Pemerintah Tekankan Pentingnya Pendidikan Vokasi Hadapi Tantangan Global

Pemerintah Tekankan Pentingnya Pendidikan Vokasi Hadapi Tantangan Global
Foto: Ilustrasi Pemerintah Tekankan Pentingnya Pendidikan Vokasi Hadapi Tantangan Global.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menekankan bahwa pendidikan vokasi merupakan kunci utama Indonesia dalam menghadapi persaingan global, disrupsi teknologi, hingga transisi ekonomi hijau, Senin (18/5).

Pernyataan tersebut disampaikan saat dia memberikan orasi ilmiah dalam acara Dies Natalis ke-18 Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia, sebagaimana dilansir dari Media Indonesia.

Dalam pemaparannya, Agus Harimurti Yudhoyono menjelaskan bahwa dunia saat ini sedang berada dalam situasi ketidakpastian geopolitik, rivalitas teknologi, serta kompetisi ekonomi global yang kian ketat.

"Perlombaan global hari ini bukan lagi sekadar soal siapa yang memiliki sumber daya alam terbesar, tetapi siapa yang memiliki manusia paling unggul, paling produktif, paling inovatif, dan paling adaptif terhadap perubahan zaman," kata Agus Harimurti Yudhoyono, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.

Ia kemudian mencontohkan keberhasilan Korea Selatan dan Tiongkok dalam membangun industri maju berkat investasi besar pada pendidikan teknis dan vokasi untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah.

Menurutnya, saat ini masih terdapat ketidaksesuaian antara kebutuhan industri dan hasil pendidikan tinggi, terutama pada sektor manufaktur, pertanian, perikanan, pertambangan, konstruksi, dan pengolahan yang menyumbang lebih dari 50 persen PDB nasional.

"Pendidikan vokasi tidak boleh lagi dipandang sebagai pendidikan kelas dua. Justru di era industrialisasi modern, green economy, dan digital economy, pendidikan vokasi adalah tulang punggung pembangunan nasional," ujar Agus Harimurti Yudhoyono, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.

Untuk mengatasi masalah tersebut, ia mendorong penguatan keterkaitan antara kampus vokasi dan industri, penguatan pendidikan STEM, perluasan riset terapan, sertifikasi kompetensi global, serta kolaborasi internasional.

Langkah pembangunan infrastruktur ke depan juga dinilai harus terintegrasi dengan pembangunan pendidikan, kawasan industri, pusat inovasi, dan ekosistem vokasi nasional.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat turut menyoroti krusialnya peran pendidikan vokasi dalam menjawab tantangan krisis lingkungan global serta mendukung transisi menuju ekonomi hijau.

Jumhur Hidayat memaparkan bahwa bumi saat ini sedang menghadapi tiga krisis planet utama, yaitu krisis perubahan iklim, krisis polusi dan limbah, serta krisis kehilangan keanekaragaman hayati.

"Kita hidup pada masa ketika krisis ekologis tidak lagi hadir sebagai ramalan yang masih jauh. Ia sudah menjadi pengalaman sehari-hari," kata Jumhur Hidayat, Menteri Lingkungan Hidup.

Ia menambahkan bahwa bencana hidrometeorologi kini semakin mendominasi kejadian bencana di Indonesia, ditambah dengan persoalan pengelolaan sampah nasional yang belum optimal.

Kebutuhan tenaga kerja terampil seperti teknisi panel surya, operator pengolahan limbah, auditor energi, teknisi kendaraan listrik, hingga tenaga pertanian pintar sangat diperlukan dalam ekonomi sirkular.

"Ekonomi hijau bukan ekonomi yang mengurangi kesempatan kerja. Justru jika dirancang dengan benar, ekonomi hijau dapat menjadi mesin pencipta lapangan kerja baru," ujar Jumhur Hidayat, Menteri Lingkungan Hidup.

Ia mengakhiri paparannya dengan mengajak seluruh mahasiswa vokasi untuk menjadi generasi ekologis yang mampu memanfaatkan teknologi dalam menciptakan solusi lingkungan serta pembangunan berkelanjutan.

Artikel terkait

Rekomendasi