Pemerintah negara bagian North Carolina, Amerika Serikat, resmi melayangkan gugatan hukum terhadap produsen mobil listrik asal Vietnam, VinFast. Langkah ini diambil setelah perusahaan otomotif tersebut dinilai gagal memenuhi komitmen pembangunan pabrik kendaraan listrik (EV) yang telah disepakati sejak empat tahun lalu.
Seperti dilansir dari Suara, proyek tersebut awalnya digadang-gadang sebagai rencana pengembangan ekonomi terbesar di wilayah Chatham County, North Carolina. VinFast sebelumnya mengumumkan investasi awal yang bernilai fantastis, yakni mencapai Rp35,2 triliun (USD 2 miliar).
Kompleks manufaktur yang direncanakan berdiri di atas lahan seluas 1.800 acre tersebut dirancang memiliki lima fasilitas utama. Fasilitas itu meliputi body shop, general assembly, press shop, paint shop, serta energy center yang ditargetkan memproduksi model VF 7, VF 8, dan VF 9 dengan kapasitas produksi 150.000 unit per tahun. Selain itu, perusahaan juga berkomitmen untuk menciptakan 1.750 lapangan kerja baru hingga akhir tahun 2026.
Namun, setelah menghadapi fase peluncuran yang kurang memuaskan di pasar Amerika Serikat, VinFast secara sepihak memundurkan jadwal operasional produksi hingga tahun 2028 dengan skala yang lebih kecil. Penundaan ini memicu respons tegas dari otoritas setempat yang merasa dirugikan secara finansial.
Jaksa Agung North Carolina, Jeff Jackson, menyatakan bahwa VinFast telah melanggar kesepakatan performa kerja yang telah ditandatangani. Padahal, pemerintah daerah telah menggelontorkan anggaran sebesar Rp7,9 triliun (USD 450 juta) yang dialokasikan khusus untuk persiapan lahan, penyediaan infrastruktur transportasi, hingga pembangunan jaringan air dan pengolahan limbah.
Melalui gugatan ini, pemerintah North Carolina berupaya mengambil alih kembali lahan proyek strategis tersebut sesuai klausul perjanjian. Hak penarikan aset dilakukan agar lokasi tersebut dapat dialihkan kepada investor lain yang dinilai lebih berkomitmen dalam membangun fasilitas industri dan menyediakan lapangan pekerjaan bagi warga lokal.
Di sisi lain, manajemen VinFast menolak seluruh tuduhan pelanggaran tersebut dan mengeklaim bahwa pihaknya masih memenuhi tenggat waktu konstruksi yang disesuaikan. Pihak perusahaan memastikan bahwa fasilitas produksi tersebut tetap akan beroperasi secara komersial pada tahun 2028.
Manajemen VinFast juga berdalih bahwa perubahan kebijakan insentif pajak kendaraan listrik di Amerika Serikat menjadi pemicu utama perlambatan proyek. Hilangnya subsidi atau insentif pajak tersebut memaksa perusahaan untuk melakukan penyesuaian strategi bisnis global dalam jangka waktu yang lebih lama.