Deloitte Ungkap Pekerjaan Sampingan Jadi Strategi Finansial Milenial dan Gen Z

Deloitte Ungkap Pekerjaan Sampingan Jadi Strategi Finansial Milenial dan Gen Z
Foto: Ilustrasi Deloitte Ungkap Pekerjaan Sampingan Jadi Strategi Finansial Milenial dan Gen Z.

Pekerjaan sampingan atau side job kini bertransformasi menjadi strategi krusial bagi generasi milenial dan Gen Z untuk mempertahankan stabilitas finansial mereka. Tekanan biaya hidup yang terus melonjak memaksa kedua generasi ini mencari penghasilan tambahan sekaligus mengasah keterampilan baru demi masa depan karier mereka.

Berdasarkan laporan 2026 Gen Z and Millennial Survey yang dirilis Deloitte, seperti dikutip dari Money, hampir 30 persen Gen Z dan sekitar 25 persen milenial memiliki pekerjaan sampingan, baik paruh waktu maupun penuh waktu, di luar pekerjaan utama.

Biaya hidup yang tinggi menjadi pemicu utama fenomena ini, yang tercatat sebagai kekhawatiran terbesar selama lima tahun berturut-turut. Sebanyak 38 persen Gen Z dan 42 persen milenial menempatkan isu ini di atas masalah pengangguran, perubahan iklim, serta situasi geopolitik.

Tekanan keuangan juga memaksa lebih dari separuh responden menunda keputusan besar dalam hidup mereka. Sebanyak 55 persen Gen Z dan 52 persen milenial mengaku menunda rencana pernikahan, membangun keluarga, membuka usaha, atau melanjutkan pendidikan.

Laporan Deloitte menegaskan bahwa faktor ekonomi menjadi motif paling umum di balik keputusan mengambil pekerjaan sampingan. Sebanyak 44 persen Gen Z dan 48 persen milenial yang melakoni side job mengaku didorong oleh kebutuhan finansial.

Kondisi ekonomi sehari-hari para responden memang menunjukkan tekanan yang nyata. Deloitte mencatat bahwa 47 persen Gen Z dan milenial saat ini hidup dari gaji ke gaji, sementara 34 persen lainnya kesulitan memenuhi kebutuhan bulanan.

Sektor properti juga menghadirkan tantangan besar, di mana 51 persen Gen Z dan 40 persen milenial merasa tidak mampu membeli rumah tinggal. Salah satu responden survei bernama Rukaya membagikan pengalaman pribadinya terkait situasi ini.

"Suami saya dan saya sama-sama berpenghasilan lebih dari enam digit, tetapi daya beli kami sekarang dibandingkan beberapa tahun lalu sama sekali tidak sama. Pendapatan kami memang meningkat, tetapi gagasan untuk bisa membeli rumah sama sekali tidak mungkin dengan suku bunga dan hal-hal semacam itu," kata Rukaya dalam laporan Deloitte.

Kesulitan yang sama juga diutarakan oleh responden lain bernama Mel mengenai lonjakan harga kebutuhan pokok dan properti.

"Kekhawatiran utama saya adalah biaya hidup. Harga rumah telah meningkat begitu pesat, terutama untuk mendapatkan rumah di lingkungan yang bagus dan aman hampir tidak terjangkau," ujar Mel.

Pengembangan Diri dan Pergeseran Paradoks Karier

Meskipun uang menjadi faktor penggerak utama, pekerjaan sampingan juga berfungsi sebagai sarana pengembangan diri bagi generasi muda. Lebih dari sepertiga Gen Z dan milenial memanfaatkan side job untuk mengasah keterampilan penting dan memperluas jaringan relasi.

Sekitar 30 persen responden menganggap pekerjaan tambahan tersebut sebagai hobi, sedangkan seperempat lainnya menggunakannya sebagai wadah berkontribusi positif bagi komunitas. Hal ini menandakan pergeseran cara pandang dalam melihat kesuksesan karier.

