Pembangunan gedung pencakar langit kembar Indonesia 1 yang berlokasi di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, kini telah memasuki babak akhir. Proyek ini sempat tertunda cukup lama akibat sengketa kepemilikan yang melibatkan dua pihak besar.
Dilansir dari Kompas, proyek ambisius ini mencakup berbagai fasilitas seperti ruang perkantoran, area ritel, hingga apartemen. Hunian vertikal yang berada di kompleks tersebut dijadwalkan mulai beroperasi pada tahun 2029.
Indonesia 1 akan menawarkan sekitar 140 unit apartemen mewah bagi pasar properti di pusat ibu kota. Kehadiran unit-unit ini diprediksi menjadi tambahan pasokan yang signifikan bagi sektor apartemen strata di kawasan Jakarta Pusat.
Meskipun pasokan unit baru mulai bermunculan, kondisi pasar apartemen di Jakarta dinilai masih menghadapi tantangan besar dalam hal daya serap. Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, memberikan pandangannya terkait situasi ini.
"Secara keseluruhan, pasar apartemen Jakarta masih berada dalam fase pemulihan yang lambat. Pengembang kini lebih berhati-hati dalam menentukan waktu peluncuran proyek baru untuk memastikan unit mereka terserap oleh pasar yang kian selektif," ujar Ferry.
Kondisi pasar yang masih pulih secara perlahan membuat para pelaku usaha lebih waspada. Mereka berupaya menyesuaikan momentum peluncuran dengan tingkat permintaan konsumen yang kini semakin teliti dalam memilih hunian.
Sejarah Sengketa di Jantung Jakarta
Perjalanan proyek Indonesia 1 memiliki sejarah yang panjang dan berliku. Gedung dengan nilai investasi mencapai Rp 8 triliun ini sebelumnya diresmikan melalui proses ground breaking oleh Joko Widodo (Jokowi).
Awalnya, proyek ini merupakan hasil kolaborasi antara Media Group melalui PT Surya Indonesia Satu Properti dengan raksasa energi China Sonangol. Kerja sama tersebut kemudian melahirkan entitas bersama bernama China Sonangol Media Investment (CSMI).
Konflik internal mulai pecah saat Media Group mengeklaim adanya wanprestasi terkait kepemilikan saham. Pihak China Sonangol dituding tidak memenuhi komitmen investasi yang telah disepakati sebelumnya dalam perjanjian bisnis mereka.
Perselisihan ini akhirnya berlanjut ke ranah hukum dan memaksa aktivitas konstruksi gedung setinggi 303 meter itu berhenti total. Selama beberapa tahun, bangunan yang belum rampung tersebut sempat menjadi pemandangan yang terbengkalai di pusat kota.
Restrukturisasi dan Target Operasional
Kelanjutan proyek ini baru menemui titik terang setelah melalui proses negosiasi dan restrukturisasi kepemilikan yang cukup rumit. Masuknya investor baru memberikan stabilitas keuangan untuk melanjutkan konstruksi yang kini mencapai penyelesaian struktur akhir.
"Sebanyak 140 unit apartemen yang disiapkan dirancang untuk menyasar segmen pasar kelas atas," tutur Ferry.
Fokus utama saat ini adalah merampungkan aspek fisik dan fasilitas pendukung gedung. Lokasi yang strategis karena berdekatan dengan Stasiun MRT Bundaran HI menjadi nilai jual utama bagi calon penghuni yang mencari aksesibilitas tinggi.
Pengoperasian pada tahun 2029 dipandang sebagai momentum yang tepat. Hal ini sejalan dengan proyeksi pemulihan ekonomi nasional serta harapan akan terciptanya stabilitas politik yang lebih matang di masa depan.
Namun, pengembang tetap harus memperhitungkan persaingan dari gedung-gedung baru lainnya di koridor Sudirman-Thamrin. Terdapat beberapa proyek kompetitor seperti Two Sudirman yang merupakan kolaborasi Taspen Properti, Mitsubishi Estate, dan Benhil Property.
Selain itu, terdapat juga proyek Two Senopati Tower 1 besutan Asiana Group. Lokasi proyek tersebut cukup kompetitif karena berada sangat dekat dengan pusat bisnis utama di Sudirman Central Business District (SCBD).