Pegadaian Catat Lonjakan Laba 48 Persen Setelah Jadi Bullion Bank

Pegadaian Catat Lonjakan Laba 48 Persen Setelah Jadi Bullion Bank
Foto: Ilustrasi Pegadaian Catat Lonjakan Laba 48 Persen Setelah Jadi Bullion Bank.

PT Pegadaian (Persero) membukukan pertumbuhan kinerja yang signifikan setelah resmi beroperasi sebagai bullion bank. Diversifikasi bisnis ini mengubah fokus perusahaan yang sebelumnya didominasi oleh layanan gadai tradisional.

Dilansir dari Investortrust, status baru tersebut memberikan dampak positif langsung pada performa keuangan melalui perluasan monetisasi emas masyarakat. Langkah ini memperdalam penetrasi Pegadaian dalam industri emas nasional.

Hal itu diungkapkan oleh AVP Pengembangan Produk Investasi & Pembiayaan Bullion PT Pegadaian, Muhammad Abraham, dalam acara Investortrust Power Talk Financial Series bertajuk ÔÇ£Penguatan Ekosistem Bullion Bank di IndonesiaÔÇØ di Hotel Aryaduta, Jakarta, Selasa (26/5/2026).

"Kalau untuk benefit yang jelas yang berdampak langsung kepada kinerja kita. Habis itu kita juga monetisasi emas masyarakat yang selama ini hanya gadai, mungkin masyarakat tahunya cuman gadai, tabungan. Karena kan memang beratus-ratus tahun dia monetisasinya itu emas gitu. Jadi memang sekarang kita bisa diversifikasi lagi. Bisa masuk lebih, lebih dalam lagi ke bisnis emas ini dengan, dengan bullion layanan bullion services ini," ujar Abraham.

Layanan bank emas yang diresmikan pada 26 Februari 2025 di Pegadaian Galeri 24 ini berhasil memicu kenaikan laba perusahaan sebesar 48 persen pada tahun lalu. Saat ini, total emas yang dikelola Pegadaian telah mencapai 145 ton.

Total kelolaan tersebut termasuk 20 ton titipan tabungan emas yang berasal dari sekitar 22 juta nasabah di seluruh Indonesia. Pertumbuhan ini didukung penuh oleh digitalisasi lewat aplikasi Tring! by Pegadaian, jaringan 4.100 outlet, serta 72.000 agen aktif.

Berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK), Pegadaian kini menjalankan empat pilar layanan utama bullion bank. Layanan tersebut meliputi simpanan, pembiayaan, titipan, dan perdagangan emas.

Melalui implementasi ini, Pegadaian menguasai ekosistem emas nasional dari sektor hulu hingga hilir. Proses ini berjalan mulai dari produksi mandiri di pabrik Galeri 24 hingga distribusi ke konsumen, di luar sektor pertambangan.

Faktor keamanan aset nasabah menjadi prioritas utama dengan kepemilikan vault berstandar internasional yang memiliki tingkat keamanan tertinggi. Seluruh emas yang dititipkan dipastikan aman dan dikelola menggunakan skema satu banding satu.

"Kami punya vault dengan keamanan tertinggi, bersandar internasional, dan diaudit berkala. Jadi, emas masyarakat itu, ini diaudit berkala oleh baik itu dari internal, dari regulator dari OJK, dan juga dari auditor publik. Jadi, emas-emas yang 145 ton dan 20 ton tabungan tadi, kami simpan dengan aman dengan skema yang Bapak Ibu mungkin tahu satu banding satu. Jadi, seluruh emas nasabah Pegadaian itu, seluruhnya 100% kita simpan fisiknya ada. Dan sudah berulang kali dicek oleh regulator 100% satu banding satu barangnya ada," tutur Abraham.

Tantangan Kelengkapan Ekosistem

Regulasi perpajakan saat ini dinilai telah mempermudah pelaku industri dengan penerapan tarif 0,25 persen. Namun, tantangan utama ke depan terletak pada kesiapan infrastruktur pendukung industri.

Layanan bullion tidak dapat berjalan sendiri tanpa kehadiran lembaga pengawas serta wadah industri lainnya. Menurut Abraham, industri saat ini membutuhkan kehadiran Gold Council, Bursa Emas, serta pembentukan asosiasi emas.

"Jadi, Bullion Services ini tidak bisa berdiri sendiri. Jadi, BSI dan Pegadaian ini kan sebagai pelaku industri. Tapi harus didukung juga nantinya yang belum ada itu seperti Gold Council-nya, Dewan Emasnya, Bursa Emasnya, dan juga yang sekarang sedang dibentuk hampir jadi nih, asosiasi emas. Jadi, supaya regulasi ini, ekosistem ini bener-bener berjalan bukan hanya Bullion Service-nya tapi semua industri emas se-Indonesia ini bersistem berjalan dengan baik dan tumbuh. Itu sih dari tantangannya yang saat ini kami butuhkan dari pelaku industri," kata Abraham.

Artikel terkait

Rekomendasi