Warga Pejaten Timur Keluhkan Kelambatan Pembebasan Lahan Jalan Tembus

Warga Pejaten Timur Keluhkan Kelambatan Pembebasan Lahan Jalan Tembus
Foto: Ilustrasi Warga Pejaten Timur Keluhkan Kelambatan Pembebasan Lahan Jalan Tembus.

Warga RW 007 Pejaten Timur, Pasar Minggu, menyampaikan keluhan terkait lambatnya proses pembebasan lahan untuk proyek perluasan jalan tembusan di samping rel kereta api Stasiun Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pada Kamis (23/4/2026).

Proyek ini bertujuan menghubungkan Jalan Rawajati Timur dengan Poltangan guna mengurai kemacetan menuju Tanjung Barat, namun sebagian warga tertahan karena belum menerima uang ganti rugi akibat kendala verifikasi berkas administratif, sebagaimana dilansir dari Megapolitan.

Ina, salah satu warga terdampak yang masih bertahan di kediamannya, mengungkapkan kegelisahan terkait rasa aman dan kenyamanan di lingkungan yang mulai ditinggalkan tetangganya.

"Nah bagi yang sudah lengkap ini, kita kan maunya cepet dong. Apa kendalanya? Sedangkan kami sudah tidak nyaman," ujar Ina (bukan nama sebenarnya), salah satu warga terdampak.

Ina menjelaskan bahwa kondisi rumah-rumah di sekitarnya yang sudah dibongkar memicu kekhawatiran akan potensi tindak kriminalitas pada malam hari.

"Masalahnya di kenyamanannya. Rumah tetangga saya awalnya tangganya enggak dipotong, kan ngerinya bisa nyambung ke rumah saya," kata Ina.

Hingga saat ini, Ina belum bisa mencari tempat tinggal baru karena tidak memiliki biaya untuk membayar uang muka pembelian tanah atau rumah.

"Kami tuh mau buru-burunya karena enggak nyaman," kata Ina.

Warga lain bernama Apin menuturkan bahwa instruksi pengosongan lahan memperbolehkan warga mengambil material bangunan yang masih layak pakai secara mandiri.

"Perintahnya mengosongkan aja, sekaligus barang yang bisa diambil, ambil aja. Iya kalau kayak misalkan kusen rangka pintu nih pintu yang masih bagus kalau bisa dipakai ambil-ambil aja gitu. Ada kalau enggak salah ada ÔÇÿsilakan dibongkar sendiriÔÇÖ gitu." kata Apin, warga terdampak.

Apin berharap pemerintah segera menuntaskan pembayaran agar warga yang terdampak memiliki kepastian untuk segera pindah dari lokasi tersebut.

"Jadi biar warga nih enggak bimbang, mau pergi ke mana nggak ada uangnya, nungguin uang gusuran. Kalau sudah dibayar kami juga tenang mau pergi juga mau diusir kayak gimana kami siap. Kalau kayak gini setengah udah dibayar, sebelah rumah juga belum," tutur Apin.

Amira, warga lainnya, menyebutkan bahwa rencana pelebaran jalan ini sebenarnya sudah ada sejak lama untuk mempermudah mobilisasi kendaraan dari arah Kalibata yang sering mengalami kemacetan parah.

"Nah dia kan butuh akses mobilisasi yangcepat. Nah karena di situ parah banget nih macetnya, itu bisa satu dua jam, makanya mereka minta ada jalan tembusan untuk aksesnya bisa lebih gampang," jelas Amira.

Kepala Pusat Data dan Informasi Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Siti Dinar Wenny, memberikan penjelasan resmi mengenai perkembangan proyek pengadaan tanah tersebut.

"Adapun pembangunan akan dilanjutkan setelah proses pembebasan lahan selesai. Saat ini, tahapan pengadaan tanah masih berlangsung di Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Selatan," kata Wenny, Kepala Pusat Data dan Informasi Dinas Bina Marga DKI Jakarta.

Berdasarkan data Dinas Bina Marga, saat ini baru 59 dari total 118 bidang tanah yang telah berhasil dibebaskan, termasuk delapan bidang yang merupakan milik negara.

Artikel terkait

Rekomendasi