Pegiat Pangan Dorong Pemulihan Kepercayaan Diri terhadap Konsumsi Pangan Lokal

Pegiat Pangan Dorong Pemulihan Kepercayaan Diri terhadap Konsumsi Pangan Lokal
Foto: Ilustrasi Pegiat Pangan Dorong Pemulihan Kepercayaan Diri terhadap Konsumsi Pangan Lokal.

Masyarakat di berbagai daerah Indonesia dilaporkan mengalami penurunan kepercayaan diri untuk menyajikan pangan lokal non-beras seperti singkong dan sagu akibat konstruksi sosial masa lalu. Fenomena tersebut dibahas oleh para ahli dalam acara Raksa Loka Fest 2026 pada Sabtu (23/5), sebagaimana dilansir dari Suara.

Penurunan nilai pangan lokal ini dinilai terjadi akibat adanya anggapan bahwa beras merupakan simbol kemakmuran, sementara komoditas lain diidentikkan dengan kemiskinan. Kondisi tersebut memicu pergeseran pola konsumsi masyarakat desa yang kini lebih memilih produk pangan kemasan modern.

Jurnalis sekaligus pegiat pangan lokal Ahmad Arif menjelaskan bahwa pandangan rendah terhadap pangan non-beras terbentuk melalui proses sejarah yang panjang. Kebijakan pangan sejak zaman penjajahan dinilai turut mengikis rasa percaya diri komunitas lokal terhadap hasil bumi mereka sendiri.

"Ini terkait dengan kekuasaan yang sudah lama, dimulai sebenarnya sejak era Belanda bahkan. Saya selalu billing, ini adalah praktik gastro-colonialism, penjajahan terhadap perut," kata Ahmad Arif, jurnalis sekaligus pegiat pangan lokal.

Intervensi kebijakan pangan modern dinilai membuat masyarakat secara perlahan mengadopsi beras sebagai standar pangan yang lebih maju. Di sisi lain, tantangan serupa juga ditemukan di tingkat akar rumput terkait kebiasaan konsumsi harian warga desa.

Aktivis desa Zadrakh Mengge menyatakan bahwa warga di daerah pedesaan kini justru lebih gemar membeli makanan olahan di warung ketimbang memanfaatkan hasil kebun sendiri. Masalah utama yang dihadapi saat ini adalah mengembalikan kebanggaan masyarakat terhadap pangan lokal.

"Kita ke desa, sekarang yang dicari justru ke kios untuk membeli biskuit. Padahal mereka punya singkong rebus, tetapi tidak mau menyajikannya karena malu," ujar Zadrakh Mengge, aktivis desa.

Perubahan pola konsumsi ini berisiko mengancam ketahanan pangan nasional, padahal Indonesia memiliki keragaman sumber karbohidrat melimpah seperti talas dan ubi. Selain masalah gengsi sosial, keberlanjutan pangan lokal juga terancam oleh terputusnya transfer pengetahuan antargenerasi.

Gastronom dan peneliti pangan lokal Mei Batubara menyoroti pudarnya proses pewarisan pengetahuan cara mengolah pangan lokal di lingkungan keluarga. Generasi muda saat ini dinilai semakin menjauh dari aktivitas pertanian dan pengenalan tanaman pangan tradisional.

"Anak-anak sekarang tidak lagi ikut orang tua ke kebun atau belajar mengenali tanaman dan cara memasaknya. Jadi pengetahuan itu memang akan hilang," ujarnya Mei Batubara, gastronom dan peneliti pangan lokal.

Ketiadaan catatan tertulis membuat teknik memasak kuliner tradisional terancam punah karena selama ini hanya mengandalkan praktik langsung. Jika kondisi ini terus berlanjut, keragaman pangan kaya nutrisi yang sesuai dengan lingkungan tiap daerah dikhawatirkan akan menyusut.

"Tanamannya masih ada, tetapi anak mudanya tidak tahu bagaimana cara memasaknya. Karena resep itu diturutkan lewat praktik bersama di dapur," katanya Mei Batubara, gastronom dan peneliti pangan lokal.

Artikel terkait

Rekomendasi