Pengusaha Otobus Bersiap Sesuaikan Tarif Tiket Bus Imbas Rupiah Melemah

Pengusaha Otobus Bersiap Sesuaikan Tarif Tiket Bus Imbas Rupiah Melemah
Foto: Ilustrasi Pengusaha Otobus Bersiap Sesuaikan Tarif Tiket Bus Imbas Rupiah Melemah.

Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) mengisyaratkan bakal melakukan penyesuaian harga tiket bus dalam waktu dekat akibat ketidakstabilan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang menaikkan biaya perawatan armada. Informasi tersebut dilansir dari Otomotif di Jakarta pada Rabu (20/5/2026).

Kenaikan harga suku cadang impor saat ini kian menjepit operasional perusahaan otobus (PO). Fluktuasi kurs mata uang memicu lonjakan harga pelumas dan komponen penting lainnya di pasar domestik, meskipun sebagian distributor masih menyiasatinya dengan menjual stok lama.

Ketua Umum IPOMI Kurnia Lesani Adnan menjelaskan bahwa lonjakan biaya pemeliharaan sudah terjadi secara signifikan sejak bulan lalu. Selain itu, harga komponen vital seperti ban juga terkonfirmasi akan mengalami kenaikan sebesar 20 persen pada bulan ini.

"Kalau bicara pengaruh, sangat pengaruh. Hari ini maintenance cost kita naik karena oli pelumas saja bulan lalu naik dari Rp 7,2 juta sudah jadi Rp 9,5 juta," ucap pria yang akrab disapa Sani di Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Manajemen PO bus saat ini memperhitungkan potensi penyesuaian tarif tiket berkisar antara 30 persen hingga 40 persen. Langkah penyesuaian ini sekaligus diambil sebagai bentuk langkah antisipasi apabila pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga BBM subsidi ke angka Rp 9.000 atau Rp 10.000.

"Artinya gini, sebelum BBM naik pun, kami sudah harus menyesuaikan. Bukan menaikkan loh ya, menyesuaikan. Hitungan saya sementara, kurang lebih 30 sampai 40 persen kita disesuaikan," kata Sani.

Tekanan yang dihadapi oleh industri transportasi darat ini semakin diperberat oleh akumulasi kenaikan tarif tol di sejumlah ruas jalan serta rencana kenaikan PPN. Padahal, pengeluaran untuk tol dan BBM merupakan komponen biaya langsung terbesar yang menyerap sekitar 40 persen hingga 45 persen dari total uang jalan.

"Kami bisa beroperasi sekarang, tapi kalau tidak ada penyesuaian (tarif), kami tidak bisa merawat armada kami nanti," tutur Sani.

Merespons situasi tersebut, para pemilik armada bus tengah menerapkan berbagai strategi efisiensi agar beban biaya tersebut tidak langsung dialihkan sepenuhnya kepada para penumpang.

Pemilik PO Sumber Alam Anthony Steven Hambali menyatakan bahwa salah satu langkah penyelamatan logis yang diambil oleh pihak manajemen saat ini adalah dengan memangkas jumlah unit armada yang beroperasi di setiap agen.

"Kita turunkan operasional. Misalkan dari 20 unit diringkas menjadi 15 atau 12 unit per agen. Sehingga penggunaan spare part segala macamnya juga lebih turun, menyesuaikan dulu. Itu cara survival kami yang paling logis," ujar Anthony.

Artikel terkait

Rekomendasi