Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang ditutup melemah 115 poin ke level Rp 17.529 pada Selasa (12/5/2026) diperkirakan akan semakin menekan saham sektor perbankan dan consumer goods di Bursa Efek Indonesia. Kondisi pasar spot yang terpuruk ini dilansir dari Money memicu kekhawatiran pelaku pasar akan potensi pelemahan lanjutan hingga mendekati level Rp 18.000 per dollar AS.
Pengamat Pasar Modal Reydi Octa menjelaskan bahwa kerentanan paling tinggi dialami oleh emiten dengan beban utang dalam mata uang dollar AS serta perusahaan yang bergantung pada impor bahan baku. Kenaikan biaya operasional akibat kurs ini secara otomatis akan menggerus margin laba bersih perusahaan-perusahaan tersebut.
ÔÇ£Sektor yang paling rentan adalah emiten dengan utang dollar besar dan ketergantungan impor tinggi, consumer goods berbasis bahan baku impor, hingga emiten dengan capex dollar tinggi. Pelemahan rupiah langsung menekan margin dan beban bunga mereka,ÔÇØ ujar Reydi Octa, Pengamat Pasar Modal.
Berbanding terbalik dengan sektor konsumsi, emiten berbasis komoditas dan ekspor seperti batu bara, nikel, dan crude palm oil (CPO) justru berpotensi mendapatkan keuntungan. Hal ini disebabkan pendapatan mereka dalam dollar AS akan menghasilkan nilai konversi rupiah yang jauh lebih besar.
ÔÇ£Emiten yang diuntungkan biasanya berbasis ekspor dan komoditas seperti batu bara, CPO, nikel, serta perusahaan dengan pendapatan dollar AS,ÔÇØ paparnya.
Sementara itu, Investment Specialist PT Korea Investment dan Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris MuÔÇÖtashim, menyoroti dampak negatif pada sektor finansial. Saham perbankan yang memiliki bobot kepemilikan asing cukup tinggi menjadi sangat volatil karena adanya potensi penyesuaian portofolio oleh institusi global.
ÔÇ£Perbankan cenderung merespons negatif, karena spread kurs akan memaksa rebalancing bagi institusi asing yang memiliki weighting besar di saham perbankan,ÔÇØ tukas Ahmad Faris MuÔÇÖtashim, Investment Specialist PT Korea Investment dan Sekuritas Indonesia (KISI).
Selain sektor energi, industri pulp juga dinilai memiliki daya tahan yang baik karena struktur pendapatannya yang didominasi oleh mata uang asing.
ÔÇ£Selain sektor energi, sektor pulp juga menjadi salah satu yang menarik karena revenue perusahaan dalam bentuk dollar AS,ÔÇØ lanjut dia.
Meskipun terdapat potensi terjadinya aksi jual mendadak atau panic selling akibat ketidakpastian nilai tukar, fundamental perbankan nasional saat ini dianggap masih jauh lebih kokoh dibandingkan periode krisis sebelumnya. Faris memprediksi bahwa area indeks pada level 6.800 hingga 6.900 akan menjadi batas bawah yang kuat secara teknikal.
ÔÇ£Jika dilihat dari price action, area 6.800-6.900 susah ditembus, artinya downside mulai terbatas. Sell shock mungkin akan terjadi pada rebalancing MSCI yang dinantikan pelaku pasar, namun setelah itu akan terjadi reversal price,ÔÇØ katanya.
Sentimen pasar diperkirakan tetap sensitif terhadap fluktuasi kurs dan faktor eksternal dalam jangka pendek.
ÔÇ£Pelemahan rupiah memang berpotensi memicu panic selling jangka pendek, tetapi kondisinya belum tentu separah krisis sebelumnya karena fundamental perbankan saat ini relatif lebih kuat. Namun volatilitas IHSG pasti meningkat karena sentimen pasar menjadi sangat sensitif,ÔÇØ tukas Reydi Octa, Pengamat Pasar Modal.