Kondisi Tempat Promosi Hasil Perikanan (TPHP) Cengkareng, Jakarta Barat, kini memprihatinkan dengan bangunan yang terlihat tidak terawat. Gedung yang berlokasi di Jalan Cendrawasih I ini tampak kusam dan dikelilingi tumbuhan liar yang tidak tertata.
Dilansir dari Megapolitan, suasana di pusat penjualan ikan hias tersebut kini berubah sunyi dibandingkan masa jayanya dulu. Banyak kios yang menutup rapat pintu operasionalnya karena minimnya interaksi jual beli di lokasi tersebut.
Para pedagang yang bertahan lebih banyak menghabiskan waktu menunggu pembeli sambil memantau ponsel mereka. Suasana redup di koridor lantai dasar dan area lantai dua yang lengang menjadi gambaran lesunya aktivitas ekonomi di sana.
Nando, seorang pedagang dari Nagatawa Aquarium yang telah berjualan selama tujuh tahun, mengungkapkan perubahan drastis pada jumlah kunjungan. Menurutnya, dulu kepadatan pengunjung membuat pedagang sangat sibuk melayani pembeli.
"Kita ibarat kata kalau bicara ramai, dulu tuh untuk duduk saja susah. Saking padatnya traffic pengunjung, kita terlalu sibuk untuk melayani. Kalau sekarang pedagang hampir rata-rata semua duduk, main HP," ucap Nando.
Kemerosotan pengunjung mulai dirasakan secara tajam setelah masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berakhir. Hal ini dianggap ironis karena periode pandemi justru menjadi masa keemasan bagi sektor perikanan hias.
Arif, pedagang dari Calysta Aquatic, menjelaskan bahwa pembatasan aktivitas luar ruangan saat pandemi mendorong masyarakat mencari hiburan di rumah. Fenomena ini sempat membuat permintaan ikan, termasuk jenis cupang, melonjak drastis.
"Emang Corona itu masalah, tapi di perikanan itu jadi benar-benar kayak tempat wisata banget. Tiap hari itu ramai. Dari ikan apa saja laku, soalnya kebanyakan orang yang gabut. Apalagi cupang, itu benar-benar meledak," kata Arif.
Arif menambahkan bahwa saat itu harga ikan cupang bisa mencapai ratusan ribu rupiah per ekor. Ia bahkan pernah meraup omzet hingga Rp 15 juta dalam satu hari di akhir pekan saat masa pandemi berlangsung.
"Kalau sekarang sudah dapat Rp 1 juta saja itu ya alhamdulillah lah. Sangat-sangat jauh lah menurunnya," ungkapnya.
Nando juga merasakan dampak serupa pada pendapatan bulanannya yang kini turun di bawah Rp 10 juta. Padahal sebelumnya, ia bisa mengantongi omzet antara Rp 30 juta hingga Rp 40 juta per bulan.
"Bahkan ikan-ikan unik kayak Palmas, itu harganya sekitar Rp 150.000 untuk yang albino, dulu cepet banget dibeli orang, sekarang mah paling tiga bulan baru keluar," kata Nando.
Kondisi Ekonomi dan Fasilitas Gedung
Faktor ekonomi dinilai menjadi penyebab utama menurunnya daya beli masyarakat terhadap barang hobi seperti ikan hias. Nando berpendapat bahwa masyarakat kini lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang meski minat terhadap hobi tersebut masih ada.
"Kalau pehobi justru makin banyak. Tapi kondisi ekonomi itu kan memang lagi tidak baik-baik saja ya, jadi orang enggak banyak lagi ngeluarin uang untuk koleksi ikan-ikan hias," ujarnya.
Selain masalah finansial, kondisi fisik gedung TPHP Cengkareng yang tua juga memengaruhi psikologis calon pembeli. Arif mengeluhkan atap bangunan yang sering bocor saat hujan, sehingga memberikan kesan tidak nyaman bagi pengunjung.
"Bangunan sih sudah tua juga, banyak bocornya di atas. Mungkin orang ke sini sesekali, jadi kesannya mau balik lagi mikir-mikir lagi. Mestinya kan destinasi, tapi kalau kurang menarik orang mikir ya sudahlah yang penting sudah tahu, sekali datang enggak balik lagi," ujarnya.
Strategi Adaptasi dan Dukungan Pemerintah
Menyikapi sepinya pasar fisik, para pedagang mulai beralih memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi digital. Arif menyebutkan bahwa belanja daring menjadi pilihan utama masyarakat saat ini sehingga mereka harus ikut beradaptasi.
"Kalau zaman sekarang kan banyak orang lebih pililh belanja lewat online gitu ya, kita juga ikut mulai promosi lewat media sosial, biar lebih banyak orang yang tau sama perikanan ini," kata Arif.
Nando melalui Asosiasi Pedagang Ikan Hias Cengkareng (APIC) juga merencanakan program kunjungan edukasi untuk sekolah-sekolah di Jakarta Barat. Program ini bertujuan memperkenalkan ragam ikan hias sekaligus meramaikan kembali gedung TPHP.
"Kita akan mengundang sekolah-sekolah khususnya di Jakarta Barat untuk menjadi kegiatan rutin mereka berkunjung, istilahnya kunjungan edukasi lah terhadap ikan-ikan hias yang ada di sini. Rencananya awal bulan depan udah dimulai," ujarnya.
Kepala UPT PPISHP Jakarta I, Risnadi, memberikan respons terkait kondisi tersebut dengan mendorong inovasi dari sisi pedagang. Ia mengeklaim bahwa pemerintah telah memberikan keringanan retribusi yang cukup terjangkau bagi para penyewa kios.
"Kalau pemerintah, dalam hal ini UPT PPISHP termasuk Pemda DKI, sebenarnya sudah banyak memberi keringanan. Retribusi pedagang itu satu tahun hanya Rp 2,2 juta. Kalau dirata-rata sebulan tidak sampai Rp 200.000. Coba dicek, di lokasi Cengkareng dengan harga segitu sebetulnya murah banget," kata Risnadi.
Pemerintah juga menawarkan bantuan publikasi melalui saluran resmi media sosial mereka untuk membantu menarik minat masyarakat. Risnadi menyatakan dukungan terhadap rencana lomba ikan hias serta penambahan jam operasional kawasan hingga malam hari.
"Logikanya kalau masih begitu-begitu saja (kondisi sepi), kan agak susah juga. Tapi kalau pengunjungnya ramai, omzet naik, saya pede nih untuk ajukan tambahan anggaran perbaikan. Makanya, ayo sama-sama kita rapikan dulu kondisinya biar menarik dan ramai, bertahap pelan-pelan," tutur Risnadi.