Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyiapkan langkah intervensi di pasar obligasi negara guna menstabilkan nilai tukar rupiah yang terus tertekan hingga menembus level Rp17.500 per dolar AS pada Selasa (12/5/2026). Langkah fiskal ini diambil menyusul pergerakan mata uang yang telah melampaui asumsi APBN.
Nilai tukar rupiah dilaporkan menyentuh angka Rp17.498 per dolar AS saat pembukaan perdagangan hari ini, dilansir dari Finansial. Data Tradingview menunjukkan pelemahan berlanjut hingga melewati posisi Rp17.500 pada pukul 11.50 WIB, yang menjadi catatan terburuk dalam sejarah keuangan Indonesia.
Menteri Keuangan menegaskan bahwa koordinasi dengan otoritas moneter tetap terjaga dalam menghadapi situasi ini. Namun, ia menekankan bahwa wewenang utama menjaga nilai tukar berada di tangan bank sentral.
"Itu kan Anda mesti tanya bank sentral. Tugas bank sentral hanya satu kan, menjaga stabilitas, dan kita serahkan itu ke ahlinya di sana, di bank sentral. Saya pikir mereka akan bisa mengendalikan dengan baik" ujarnya Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Penurunan nilai tukar yang signifikan ini menimbulkan kekhawatiran terhadap postur fiskal tahun berjalan, terutama pada sektor defisit anggaran. Kemenkeu sebelumnya mematok asumsi nilai tukar dalam APBN 2026 pada angka Rp16.500 per dolar AS.
Berdasarkan perhitungan sensitivitas anggaran, setiap pelemahan rupiah sebesar Rp100 per dolar AS akan berdampak pada peningkatan defisit sekitar Rp800 miliar. Guna memitigasi dampak tersebut, Kementerian Keuangan berencana membantu tugas Bank Indonesia mulai Rabu (13/5/2026).
"Kita akan mulai membantu besok, mungkin dengan masuk ke bond market [pasar obligasi]" ucap Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Skema bantuan ini nantinya akan menyerupai mekanisme dana stabilisasi obligasi melalui instrumen pembelian kembali atau buyback Surat Berharga Negara (SBN). Pemerintah akan memanfaatkan dana cadangan dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) untuk mengeksekusi rencana tersebut.
Upaya ini difokuskan untuk menahan lonjakan imbal hasil (yield) obligasi agar tetap terkendali. Penurunan yield SBN diharapkan mampu menaikkan harga obligasi sehingga mencegah pelarian modal asing dan justru menarik aliran modal masuk untuk menguatkan rupiah.
"Kita membantu BI sedikit-sedikit kalau bisa" jelas Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.