Apple membukukan kenaikan pendapatan sebesar 16 persen secara tahunan didorong oleh permintaan masif iPhone 17 dan pertumbuhan signifikan di pasar China pada Kamis (29/1/2026). Dilansir dari Investortrust, perusahaan teknologi asal Cupertino ini mencatatkan total pendapatan senilai US$143,76 miliar pada laporan kuartal pertama fiskal tersebut.
Perusahaan melaporkan laba bersih mencapai US$42,10 miliar atau setara US$2,84 per saham terdilusi, melampaui raihan periode yang sama tahun lalu sebesar US$36,33 miliar. Lini produk iPhone menjadi kontributor utama dengan pertumbuhan pendapatan 23 persen yang menghasilkan nilai penjualan sebesar US$85,27 miliar.
Direktur keuangan Apple Kevan Parekh menyatakan bahwa perusahaan memproyeksikan tren pertumbuhan pendapatan akan berlanjut pada kuartal Maret di kisaran 13 hingga 16 persen secara tahunan. Meskipun optimis, Apple memperingatkan adanya potensi keterbatasan pasokan perangkat iPhone sepanjang kuartal tersebut akibat kendala rantai produksi chip canggih.
"AI akan membutuhkan investasi tambahan di atas investasi peta jalan produk normal kami," ujar Kevan Parekh, Direktur Keuangan Apple.
Peningkatan alokasi dana untuk riset dan pengembangan tercatat naik menjadi US$10,89 miliar dari sebelumnya US$8,27 miliar pada tahun lalu. Di sisi lain, bisnis Services yang mencakup Apple TV dan iCloud tumbuh 14 persen dengan perolehan pendapatan mencapai US$26,34 miliar.
"Permintaan terhadap iPhone benar-benar mencengangkan," ujar Tim Cook, CEO Apple.
Pertumbuhan di wilayah China, termasuk Taiwan dan Hong Kong, menunjukkan angka yang sangat kuat dengan lonjakan penjualan sebesar 38 persen menjadi US$25,53 miliar. Cook menyoroti peran penting para pengguna lama yang melakukan pembaruan perangkat serta pelanggan baru yang beralih dari merek pesaing.
"Kami mencetak rekor tertinggi sepanjang masa untuk pengguna yang melakukan upgrade di China daratan, dan kami melihat pertumbuhan dua digit pada pengguna yang beralih merek," kata Tim Cook, CEO Apple.
Lonjakan ini melampaui ekspektasi internal perusahaan karena performa produk yang diterima dengan baik oleh pasar lokal. Cook menyebutkan faktor kualitas produk menjadi penggerak utama ketertarikan konsumen di wilayah tersebut.
"Melihat lonjakan yang, sejujurnya, jauh lebih besar dari yang kami perkirakan," ujar Tim Cook, CEO Apple.
Selain iPhone, bisnis iPad juga melampaui ekspektasi dengan pertumbuhan 6 persen menjadi US$8,6 miliar, di mana separuh pembelinya merupakan pengguna baru. Namun, kategori Wearables, Home, and Accessories justru mengalami penurunan penjualan sebesar 2 persen secara tahunan.
"Kami benar-benar memiliki platform terbaik di dunia untuk AI," kata Tim Cook, CEO Apple.
Terkait integrasi kecerdasan buatan, Apple telah bermitra dengan Google untuk menggunakan model Gemini guna mendukung sistem Apple Intelligence. Perusahaan kini tengah berupaya menyeimbangkan permintaan pasar yang tinggi dengan keterbatasan stok komponen memori global.
"Kami berada dalam mode rantai pasok untuk memenuhi tingkat permintaan pelanggan yang sangat tinggi, yang saat ini masih terbatas," kata Tim Cook, CEO Apple.
Ketidakpastian waktu mengenai keseimbangan pasokan dan permintaan tetap menjadi tantangan, terutama pada proses manufaktur chip. Apple juga mengantisipasi dampak kenaikan harga pasar memori yang signifikan pada kuartal yang sedang berjalan saat ini.
"Pada titik ini, sulit memprediksi kapan pasokan dan permintaan akan kembali seimbang," kata Tim Cook, CEO Apple.
Harga memori disebut hanya memberikan dampak minimal pada kinerja kuartal Desember lalu. Namun, manajemen memperkirakan biaya komponen tersebut akan meningkat tajam dalam waktu dekat.
"Kami terus melihat harga pasar untuk memori meningkat secara signifikan," kata Tim Cook, CEO Apple.
Hingga akhir kuartal tersebut, Apple telah mengalokasikan dana hampir US$32 miliar untuk keperluan pembelian kembali saham serta pembagian dividen bagi para pemegang saham.