Generasi muda kini lebih memprioritaskan fleksibilitas, keseimbangan hidup, dan peluang belajar baru ketimbang promosi jabatan yang cepat. Dalam survei tersebut, 44 persen Gen Z dan 45 persen milenial lebih memilih pertumbuhan karier yang stabil.

Hanya 25 persen Gen Z dan 21 persen milenial yang mengincar kenaikan jabatan kilat. Bahkan, sekitar 20 persen responden rela melakukan perpindahan lateral atau menerima posisi lebih rendah demi meraih pengalaman berharga untuk jangka panjang.

Perubahan orientasi ini juga dikonfirmasi oleh Megan Korns Russell, seorang integrated marketing and communications executive sekaligus adjunct professor di Texas Christian University dan University of Dallas.

"Generasi Milenial dan Gen Z sangat menginginkan kesempatan untuk memiliki kehidupan yang utuh, yang bukan hanya tentang meniti karier di perusahaan. Mereka menghargai kesejahteraan," ujar Russell.

Ketakutan Terhadap Burnout di Tempat Kerja

Enggannya generasi muda mengejar posisi kepemimpinan dalam waktu dekat menjadi bukti lain dari pergeseran nilai kerja ini. Data Deloitte mendapati hanya 6 persen Gen Z dan milenial yang menargetkan posisi pemimpin sebagai sasaran utama karier mereka saat ini.

Stres dan burnout menjadi benteng terbesar yang menghalangi mereka, di mana hal ini diakui oleh 50 persen Gen Z dan 49 persen milenial. Beban tanggung jawab yang terlalu besar juga dikeluhkan oleh 50 persen Gen Z dan 48 persen milenial.

Faktor work-life balance atau keseimbangan hidup juga menjadi pertimbangan, dengan 41 persen Gen Z dan 46 persen milenial enggan memimpin karena takut kehilangan waktu pribadi. Kendati demikian, bukan berarti ambisi mereka sepenuhnya padam.

Sebanyak 76 persen Gen Z dan 67 persen milenial tetap berminat menduduki posisi senior leadership di masa depan, asalkan sistem kerjanya lebih berkelanjutan. Pola kepemimpinan masa depan ini dijabarkan oleh Mike Canning, Global Chief Strategy Officer Deloitte Global.

"Peran kepemimpinan masih menarik, tetapi perlu menawarkan fleksibilitas," ujar Canning.

Fokus pada Adaptabilitas dan Pemanfaatan AI

Menghadapi ketidakpastian ekonomi global, kemampuan adaptasi menjadi modal utama bagi milenial dan Gen Z agar tetap kompetitif. Karakteristik yang paling banyak dimiliki responden meliputi etos kerja, kolaborasi, empati, adaptabilitas, serta pemikiran kritis.

Sebaliknya, kemampuan yang paling ingin mereka asah ke depan adalah public speaking, kepemimpinan, literasi AI, komunikasi, dan kreativitas. Penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) juga semakin melekat, dengan 74 persen pekerja muda mengintegrasikannya dalam rutinitas kerja sehari-hari.

Pemanfaatan AI mencakup analisis data, pembuatan konten, hingga pencarian saran karier. Tercatat 79 persen responden memakai AI untuk memetakan peluang belajar, sementara lebih dari 70 persen menggunakannya sebagai penasihat karier.

Kombinasi antara tekanan finansial, disrupsi teknologi, dan proteksi diri terhadap burnout membuat generasi muda lebih berhati-hati dalam melangkah. Pekerjaan sampingan pun hadir sebagai instrumen penyelamat stabilitas sekaligus pembuka opsi karier di masa mendatang.

Survei tahunan edisi ke-15 ini melibatkan lebih dari 22.500 responden dari 44 negara. Deloitte mendefinisikan Gen Z sebagai kelompok yang lahir pada 1995 hingga 2007, sedangkan milenial lahir pada rentang tahun 1983 hingga 1994.

Artikel terkait

Rekomendasi