memperoleh nilai lebih rendah dibandingkan mereka yang tampak kurang serius saat belajar.
Di titik itulah saya mulai merefleksikan: barangkali persoalannya bukan semata pada materi, melainkan pada pendekatan penilaian yang saya gunakan.
Akhirnya, saya memutuskan untuk kembali pada metode yang lebih konvensional: penilaian lisan.
Siswa maju satu per satu, saya mengajukan pertanyaan, dan mereka menjawab secara langsung. Prosesnya memang tidak secepat penilaian daring, tetapi lebih mampu menggambarkan kemampuan yang sesungguhnya.
Menjaga Autentisitas
Perubahan ini tidak saya lakukan secara spontan. Saya sempat bertanya pada diri sendiri: apakah materi yang saya sampaikan terlalu mudah? Apakah soal yang saya susun kurang menantang? Ataukah ada kemungkinan soal tersebut tersebar lebih awal?
Di era perkembangan teknologi yang sangat cepat, berbagai kemungkinan memang terbuka. Soal bisa saja dibagikan sebelum waktunya atau dipindai untuk memperoleh jawaban secara instan.
Namun, saya memilih untuk tidak terjebak dalam prasangka terhadap siswa. Fokus saya adalah memperbaiki pendekatan penilaian.
Penilaian lisan mungkin dianggap kurang praktis dan tidak sepenuhnya sejalan dengan tren digitalisasi pendidikan. Namun, justru dalam interaksi langsung itulah terjaga autentisitas proses belajar.
Dalam penilaian tertulis berbentuk pilihan ganda, peluang untuk menebak masih ada. Siswa bisa memilih secara acak, mengikuti intuisi, atau terpengaruh jawaban teman.
Pada penilaian lisan, ruang tersebut hampir tidak tersedia. Interaksi berlangsung secara personal antara guru dan siswa.
Saya menyadari metode ini menuntut alokasi waktu lebih panjang. Dalam tiga jam pelajaran, saya hanya dapat menilai sekitar separuh dari 36 siswa. Artinya, diperlukan setidaknya dua pertemuan untuk menuntaskan seluruh proses.
Namun, kepuasan yang saya rasakan sebanding dengan usaha tersebut. Hasilnya memang bervariasi, dari 0 hingga 100, tetapi angka-angka itu terasa lebih merefleksikan pemahaman yang sebenarnya.
Tidak ada ruang untuk menebak atau bergantung pada bantuan luar. Siswa hanya bisa menjawab sesuai dengan kesiapan mereka.
Menariknya, beberapa siswa tampak tersentuh ketika menyadari kurangnya persiapan mereka. Momen itu menunjukkan bahwa penilaian bukan sekadar mengukur hasil, melainkan juga sarana refleksi dan pembelajaran.
Bagi saya, penilaian lisan menjadi salah satu instrumen efektif untuk membaca sejauh mana pemahaman siswa berkembang.
Fondasi Analitis
Penilaian lisan yang saya terapkan bertumpu pada satu fondasi penting: ingatan atau hafalan. Dalam beberapa tahun terakhir, praktik menghafal sering dipandang sebagai pendekatan lama yang kurang relevan. Padahal, mengingat merupakan pintu awal untuk memahami.
Pada masa sekolah dasar di tahun 1990-an, hafalan adalah bagian yang lumrah dalam proses belajar.
Kami menghafal perkalian, pembagian, akar, dan pangkat dalam matematika. Kami juga menghafal butir-butir Pancasila, Pembukaan UUD 1945, hingga nama-nama menteri kabinet. Menyetorkan hafalan di depan kelas adalah pengalaman yang biasa.
Kini, praktik tersebut semakin jarang ditemui. Pendidikan bergerak menuju pembelajaran yang menyenangkan, terintegrasi teknologi, dan menekankan analisis tingkat tinggi. Semua itu tentu penting dan patut diapresiasi.
Namun, kita juga perlu menyadari bahwa kemampuan analitis tidak berdiri sendiri. Ia dibangun di atas pengetahuan yang tersimpan kuat dalam ingatan. Tanpa fondasi yang kokoh, analisis menjadi rapuh.
Di ruang publik, kerap muncul contoh siswa yang kesulitan melakukan operasi hitung dasar atau tidak mengetahui informasi geografis sederhana. Fenomena ini tentu tidak dapat digeneralisasi, tetapi cukup menjadi pengingat bahwa fondasi pengetahuan tetap penting.
Rasanya kurang tepat jika menyalahkan siswa semata. Bisa jadi, kita para pendidik juga secara perlahan mengurangi porsi latihan dasar, karena merasa nilai tinggi pada penilaian pilihan ganda sudah cukup mewakili keberhasilan belajar.
Bagi saya, hafalan bukan tujuan akhir, melainkan landasan. Hafalan yang kuat melahirkan pemahaman. Pemahaman memungkinkan analisis. Dan analisis pada akhirnya menghadirkan pembelajaran yang bermakna.
Barangkali refleksi ini perlu kita renungkan bersama. Jangan sampai dalam semangat mengikuti perubahan zaman, kita terlalu cepat meninggalkan fondasi yang justru menopang kualitas literasi dan numerasi generasi mendatang.