Sebanyak 37 pengrajin keripik tempe di Gang Kemuning, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, berupaya mempertahankan kelangsungan usaha di tengah lonjakan harga bahan baku pada Rabu (15/4/2026). Penyesuaian strategi produksi dilakukan agar operasional pusat produksi rumahan yang dikenal sebagai Gang Tempe tersebut tetap berjalan stabil.
Kawasan ini telah berkembang menjadi pusat industri kreatif sejak 2011 setelah sebelumnya hanya memproduksi tempe konvensional, sebagaimana dilansir dari Megapolitan. Mayoritas pengrajin yang berasal dari Pekalongan, Jawa Tengah, kini lebih fokus pada pembuatan keripik dengan campuran tepung sagu untuk memberikan tekstur yang khas.
Ketua paguyuban pengrajin tempe setempat, Joko Asori, menjelaskan bahwa inovasi produk ini berawal dari seorang warga bernama Martina yang membagikan ilmunya setelah berkunjung ke Magelang. Transformasi ini terbukti membantu para perantau yang sudah bermukim di Jakarta sejak tahun 1983 tersebut.
"Dia dapat ilmunya untuk mengembangkan produk itu. Alhamdulillah dia juga berikan ilmu itu ke semua pengrajin tempe," ungkap Joko saat ditemui di kediamannya, Rabu (15/4/2026).
Joko menegaskan bahwa produk dari wilayahnya memiliki karakteristik berbeda dibandingkan keripik tempe di tempat lain. Hal ini disebabkan oleh teknik pengirisan yang sangat tipis dan metode penggorengan khusus yang hanya ditemukan di sentra produksi tersebut.
"Sekarang tetap 10.000 tapi kami kurangi, yang tadinya misalkan 8 ons sekarang 770 gram. Karena mengingat bahan bakunya sudah mahal," jelas Joko.
Langkah pengurangan bobot produk dilakukan sebagai alternatif agar harga jual tetap terjangkau bagi pelanggan lama meskipun harga plastik, minyak, dan kedelai merangkak naik. Meskipun mendapatkan komplain dari pembeli, strategi ini dinilai lebih efektif dibandingkan menaikkan harga secara drastis.
Kondisi berbeda dialami oleh Tina, pengrajin lainnya, yang memilih untuk menyesuaikan harga jual secara langsung kepada konsumen. Ia melakukan komunikasi intensif kepada pelanggan tetap mengenai alasan di balik kebijakan kenaikan harga tersebut agar mereka dapat memahami situasi pasar saat ini.
"Sebenarnya enggak aman (penjualannya). Ya mau gimana, saya naikin sebentar, kalau (harga) kacang kedelai turun, nanti diturunin. Tapi kalau kustomer ada yang mau, ada yang enggak," jelas Tina dihubungi melalui panggilan telepon.
Hingga saat ini, aktivitas di Gang Tempe masih terpantau produktif dengan pengiriman rutin melalui layanan transportasi daring. Para pengrajin mengandalkan loyalitas pelanggan tetap untuk menghadapi fluktuasi harga komoditas pangan yang tidak menentu.