Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memutuskan untuk mengaktifkan kembali instrumen Bond Stabilization Fund (BSF) guna menjaga stabilitas pasar obligasi dan nilai tukar rupiah. Langkah ini diambil sebagai respons atas tingginya volatilitas dan arus modal keluar yang memicu kenaikan imbal hasil atau yield surat utang negara.
Dilansir dari Suara, pemerintah akan memanfaatkan dana cadangan fiskal untuk melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Kebijakan ini bertujuan untuk mengendalikan biaya utang agar tidak semakin membebani anggaran negara akibat tekanan pasar global yang terjadi baru-baru ini.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan komitmen pemerintah dalam menopang stabilitas mata uang melalui mekanisme tersebut. Ia menyampaikan bahwa intervensi ini merupakan bentuk kontribusi fiskal terhadap tantangan moneter yang ada.
"Saya akan coba bantu rupiah dengan cara saya sendiri," tegas Purbaya saat menjelaskan tentang BSF pekan lalu.
Purbaya memaparkan bahwa meskipun volume modal keluar tidak terlalu besar, dampaknya cukup signifikan mengganggu stabilitas pasar domestik. Ia optimistis keterlibatan pemerintah dapat meredam gejolak yang dialami pergerakan rupiah.
"Kalau cuma Rp1-2 triliun seharusnya kita bisa kendalikan dengan mudah. Jadi, saya akan coba ikut berkontribusi, membantu bank sentral untuk mengendalikan. Kalau bisa. Kalau tidak bisa, ya sudah," kata Purbaya.
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menjelaskan bahwa fokus utama penggunaan BSF adalah menahan lonjakan imbal hasil obligasi. Menurutnya, pemerintah memantau indikator tertentu sebelum memutuskan pengerahan dana stabilisasi tersebut.
ÔÇ£Tujuannya untuk menjaga agar yield tidak berdongkrak naik terlalu signifikan,ÔÇØ beber Juda Agung.
Mekanisme ini sebelumnya pernah diterapkan pada saat krisis keuangan global tahun 2008 dan tekanan pasar tahun 2018. Pemerintah menekankan bahwa aspek volatilitas menjadi pertimbangan utama dalam eksekusi kebijakan di pasar sekunder.
ÔÇ£Yang dilihat volatility-nya,ÔÇØ kata Juda.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menyebut kenaikan yield SBN 10 tahun cukup signifikan pada April 2026. Ia menilai BSF bisa menjadi solusi efektif apabila tekanan yang terjadi di pasar hanya bersifat teknis atau kepanikan sementara.
ÔÇ£Dalam situasi seperti itu, kehadiran pemerintah sebagai pembeli bisa membantu menghentikan kepanikan dan mengembalikan likuiditas pasar,ÔÇØ kata Yusuf.
Namun, Yusuf memberikan catatan kritis mengenai batas efektivitas instrumen ini. Ia mengingatkan bahwa BSF memiliki keterbatasan besar apabila pelemahan pasar disebabkan oleh masalah fundamental ekonomi yang lebih dalam.
ÔÇ£Tetapi saya juga harus jujur, efektivitas BSF menjadi jauh lebih terbatas kalau sumber tekanannya berasal dari fundamental,ÔÇØ kata Yusuf.
Ia juga menyarankan agar pemerintah tetap waspada terhadap penggunaan alat stabilisasi ini dalam jangka panjang. Yusuf menekankan pentingnya identifikasi risiko sebelum mengaktifkan dana cadangan tersebut secara agresif.
"Yang juga perlu diperhatikan adalah risikonya," kata Yusuf.
Sementara itu, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufikurahman mencatat bahwa Bank Indonesia telah melakukan pembelian SBN dalam jumlah besar hingga April 2026. Menurutnya, tambahan instrumen dari sisi fiskal memang diperlukan untuk meredam guncangan.
ÔÇ£Bahkan hingga April 2026, Bank Indonesia tercatat sudah membeli SBN sekitar Rp111,5 triliun untuk menjaga stabilitas pasar dan rupiah, sehingga kebutuhan instrumen stabilisasi tambahan memang mulai terlihat,ÔÇØ kata Rizal.
Rizal berpendapat bahwa kredibilitas pemerintah di mata investor tetap bergantung pada kesehatan fundamental ekonomi secara keseluruhan. Ia menegaskan bahwa intervensi pasar tidak boleh mengesampingkan penguatan basis ekonomi domestik.
ÔÇ£Karena pada akhirnya investor tetap melihat kredibilitas fiskal, stabilitas ekonomi, dan arah kebijakan pemerintah,ÔÇØ kata Rizal.
Rizal menambahkan bahwa selain melakukan intervensi, pemerintah wajib memastikan kebijakan fiskal tetap terjaga. Hal ini dilakukan untuk menghindari ketergantungan pasar pada dukungan pemerintah yang bersifat sementara.
ÔÇ£Fondasi utamanya tetap memperkuat fiskal, menjaga stabilitas rupiah, dan memperdalam pasar keuangan dan basis investor domestik,ÔÇØ kata Rizal.
Ekonom Global Markets Maybank Indonesia Myrdal Gunarto turut memberikan pandangannya terkait langkah pemerintah ini. Ia menilai inisiatif BSF menjadi bukti bahwa otoritas fiskal tidak membiarkan bank sentral bekerja sendirian dalam menjaga pasar.
ÔÇ£Kalau untuk BSF ini boleh saja, menurut saya. Ini bisa menjadi suatu solusi. Jadi tidak hanya BI yang kelihatannya terus-terusan intervensi secara aktif,ÔÇØ kata Myrdal.