Kalangan pelaku usaha di Batam mulai mengkhawatirkan isu nilai tukar mata uang rupiah yang berpotensi melemah hingga menembus angka Rp18.000 per dolar Amerika Serikat pada Selasa (19/5). Situasi tersebut diprediksi memberikan tekanan berat bagi sektor logistik dan industri domestik yang mengandalkan bahan baku impor, seperti dilansir dari Media Indonesia.
Ketua APINDO Batam, Rafki Rasyid menyampaikan bahwa merosotnya nilai tukar rupiah mendatangkan keuntungan finansial bagi pelaku usaha yang berorientasi pada pasar ekspor akibat selisih kurs. Kendati demikian, lonjakan harga dolar berbalik menjadi beban berat bagi sektor industri yang mendatangkan material dari luar negeri namun menjual produknya di pasar domestik.
"Kalau perusahaan eksportir tentu ada keuntungan dari selisih kurs. Tetapi bagi industri yang bahan bakunya impor dan pasar utamanya domestik, ini menjadi tekanan serius karena biaya produksi otomatis meningkat," kata Rafki Rasyid, Ketua APINDO Batam.
Menurut penjelasannya, himpitan terhadap sektor usaha saat ini kian diperparah oleh kebijakan kenaikan harga avtur serta bahan bakar minyak nonsubsidi. Kondisi tersebut memicu pembengkakan biaya distribusi komoditas secara langsung.
Pertumbuhan biaya energi ini diperkirakan bakal memicu kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat luas. Selain logistik, lonjakan harga bahan baku manufaktur seperti biji plastik dan sejumlah komponen industri lainnya kini sudah mulai membebani para pengusaha di wilayah Batam.
"Biaya logistik naik, harga bahan baku naik, akhirnya harga barang di masyarakat juga ikut naik," ujar Rafki Rasyid, Ketua APINDO Batam.
Tekanan ekonomi ini diperkirakan meluas ke daya beli warga jika pelemahan terus berlanjut. Oleh sebab itu, kalangan pengusaha mendesak pemerintah segera meluncurkan langkah strategis demi menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus memperkuat daya tahan sektor industri dalam negeri.
Kekhawatiran serupa turut disuarakan oleh para pelaku bisnis yang bergerak di bidang jasa transportasi pengiriman barang. Sektor logistik dinilai menjadi lini bisnis yang paling rentan dan cepat merasakan efek berantai dari fluktuasi kurs dolar AS serta penyesuaian harga energi.
"Operasional logistik sangat bergantung pada BBM dan sparepart kendaraan yang sebagian besar masih impor. Kalau dolar terus naik, biaya operasional otomatis ikut naik," kata Amir, Direktur perusahaan trucking kontainer.
Peningkatan pengeluaran pada sektor transportasi ini pada akhirnya bermuara pada lonjakan harga jual produk di tingkat konsumen akhir. Berlanjutnya ketidakstabilan ekonomi global membuat para pengusaha kini memilih langkah ekstra hati-hati dalam menentukan kebijakan bisnis.
Ketidakpastian global yang bersumber dari konflik geopolitik, hambatan rantai pasok global, hingga kelangkaan chip elektronik ikut menahan rencana ekspansi dan penambahan armada logistik baru. Saat ini, pelaku industri memilih fokus untuk mempertahankan efisiensi pengeluaran.
"Kalau situasi global belum membaik dan kurs masih terus tertekan, dunia usaha tentu akan lebih berhitung. Semua sekarang fokus menjaga efisiensi," kata Amir, Direktur perusahaan trucking kontainer.