Sejumlah warga yang berprofesi sebagai pemulung di Kelurahan Klender, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, mulai menyisihkan hasil temuan mereka sebagai tabungan di bank sampah pada Selasa (12/5/2026). Langkah ini dilakukan sebagai strategi pengumpulan dana darurat untuk mencukupi kebutuhan pokok hingga biaya sewa tempat tinggal.
Metode penyimpanan barang bekas bernilai tinggi ini dikelola melalui komunitas Swara Hijau Farm, dilansir dari Lestari. Para pemulung tidak lagi langsung menjual seluruh hasil buruan mereka kepada pengepul, melainkan menyimpan jenis besi dan kaleng guna dicairkan saat menghadapi desakan finansial.
Wasriah, salah satu warga setempat, mengungkapkan bahwa dirinya kini membagi hasil memulungnya untuk kebutuhan harian dan simpanan bulanan. Pemanfaatan bank sampah ini dirasakan sangat membantu ketika penghasilannya dari memulung berkurang akibat harus merawat suaminya yang sedang sakit.
"Sekarang enggak semuanya dijual langsung. Yang mahal seperti besi atau kaleng saya kumpulkan dulu. Nanti kalau sudah banyak, dijual untuk kebutuhan bulanan," ujar Wasriah.
Perempuan berusia 55 tahun tersebut menjelaskan bahwa tabungan sampah ini pernah digunakannya untuk menutupi biaya kontrakan sebesar Rp 150.000. Saat ini, ia memikul tanggung jawab besar membiayai kebutuhan sekolah dan konsumsi tiga orang cucunya.
"Popok mahal, ukuran XXL sekarang sekitar Rp 100.000. Itu cuma cukup untuk tiga hari," kata Wasriah.
Sebelum memanfaatkan sistem tabungan ini, Wasriah sering terjebak pinjaman dari bank keliling dengan bunga tinggi untuk menutupi kebutuhan mendadak. Kini, ia berupaya melunasi sisa beban utang masa lalu sembari bekerja di kebun hidroponik milik komunitas tersebut.
Selain Wasriah, manfaat serupa dirasakan oleh Halimah yang rutin menyisihkan kardus dan botol plastik dari aktivitas memulungnya selama empat jam setiap hari. Hasil tabungan tersebut biasanya ia gunakan untuk keperluan anak-anaknya saat momen tertentu.
"Lebaran kemarin saya ambil tabungan Rp 150.000. Buat jajan anak-anak dan beli baju," kata Halimah.
Ibu dua anak ini mengaku bahwa menyisihkan barang bekas secara bertahap membuatnya bisa memiliki simpanan uang tanpa merasa terbebani secara langsung. Baginya, satu karung sampah yang disisihkan secara konsisten akan menjadi nilai ekonomi yang nyata di kemudian hari.
"Kalau dapat banyak kardus atau botol, saya sisihkan satu karung. Lama-lama jadi tabungan," ujar Halimah.
Pendiri Swara Hijau Farm, Endang Mintarja, menjelaskan bahwa inisiatif bank sampah ini dilatarbelakangi oleh kondisi ekonomi pemulung yang kerap kesulitan memiliki uang sisa. Tanpa simpanan, para pekerja informal ini sangat rentan terjerat rentenir ketika terjadi keadaan darurat.
"Mereka cari uang hari ini untuk makan hari ini. Jadi ketika ada kebutuhan mendadak, mereka larinya ke bank keliling," kata Endang.
Sistem di bank sampah ini tidak membebankan biaya administrasi dan mencatat setiap setoran berdasarkan harga pasar saat pencairan dilakukan. Endang menilai metode menabung dalam bentuk fisik barang lebih efektif bagi masyarakat berpenghasilan rendah karena mengurangi dorongan untuk membelanjakannya segera.
"Karena bentuknya bukan uang tunai, mereka enggak tergoda untuk langsung menggunakannya," ujar Endang.