Pemerintah Kota Depok menghidupkan kembali tradisi Ngubek Empang sebagai tanda dimulainya rangkaian acara Lebaran Depok 2026. Dalam kegiatan ini, pihak panitia telah menyiapkan total dua ton ikan yang disebar di berbagai lokasi untuk menyemarakkan suasana.
Dilansir dari Megapolitan, Hamzah selaku Ketua Lebaran Depok 2026 menjelaskan bahwa agenda ini melibatkan peserta dari berbagai tingkatan perangkat daerah. Partisipan terdiri dari perwakilan kecamatan, kelurahan, hingga dinas-dinas di lingkungan Pemerintah Kota Depok.
"Peserta berasal dari kecamatan, kelurahan, dan perangkat daerah. Mereka akan bertarung dalam lomba Ngubek Empang dengan aturan yang sudah ditetapkan," ujar Hamzah pada Senin (4/5/2026).
Pelaksanaan Ngubek Empang dijadwalkan berlangsung serentak pada Selasa (5/5/2026) di tiga titik utama. Lokasi tersebut mencakup wilayah barat di Kecamatan Sawangan, wilayah tengah di Kecamatan Cipayung, dan wilayah timur di Kecamatan Tapos.
Setiap titik pelaksanaan akan menjadi pusat bagi beberapa kecamatan lain untuk ikut serta berkompetisi. Aturan utama dalam perlombaan ini adalah peserta dilarang menggunakan alat bantu apa pun saat menangkap ikan.
Para peserta diharuskan turun langsung ke area empang dan mengandalkan ketangkasan tangan kosong dalam durasi 20 hingga 30 menit. Penentuan pemenang didasarkan pada jumlah ikan terbanyak yang berhasil dikumpulkan secara manual.
"Tidak boleh pakai alat, harus pakai tangan. Nanti yang paling banyak menangkap ikan akan menjadi pemenang," kata Hamzah.
Setiap unit kelurahan dan perangkat daerah mengirimkan delegasi sebanyak lima orang peserta. Bagi para pemenang, panitia menyediakan apresiasi berupa sertifikat serta uang pembinaan sebagai bentuk dukungan terhadap semangat pelestarian budaya.
Setelah kompetisi antar-perangkat daerah usai, panitia memberikan kesempatan bagi masyarakat umum untuk ikut merasakan keseruan. Satu ton ikan tambahan akan ditebar kembali ke dalam empang khusus untuk warga yang hadir.
Berbeda dengan kategori lomba, warga yang berpartisipasi diperbolehkan menggunakan alat bantu sederhana seperti serokan. Hal ini dilakukan agar seluruh lapisan masyarakat dapat menikmati hasil panen ikan tersebut.
"Setelah lomba selesai, masyarakat boleh turun. Kita turunkan lagi satu ton ikan untuk masyarakat," ujarnya.
Sekretaris Umum KOOD Berbudaya, Nina Suzana, mengungkapkan bahwa Ngubek Empang adalah warisan leluhur masyarakat Betawi Depok. Tradisi ini berakar dari kebiasaan lama warga dalam memenuhi kebutuhan pangan menjelang hari raya melalui sistem gotong royong.
Dahulu, warga sekitar akan iuran untuk membeli bibit ikan yang kemudian dipelihara bersama di satu empang. Proses memanen ikan menjelang Lebaran ini sering diibaratkan seperti sistem arisan ikan oleh masyarakat setempat.
"Dulu masyarakat patungan membeli bibit ikan, lalu dibesarkan bersama untuk dipanen menjelang Lebaran. Ini seperti arisan ikan," jelasnya.
Istilah "ngubek" sendiri merujuk pada aktivitas mengaduk air di dalam empang. Gerakan ini bertujuan agar air menjadi keruh sehingga ikan-ikan muncul ke permukaan dan menjadi lebih mudah untuk ditangkap dengan tangan.
Saat ini, Ngubek Empang tidak hanya dipandang sebagai hiburan rakyat semata, tetapi juga mulai dikategorikan sebagai olahraga tradisional. Kegiatan ini menuntut ketangkasan fisik serta strategi khusus dari para pesertanya.
Keberadaan tradisi ini di tengah kemajuan kota berfungsi sebagai ruang interaksi dan kebersamaan bagi warga Depok. Bagi banyak peserta, nilai utama dari acara ini adalah munculnya rasa nostalgia dan penguatan ikatan sosial antar-warga.