Pendapatan Blibli Melonjak 67 Persen pada Kuartal I 2026

Pendapatan Blibli Melonjak 67 Persen pada Kuartal I 2026
Foto: Ilustrasi Pendapatan Blibli Melonjak 67 Persen pada Kuartal I 2026.

PT Global Digital Niaga Tbk atau Blibli (BELI) menunjukkan akselerasi kinerja keuangan yang signifikan pada tiga bulan pertama tahun 2026. Pertumbuhan pesat ini didorong oleh peningkatan efisiensi operasional dan lonjakan pendapatan di berbagai lini bisnis.

Dilansir dari Money, emiten penyedia ekosistem perdagangan omnichannel tersebut berhasil meraup pendapatan neto konsolidasian sebesar Rp 7,84 triliun. Pencapaian ini menandai kenaikan drastis sebesar 67 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu yang tercatat senilai Rp 4,69 triliun.

Seluruh segmen usaha memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan perusahaan, dengan segmen institusi dan toko fisik menjadi motor penggerak utama. Penjualan perangkat smartphone tetap menjadi salah satu komoditas paling diminati yang memacu angka penjualan.

Aspek monetisasi perusahaan juga mengalami peningkatan kualitas yang tercermin dari kenaikan take rate. Angka take rate Blibli naik menjadi 9,9 persen pada kuartal I 2026, setelah sebelumnya berada di level 9 persen pada kuartal I 2025.

Kenaikan ini didorong oleh strategi monetisasi yang lebih tajam pada segmen ritel 1P serta institusi. Hal tersebut berbanding lurus dengan pertumbuhan Gross Profit Before Discount (GPBD) yang tercatat meningkat 21 persen secara tahunan.

Struktur biaya perusahaan juga memperlihatkan tren perbaikan yang konsisten. Rasio beban operasional konsolidasian terhadap total processing value (TPV) menyusut dari 7,3 persen menjadi 6,4 persen.

Efisiensi operasional tersebut secara otomatis mengangkat posisi EBITDA konsolidasian terhadap TPV sebesar 200 basis poin secara tahunan. Blibli pun terus memperkuat sinergi ekosistem dengan menyematkan fitur Blibli Affiliate di platform tiket.com guna memperluas jangkauan pengguna bertransaksi.

Ekspansi jaringan fisik tetap menjadi prioritas dengan penambahan 35 gerai baru sepanjang awal tahun ini. Hingga akhir Maret 2026, perusahaan telah mengelola 295 toko elektronik konsumen, sembilan toko elektronik rumah tangga, serta satu gerai fesyen dan olahraga.

Portofolio fisik perusahaan semakin lengkap dengan kepemilikan 58 gerai supermarket premium dan 37 home and living experience centers. Integrasi platform online dan offline ini menjadi kunci utama dalam strategi jangka panjang perusahaan.

Chief Executive Officer (CEO) dan Co Founder Blibli Kusumo Martanto menyatakan bahwa perusahaan memulai tahun ini dengan pijakan yang sangat kuat. Momentum positif ini merupakan kelanjutan dari hasil kerja keras pada periode sebelumnya.

"Kami memulai tahun 2026 dengan momentum yang solid, melanjutkan tren positif dari kuartal sebelumnya. Hasil kuartal pertama kami mencerminkan kelanjutan dari eksekusi strategi kami, yang menghasilkan pertumbuhan pendapatan dua digit yang kuat serta peningkatan lebih lanjut pada take rate dan margin secara keseluruhan," ujar Kusumo.

Kusumo menambahkan bahwa profitabilitas perusahaan membaik berkat kedisiplinan dalam menjalankan operasional bisnis. Permintaan pasar pada kategori produk dengan margin tinggi tetap menunjukkan tren yang stabil.

"Strategi omnichannel kami terus bertumbuh di berbagai kategori, sementara usaha institusi dan toko fisik berkembang dengan kualitas dan skala yang lebih baik," katanya.

Inovasi Teknologi dan Layanan Logistik

Blibli kini mengandalkan unit Fulfillment at Speed (FAS) untuk memperkuat layanan pemenuhan pesanan pelanggan. Selain itu, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) telah diimplementasikan untuk mengoptimalkan sistem pencarian produk dan memandu pengambilan keputusan pembeli.

Chief Financial Officer (CFO) Blibli Ronald Winardi menekankan keberhasilan perusahaan dalam memacu pendapatan di tengah pengawasan biaya yang lebih ketat. Efisiensi ini krusial dalam memperbaiki neraca keuangan perusahaan.

"Pendapatan neto tumbuh pesat sebesar 67 persen secara tahunan, mencerminkan peningkatan monetisasi omnichannel dan eksekusi ekosistem yang solid, sementara pengendalian biaya yang lebih ketat mendorong peningkatan efisiensi yang berarti," ucap Ronald.

Ronald juga menyebutkan bahwa langkah penghematan biaya telah berhasil menekan kerugian operasional. EBITDA terhadap TPV kini tercatat berada di angka 0,6 persen.

Pada lini ritel 1P, GPBD tercatat sebesar Rp 564 miliar atau tumbuh 23 persen. Strategi selektif pada kategori smartphone dan peralatan rumah tangga menjadi kunci pertumbuhan di segmen ini.

Untuk mendukung kelancaran distribusi, Blibli saat ini mengoperasikan 15 gudang dengan luas total mencapai 200.000 meter persegi serta 19 pusat distribusi. Infrastruktur logistik ini memungkinkan layanan pengiriman dua jam sampai untuk ratusan ribu SKU di 40 kota.

Sementara itu, segmen institusi mencatatkan performa luar biasa dengan lonjakan GPBD sebesar 113 persen menjadi Rp 430 miliar. Kenaikan ini dipicu oleh besarnya permintaan perangkat elektronik dari klien-klien korporasi.

Data menunjukkan belanja per klien institusi melesat 125 persen menjadi Rp 112 juta. Secara keseluruhan, pendapatan neto dari segmen institusi melonjak hingga 137 persen menjadi Rp 3,55 triliun.

Pertumbuhan stabil juga terlihat pada sektor toko fisik dengan kenaikan pendapatan neto sebesar 60 persen menjadi Rp 2,32 triliun. Ekspansi toko merek tunggal dan multi merek terus memperkuat dominasi Blibli di pasar ritel elektronik konsumen.

Artikel terkait

Rekomendasi