Pedagang Bubur Tambun Meluas ke Jakarta Akibat Terbatasnya Lapangan Kerja

Pedagang Bubur Tambun Meluas ke Jakarta Akibat Terbatasnya Lapangan Kerja
Foto: Ilustrasi Pedagang Bubur Tambun Meluas ke Jakarta Akibat Terbatasnya Lapangan Kerja.

Tradisi pewarisan usaha keluarga oleh pedagang Bubur Tambun di Bekasi hingga merambah ke wilayah perkotaan mencerminkan strategi bertahan hidup masyarakat pada Senin (13/4/2026). Fenomena ini dipicu oleh terbatasnya kesempatan kerja di sektor formal bagi warga setempat.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira Adhinegara, menjelaskan bahwa pola usaha turun-temurun ini merupakan pilar identitas sosial sekaligus tumpuan utama keberlangsungan ekonomi keluarga. Dilansir dari Megapolitan, sektor usaha mikro mendominasi lebih dari 90 persen kegiatan ekonomi informal di Indonesia saat ini.

"Ini menjadi exit strategy atau cara bertahan hidup yang paling memungkinkan sekarang," ujar Bhima, Pengamat Ekonomi.

Peningkatan persaingan antarpekerja informal di lokasi yang sama memaksa para pedagang mencari pasar potensial hingga ke Depok, Bogor, dan Tangerang. Penurunan daya beli di lingkungan tempat tinggal menjadi alasan utama para pedagang menempuh jarak jauh demi mendapatkan konsumen.

"Akhirnya banyak yang melaju sangat jauh dari rumahnya karena di sekitar rumahnya daya belinya juga sedang turun," ujar Bhima, Pengamat Ekonomi.

Bhima menilai kondisi ini sebagai persoalan struktural yang berisiko memperparah angka kemiskinan akibat tingginya biaya operasional transportasi. Pemerintah diharapkan memberikan dukungan nyata melalui penyediaan hunian layak dan jaminan kesehatan, mengingat rendahnya perlindungan sosial di Indonesia yang hanya berkisar 2,5 persen dari PDB.

ÔÇ£Fenomena ini harus ditangkap sebagai bentuk kepedulian pemerintah dari sisi perlindungan sosial,ÔÇØ ujar Bhima, Pengamat Ekonomi.

Selain faktor deindustrialisasi prematur, ketimpangan pembangunan juga mempersempit peluang kerja generasi muda. Masyarakat diimbau untuk proaktif dalam mengasah keterampilan baru serta membangun ketahanan finansial secara mandiri melalui dana darurat.

ÔÇ£Yang paling penting pertama, selalu mempelajari skill-skill baru. Kemudian yang kedua, meskipun sedang bekerja itu harus punya side hustle. Nah, yang ketiga adalah harus punya dana darurat,ÔÇØ kata Bhima, Pengamat Ekonomi.

Kondisi ekonomi tersebut dialami langsung oleh Muhammad Razas Saputra, warga Kampung Buwek yang beralih menjadi penjual bubur setelah kontrak pabriknya selesai pada 2019. Setiap hari, ia menempuh perjalanan 30 kilometer menuju Tebet, Jakarta Selatan, demi melayani pelanggan tetap yang telah ada sejak era ayahnya tahun 1992.

ÔÇ£Di sana sudah ada langganan. Biasanya mereka memesan dulu, jadi saya tinggal mengantarkan, sisanya menunggu pembeli,ÔÇØ ujar Muhammad Razas Saputra, Pedagang Bubur.

Perubahan moda transportasi dari sepeda menjadi sepeda motor memberikan kemudahan akses bagi Razas untuk menjangkau ibu kota lebih cepat. Ia memulai rutinitas memasak sejak pukul 02.30 WIB agar dapat tiba di lokasi dagang tepat waktu pada pagi hari.

ÔÇ£Sekarang dengan adanya sepeda motor dan akses jalan yang lebih baik, perjalanan menjadi lebih mudah,ÔÇØ kata Muhammad Razas Saputra, Pedagang Bubur.

Meskipun biaya bahan baku dan kemasan meningkat hingga 40 persen dengan total modal mencapai Rp600.000 per hari, Razas tetap berkomitmen meneruskan usaha tersebut. Hasil dari berjualan bubur digunakan untuk menyekolahkan adiknya serta membantu kebutuhan keluarga lainnya.

ÔÇ£Selama pekerjaannya halal dan tidak merugikan orang lain, saya bangga menjalaninya, apalagi bisa membantu keluarga dan menyekolahkan adik,ÔÇØ ujar Muhammad Razas Saputra, Pedagang Bubur.

Artikel terkait

Rekomendasi