Ajang bursa kerja Jakarta Job Fair yang berlangsung di Gelanggang Remaja Jakarta Utara, Tanjung Priok, pada Rabu (20/5/2026), menjadi sorotan para pencari kerja yang berharap mendapatkan posisi baru.
Seperti dilansir dari Megapolitan, salah satu pelamar kerja bernama Lili (35) tampak selektif mengitari area pameran dan mencermati lembaran persyaratan yang tertera di setiap stan perusahaan.
Bagi Lili, menghadiri bursa kerja seperti ini bukanlah hal baru karena dirinya telah berulang kali datang ke acara serupa semenjak ikatan kontrak kerjanya selesai pada Oktober 2024.
"Udah sering, udah pernah (ke job fair)," ujar dia saat ditemui Kompas.com di lokasi, Rabu.
Perempuan yang sebelumnya memiliki pengalaman sebagai admin operasional di sektor food and beverage (FnB) ini mengaku belum berhasil memperoleh posisi tetap yang baru.
Guna menyambung hidup dan mencukupi kebutuhan harian, Lili saat ini mengandalkan pemasukan dari aktivitas bisnis kecil-kecilan.
"Belum ada (dapat pekerjaan tetap), cuma masih ada usaha sampingan sih," kata dia.
Kendala utama yang dihadapinya selama berburu pekerjaan di berbagai bursa kerja adalah minimnya ketersediaan posisi yang selaras dengan rekam jejak profesionalnya.
Lili mengamati bahwa mayoritas korporasi lebih banyak membuka peluang untuk bagian penjualan dan pemasaran, sedangkan keahliannya berada di bidang administrasi.
"Kalau yang bidang saya, pengalaman yang saya cari sih emang agak susah juga," kata dia.
Di samping keterbatasan jenis posisi, tantangan lain yang dirasakan oleh para pelamar adalah proses seleksi yang dinilai kerap mengandalkan faktor keberuntungan.
Meskipun seluruh prosedur administrasi digital mulai dari pemindaian kode batang hingga pengisian formulir daring telah dipenuhi, undangan wawancara tidak selalu datang.
"Ya kadang kalau misalnya kayak kita udah isi nih, scan atau barcode atau isi G-form gitu lah ya, entar ya kadang ada yang dipanggil ada yang enggak. Untung-untungan sih, rezeki-rezekian gitu," tutur dia.
Faktor krusial lain yang sering kali menjadi tembok penghalang bagi para pencari kerja di usia matang adalah kebijakan mengenai batas usia maksimal.
Lili menegaskan bahwa kompetensi serta pengalaman kerja yang ia miliki sebenarnya tidak pernah memicu masalah dalam penilaian kualifikasi, namun batasan umur secara otomatis memperkecil peluangnya.
"(Batas) Umur (jadi masalah), kalau pengalaman sih enggak masalah sih," ungkap dia.
Melalui momentum ini, ia menitipkan harapan agar para pelaku industri dan pihak penyelenggara dapat menerapkan kriteria yang lebih longgar serta menyajikan opsi lowongan yang lebih variatif.
"Terutama umur sih, sama variasi posisinya sih. Kadang kan lebih banyak itu di kuatnya tuh di sales sama marketing ya, kayak gitu," tambah dia.