Ilmuwan kosmetik Julian Sass mengungkapkan temuan mengejutkan mengenai peredaran produk pelindung matahari atau sunscreen yang diduga memalsukan klaim SPF. Investigasi ini viral setelah pengujian laboratorium menunjukkan produk dengan label SPF 45 ternyata hanya memiliki kandungan perlindungan riil sebesar SPF 3,6.
Dilansir dari Wolipop, temuan ini bermula dari kecurigaan Sass terhadap tekstur produk yang transparan dan komposisi bahan yang dianggap tidak lazim. Produk tersebut diketahui tidak mengandung bahan aktif pelindung matahari standar seperti zinc oxide, sehingga gagal memberikan proteksi dari radiasi UV A dan UV B.
"Ini bukan produk dengan perlindungan spektrum luas sehingga tidak bisa melindungi dari sinar UV A penyebab penuaan dini dan kanker kulit. Dalam komposisinya bahkan tidak tercantum bahan perlindungan matahari," ujar Dr. Sass, ilmuwan kosmetik.
Penelitian lebih lanjut menggunakan kamera UV dan uji in vitro mengonfirmasi bahwa efektivitas produk tersebut sangat rendah. Kondisi ini sangat berisiko karena penggunaan sunscreen yang tidak memadai dapat memicu pertumbuhan sel kulit abnormal hingga kanker kulit seperti melanoma.
Fenomena pemalsuan ini sering menyasar merek populer asal Korea Selatan, seperti Beauty of Joseon dan Round Lab. Produk palsu biasanya memiliki tekstur menyerupai pasta yang sulit dibaurkan, kemasan berbahan aluminium foil berkualitas rendah, serta tidak mencantumkan tanggal kedaluwarsa secara jelas.
"Jika terlalu bagus untuk menjadi kenyataan, kemungkinan memang tidak asli," ujar Paul Banwell, ahli kanker kulit dari Banwell Clinic.
Banwell menyarankan konsumen untuk tidak mudah tergiur dengan harga murah yang tidak masuk akal. Pembelian melalui kanal resmi atau toko yang telah terverifikasi menjadi langkah pencegahan utama untuk menghindari risiko kerusakan DNA akibat paparan sinar ultraviolet.