Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan operasi penumpasan ikan sapu-sapu di sejumlah sungai dan selokan besar di wilayah Ibu Kota pada Rabu, 15 April 2026. Langkah ini diambil karena perkembangbiakan spesies invasif tersebut dinilai telah mengganggu keseimbangan ekosistem sungai Jakarta.
Meskipun dianggap sebagai hama di Jakarta, ikan sapu-sapu memiliki potensi sebagai sumber protein jika berasal dari lingkungan yang bersih. Dilansir dari Detik Travel, ikan yang dikenal dengan nama carachama ini merupakan salah satu komoditas konsumsi utama bagi penduduk di wilayah Amazon, seperti Peru dan Ekuador.
Spesies ini sangat diminati di wilayah Amazonas, Loreto, San Martin, hingga Madre de Dios karena memiliki daging putih yang bertekstur lembut. Carachama dewasa umumnya tumbuh hingga ukuran 30 sentimeter dengan berat rata-rata mencapai 300 gram per ekor.
Masyarakat etnis Kichwa dan kaum mestizo mengolah ikan prasejarah ini menjadi sup tradisional bernama caldo de carachama atau chilcano de carachama. Kuliner tersebut dipercaya oleh warga lokal sebagai makanan penambah stamina alami serta obat untuk mengatasi gangguan anemia.
Proses pengolahan sup ini biasanya melibatkan bumbu-bumbu khas seperti sachaculantro atau ketumbar Amazon, bawang putih, garam, dan paprika manis. Ikan dimasak utuh selama kurang lebih 20 menit di atas api besar dan disajikan bersama yuka atau pisang tanduk rebus.
Selain dagingnya, telur ikan carachama yang berwarna kuning dan oranye terang juga sering dikonsumsi sebagai kaviar oleh suku-suku di Amazon. Telur tersebut dinilai memiliki kandungan gizi yang sangat tinggi dan dapat dimakan langsung dalam keadaan mentah sebagai camilan ringan.
Pihak otoritas Jakarta menekankan bahwa pembersihan dilakukan murni untuk menjaga populasi ikan lokal. Hal ini dikarenakan kondisi sungai Jakarta yang tercemar membuat ikan sapu-sapu di wilayah tersebut tidak layak untuk dikonsumsi layaknya ikan carachama di habitat aslinya.