Nilai tukar rupiah yang menembus level Rp 17.510 per dolar AS pada perdagangan intraday Selasa (12/5/2026) dilaporkan semakin menekan sektor dunia usaha di Indonesia. Dilansir dari Investor Daily, kondisi ini memicu lonjakan biaya produksi dan mengganggu rencana ekspansi perusahaan akibat ketergantungan pada bahan baku impor.
Data Bloomberg menunjukkan mata uang Garuda melemah 0,6 persen dari posisi sebelumnya, yang kini telah melampaui asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar Rp 16.500. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta W. Kamdani, menjelaskan bahwa situasi ini merupakan guncangan eksternal bagi struktur biaya industri.
Shinta menyoroti bahwa sekitar 70 persen bahan baku manufaktur masih berasal dari luar negeri, sehingga fluktuasi kurs berdampak sangat signifikan.
"Dengan demikian, setiap depresiasi rupiah akan langsung tercermin dalam peningkatan biaya input dalam rupiah," ujar Shinta, Selasa (12/5/2026).
Ketua Umum Apindo tersebut menambahkan bahwa sektor petrokimia, farmasi, serta makanan dan minuman menjadi bidang yang paling terdampak. Ia mencontohkan kenaikan harga nafta telah mendorong lonjakan harga resin plastik hingga puluhan persen.
"Situasi ini menunjukkan adanya cost-push inflation pressure yang tidak hanya terbatas pada satu sektor, tetapi memiliki efek transmisi yang luas ke seluruh rantai pasok," imbuh Shinta.
Kenaikan dolar AS juga memperberat kewajiban pembayaran utang valuta asing bagi korporasi. Di sisi lain, pengusaha mengalami kesulitan dalam menyesuaikan harga jual karena daya beli masyarakat yang masih dalam tahap pemulihan.
"Dalam kondisi daya beli yang belum sepenuhnya pulih, ruang untuk melakukan penyesuaian harga juga terbatas, sehingga sebagian tekanan biaya harus diserap oleh pelaku usaha. Ini yang kemudian menekan margin dan memengaruhi keputusan ekspansi maupun penyerapan tenaga kerja," kata Shinta.
Menurut analisis Apindo, faktor global seperti kenaikan yield US Treasury dan konflik geopolitik di Timur Tengah menjadi penyebab utama aliran modal keluar. Meskipun Bank Indonesia mempertahankan suku bunga di level 4,75 persen, Shinta menilai perlunya koordinasi kebijakan yang lebih menyeluruh.
"Pelemahan nilai tukar rupiah yang saat ini bahkan telah menyentuh level psikologis baru di Rp 17.300 per dolar AS tentu menjadi perhatian bagi dunia usaha, dan perlu direspons secara serius dan terkoordinasi karena secara paralel terus menciptakan level baru all-time low," tutup Shinta.