Pekerja Jakarta Pilih Warkop saat Tanggal Tua Demi Tekan Pengeluaran

Pekerja Jakarta Pilih Warkop saat Tanggal Tua Demi Tekan Pengeluaran
Foto: Ilustrasi Pekerja Jakarta Pilih Warkop saat Tanggal Tua Demi Tekan Pengeluaran.

Sejumlah warung kopi di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, mengalami lonjakan kunjungan dari berbagai kalangan pekerja menjelang akhir bulan pada Senin (4/5/2026). Fenomena ini dipicu oleh strategi penghematan anggaran harian para buruh urban di tengah tekanan biaya hidup menjelang hari gajian, sebagaimana dilansir dari Megapolitan.

Mulyadi, pemilik sebuah warkop berukuran 4x3 meter di Kebon Sirih, mengonfirmasi bahwa unit usahanya selalu dipadati pelanggan saat memasuki periode tanggal tua. Para pekerja lebih memilih menu terjangkau di warungnya dibandingkan menghabiskan uang di kafe-kafe modern yang lebih mahal.

ÔÇ£Kalau udah tanggal tua, biasanya makin ramai. Orang lebih pilih warkop daripada jajan mahal,ÔÇØ kata Mulyadi saat ditemui Kompas.com di warkop miliknya, Senin (4/5/2026).

Ia menambahkan bahwa selisih harga yang signifikan menjadi daya tarik utama bagi para pelanggan tetapnya yang ingin bertahan hidup dengan sisa anggaran bulanan mereka.

ÔÇ£Kalau di kafe sekali duduk bisa habis Rp 50.000. Di sini uang segitu bisa buat dua hari, bisa ngopi, bisa makan,ÔÇØ ujar Mulyadi.

Mulyadi menjelaskan bahwa konsumennya tetap berkunjung ke kafe modern, namun hanya pada waktu tertentu seperti akhir pekan atau setelah menerima upah bulanan.

ÔÇ£Mereka itu bukan enggak pernah ke kafe. Tapi ke kafe paling pas weekend atau pas gajian. Kalau tiap hari, ya mereka baliknya ke sini,ÔÇØ kata dia.

Interaksi sosial di warkop juga sangat beragam, mulai dari pegawai kantor beridentitas resmi hingga pengemudi transportasi daring yang saling membaur dalam percakapan.

ÔÇ£Kadang saya lihat lucu juga. Di sini bisa ada pegawai kantor pakai ID card, sebelahnya tukang parkir, sebelahnya ojol. Tapi ngobrolnya nyambung,ÔÇØ kata Mulyadi.

Warung kopi tersebut juga berfungsi sebagai pusat pertukaran informasi informal mengenai situasi lalu lintas maupun keamanan di area perkotaan.

ÔÇ£Di sini tuh cepat tahu kabar. Ada razia, ada demo, ada macet, semua duluan nyampe ke sini. Jadi kayak pusat informasi kecil,ÔÇØ tutur dia.

Kondisi serupa terjadi di Warkop Pak Marno yang dikelola oleh H. Sumarno, di mana pelanggan mencari stabilitas harga menu yang tetap rendah meski ekonomi bergerak dinamis.

ÔÇ£Kopi di sini Rp 5.000. Teh manis Rp 4.000. Gorengan Rp 2.000. Indomie sekitar Rp 10.000. Kalau di kafe kan bisa puluhan ribu,ÔÇØ ujar Sumarno.

Sumarno berpendapat bahwa keterbatasan penghasilan harian memaksa banyak profesi lapangan untuk bersikap lebih realistis dalam memilih tempat beristirahat.

ÔÇ£Banyak yang penghasilannya harian. Ojol, satpam, pekerja lepas. Kalau nongkrong di kafe tiap hari ya enggak kuat,ÔÇØ kata dia.

Pola konsumsi pelanggan saat akhir bulan cenderung bergeser pada durasi waktu duduk yang lebih lama namun dengan pesanan menu yang sangat mendasar.

ÔÇ£Mau duduk lama juga enggak masalah. Di sini yang penting pesan, ngobrol, santai,ÔÇØ ucap dia.

Sumarno menekankan pentingnya keberadaan ruang publik murah seperti warkop di tengah masifnya pembangunan kafe estetis di ibu kota.

ÔÇ£Kalau semua jadi kafe estetik, nanti yang cari kopi murah gimana? Yang mau istirahat sebentar gimana? Masa semua harus mahal,ÔÇØ ujar Sumarno.

