Supoyo (59), seorang pengrajin gamelan di Jamblangan, Seyegan, Sleman, terus berupaya menjaga keberlangsungan bunyi tradisi di tengah gempuran zaman yang semakin cepat. Berdasarkan laporan Katanetizen pada 2 Februari 2026, pria yang akrab disapa Kecuk ini bertahan menjadi pembuat perangkat alat musik meskipun pesanan terus mengalami penurunan dalam dua tahun terakhir.
Bengkel kerja sekaligus kediaman Supoyo menjadi saksi sejarah perjalanannya memproduksi gong, demung, saron, hingga kempul dari bahan pelat besi tebal. Dilansir dari Katanetizen, lantai ruang tamunya sengaja dibiarkan beralas tanah padat untuk meredam getaran saat proses penempaan logam berlangsung.
Keahlian Supoyo bermula pada dekade 1990-an saat ia berguru kepada Pak Slamet, seorang pengrajin gamelan terpandang di Turusan, Banyuraden. Di sana, ia mempelajari teknik dasar mulai dari pemotongan pelat, pembentukan fisik instrumen, hingga teknik melaras nada yang menjadi tahapan paling krusial.
"Ngapa kowe? Mbok kana ngalih nggolek gawean liya," kenang Supoyo, menirukan perintah sang guru.
Meski sempat diminta menjauh saat sang guru sedang menyetel nada, Supoyo tetap gigih belajar secara sembunyi-sembunyi dari kejauhan. Ia mencermati setiap dampak pukulan palu terhadap karakter suara yang dihasilkan hingga memahami bahwa pembuatan gamelan sangat mengandalkan kepekaan rasa.
"Proses tersulit justru menentukan laras," ujar Supoyo.
Bagi Supoyo, menyelaraskan nada gamelan bukan sekadar urusan teknis, melainkan keterkaitan antara logika dan perasaan. Ia meyakini bahwa instrumen-instrumen tersebut harus menghasilkan harmoni yang kolektif tanpa ada satu pun bagian yang mendominasi secara berlebihan.
"Tapi saya percaya, kalau bisa membuatnya, pelan-pelan pasti bisa melaras," kata Supoyo.
Pengrajin ini menekankan bahwa ketenangan batin sangat memengaruhi hasil akhir dari sebuah perangkat gamelan yang sedang dikerjakan. Jika merasa buntu dalam proses penyetelan nada, ia terbiasa menepi sejenak ke tepi Sungai Klangsi untuk menjernihkan pikiran sebelum kembali ke bengkel.
"Nglaras niku gumantung pikiran lan ati," kata Kecuk pelan.
Setelah mandiri pada 2012, Supoyo dibantu istrinya, Sarjiatun (57), fokus memproduksi gamelan khusus untuk pementasan jatilan karena sistem transaksinya dianggap lebih aman bagi skala usaha kecil. Walaupun sempat mengalami masa kejayaan dengan pesanan dari berbagai daerah seperti Magelang, Kulonprogo, hingga Klaten, kondisi saat ini diakui jauh lebih sulit.
"Hidup dari gamelan sekarang memang tidak mecukupi," ucapnya lirih.
Kelesuan ekonomi dan pergeseran minat masyarakat membuat pendapatan dari pembuatan alat musik tradisional ini tidak lagi menentu. Namun, Supoyo dan istrinya tetap berupaya bertahan dengan mengandalkan jasa pelarasan gamelan lama yang masih sesekali dipesan oleh para pelaku seni di sekitar wilayah Yogyakarta.
"Tapi ya dikuat-kuatkan. Semua juga ada pasang surutnya," kata Supoyo memungkasi pembicaraan terkait tantangan profesinya saat ini.