Pemerintah Indonesia tengah menjalankan agenda transformasi besar-besaran terhadap Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan rencana merampingkan jumlah entitas secara signifikan. Langkah ini diambil guna memastikan perusahaan pelat merah tersebut dapat memberikan kontribusi nilai tambah yang lebih optimal bagi perekonomian nasional.
CEO Danantara, Rosan Roeslani, menjelaskan bahwa pihaknya telah menyelesaikan tinjauan mendalam terhadap struktur perusahaan negara selama setahun terakhir. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, jumlah BUMN yang saat ini mencapai lebih dari 1.000 perusahaan akan dipangkas hingga tersisa ratusan saja, sebagaimana dilansir dari Detik Finance pada Rabu (6/5/2026).
"Kita pun sudah melakukan evaluasi secara komprehensif selama setahun ini, dan number of companies-nya (jumlah BUMN) akan berkurang secara signifikan dari 1.000 lebih, akan menjadi 200-300 company saja," papar Rosan, CEO Danantara.
Dalam acara CEO Development Program tersebut, Rosan menekankan bahwa proses pengurangan jumlah perusahaan ini dibarengi dengan mitigasi dampak yang terukur. Tujuan utamanya adalah efisiensi agar BUMN tidak hanya sekadar besar secara kuantitas, tetapi juga kuat secara kualitas bagi ekonomi.
Target percepatan transformasi ini juga merujuk pada instruksi langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Rosan menyebutkan bahwa perencanaan yang solid harus segera dieksekusi agar hasil dari restrukturisasi ini dapat segera dirasakan oleh masyarakat luas.
"Yang paling penting adalah bagaimana kita bisa mengerjakan ini, tidak hanya dengan planning yang baik, planning yang solid, tetapi juga dengan apa yang Bapak Presiden sudah menyampaikan, dengan cepat. Supaya manfaatnya bisa dirasakan segera," tegas Rosan, CEO Danantara.
Kementerian terkait kini fokus memastikan setiap tahapan pemangkasan berjalan sesuai jadwal yang telah ditentukan. Fokus pemerintah saat ini tertuju pada penguatan perencanaan agar seluruh BUMN hasil perampingan tersebut memiliki daya saing yang lebih kompetitif di masa depan.