Ia menaruh harapan agar kebijakan penataan kota ke depan tetap memberikan ruang hidup bagi pedagang kecil dan tidak hanya berfokus pada keindahan visual semata.

ÔÇ£Kalau ditata saya setuju, tapi jangan digusur. Kasih tempat yang jelas. Karena ini cari makan,ÔÇØ ucapnya.

Arief, seorang staf administrasi di perusahaan konsultan, mengakui bahwa warkop menjadi solusi praktis saat jam makan siang terutama ketika kondisi keuangan mulai menipis.

ÔÇ£Kalau kafe itu biasanya Sabtu atau Minggu, karena sekalian ketemu teman. Kalau weekday enggak mungkin tiap hari, mahal juga,ÔÇØ kata Arief saat ditemui.

Arief beranggapan bahwa kepraktisan dan kecepatan penyajian di warkop lebih menunjang rutinitasnya sebagai pekerja kantoran dengan waktu terbatas.

ÔÇ£Kalau jam makan siang kan mepet. Di warkop tinggal duduk, pesan kopi sama gorengan atau mie, enggak ribet,ÔÇØ ujar dia.

Baginya, terdapat perbedaan fungsi yang jelas antara mengunjungi kafe modern dengan mampir ke warung kopi pinggir jalan.

ÔÇ£Kafe itu buat suasana, buat healing kecil-kecilan. Kalau warkop itu buat kebutuhan sehari-hari,ÔÇØ ucap Arief.

Nadya, seorang customer service perbankan, turut menyatakan bahwa faktor rasionalitas keuangan menjadi alasan utama untuk lebih memilih warkop saat hari kerja.

ÔÇ£Saya suka kafe karena nyaman dan biasanya tempatnya bagus. Tapi saya paling ke kafe pas weekend aja, enggak tiap hari,ÔÇØ ujar Nadya.

Deri, seorang teknisi lapangan, menganggap warkop sebagai tempat beristirahat yang fleksibel di tengah mobilitasnya yang tinggi di wilayah Jakarta.

ÔÇ£Kalau kafe itu paling pas weekend atau pas lagi senggang. Kalau hari kerja saya lebih sering ke warkop karena praktis,ÔÇØ kata Deri.

Selain faktor ekonomi, Deri merasakan kemudahan dalam membangun koneksi sosial di warkop yang terkadang memberinya peluang kerja baru.

ÔÇ£Kalau di warkop itu gampang ngobrol sama orang. Kadang bisa dapat info kerjaan juga. Kalau kafe kan orang cenderung sibuk sendiri,ÔÇØ kata Deri.

Hendra, seorang sopir pribadi, menyatakan bahwa warkop adalah tempat yang paling ideal untuk menunggu jam tugasnya karena suasananya yang tidak menuntut.

ÔÇ£Saya kalau nunggu majikan atau nunggu jemputan ya pasti ke warkop. Udah kebiasaan. Di sini bisa ngopi, bisa ngobrol, enggak kerasa waktunya,ÔÇØ ujar Hendra.

Kebutuhan akan kesederhanaan menjadi alasan utama bagi para pekerja seperti Hendra untuk tetap setia menjadi pelanggan warung kopi konvensional.

ÔÇ£Kalau kafe itu bagus, tapi buat saya enggak mungkin tiap hari. Saya butuh yang sederhana. Warkop ini udah paling pas,ÔÇØ katanya.

M. Rizal Taufikurahman dari Indef memberikan pandangan ekonomi bahwa daya tahan warkop berasal dari struktur biayanya yang rendah dan kedekatan dengan konsumen harian.

ÔÇ£Dalam kondisi daya beli tertekan, warkop menjadi pilihan rasional karena menawarkan harga murah, akses mudah, dan fungsi sosial tanpa biaya tambahan,ÔÇØ kata Rizal saat dihubungi.

Rizal juga mengidentifikasi bahwa segmentasi pasar antara warkop dan kafe modern kini terlihat semakin kontras dalam dinamika ekonomi urban.

ÔÇ£Warkop menyasar konsumen sensitif harga, sementara kafe menyasar konsumen dengan willingness to pay lebih tinggi,ÔÇØ kata Rizal.

Menurut analisisnya, tren konsumsi di kafe masa kini telah bergeser menjadi konsumsi simbolik yang tidak hanya mencari kualitas produk.

ÔÇ£Konsumen tidak hanya membeli kopi, tetapi juga identitas sosial, estetika, dan pengalaman,ÔÇØ ujar dia.

Artikel terkait

Rekomendasi