Pelemahan Rupiah Berpotensi Picu Kenaikan Bunga Kredit Perbankan

Pelemahan Rupiah Berpotensi Picu Kenaikan Bunga Kredit Perbankan
Foto: Ilustrasi Pelemahan Rupiah Berpotensi Picu Kenaikan Bunga Kredit Perbankan.

Nilai tukar rupiah yang terus melemah memicu kekhawatiran masyarakat terhadap potensi kenaikan bunga kredit perbankan pada Jumat (15/5/2026). Dilansir dari Money, kondisi ini berisiko memperberat beban cicilan konsumsi seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Kendaraan Bermotor (KKB), khususnya bagi debitur pengguna skema bunga mengambang.

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual, menjelaskan bahwa tren pelemahan mata uang biasanya diikuti oleh kenaikan suku bunga acuan. Penyesuaian tersebut nantinya akan merembet pada bunga simpanan dan bunga kredit yang disalurkan perbankan kepada nasabah.

"Jika rupiah kecenderungan terus melemah, suku bunga jg cenderung meningkat. Kalau cicilan bunganya variabel, maka potensi pembayaran bunga cicilan bisa naik," ujar David Sumual, Kepala Ekonom BCA.

David menambahkan bahwa BI rate kemungkinan tetap bertahan di level 4,75 persen selama inflasi berada di bawah ambang 4 persen. Meskipun inflasi April 2026 turun menjadi 2,42 persen, risiko kenaikan bunga tetap terbuka jika gejolak geopolitik Timur Tengah mendorong harga energi global.

"Kalau inflasi naik ke kisaran 4 persen di Semester II, BI rate naik kisaran 50 bps," kata David Sumual.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menyebutkan bahwa risiko kenaikan bunga kredit lebih terbuka dalam jangka menengah. Meskipun likuiditas perbankan saat ini masih cukup dengan Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) sebesar 8,63 persen pada Februari 2026, tekanan rupiah yang lama dapat mengubah arah kebijakan tersebut.

"Tekanan rupiah yang berkepanjangan dapat mengubah arah ini. Jika BI harus menaikkan suku bunga atau bank mulai menaikkan bunga simpanan untuk menjaga dana pihak ketiga, maka biaya dana bank akan naik dan pada akhirnya bisa diteruskan ke bunga kredit," ungkap Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata.

Josua mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai kenaikan biaya hidup yang dipicu pelemahan rupiah, seperti harga barang impor dan logistik. Hal ini dinilai akan memperkecil porsi pendapatan masyarakat yang tersedia untuk membayar kewajiban cicilan setiap bulannya.

"Jadi pelemahan rupiah ke sekitar Rp 17.500 per dollar AS tidak langsung membuat seluruh cicilan masyarakat naik," ucap Josua Pardede.

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky, berpendapat dampak pelemahan rupiah belum dirasakan secara langsung oleh masyarakat saat ini. Menurutnya, efek baru akan timbul jika inflasi mulai menggerus daya beli dan melemahkan kemampuan bayar debitur.

"Belum tentu (bunga kredit naik), sejauh ini BI belum menaikkan suku bunga," tegas Teuku Riefky, Ekonom LPEM FEB UI.

Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia, Trioksa Siahaan, turut memaparkan bahwa kenaikan bunga kredit merupakan instrumen stabilisasi nilai tukar. Kenaikan beban cicilan masyarakat menjadi konsekuensi logis dari langkah menstabilkan mata uang Garuda.

"Sehingga bebannya bertambah yang dapat mempengaruhi cicilan masyarakat," imbuh Trioksa Siahaan, Senior Vice President LPPI.

Trioksa menekankan bahwa jika tekanan terhadap nilai tukar rupiah terus berlanjut, perbankan tidak akan memiliki banyak pilihan selain menyesuaikan bunga kredit.

"Untuk menstabilkan nilai rupiah salah satunya dengan menaikkan suku bunga acuan yg dapat berdampak pada kenaikan bunga kredit," tukas Trioksa Siahaan.

Artikel terkait

Rekomendasi