PCOS Resmi Berganti Nama Jadi PMOS untuk Akurasi Medis

PCOS Resmi Berganti Nama Jadi PMOS untuk Akurasi Medis
Foto: Ilustrasi PCOS Resmi Berganti Nama Jadi PMOS untuk Akurasi Medis.

Istilah medis Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) kini resmi berganti menjadi Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS). Dilansir dari Media Indonesia, perubahan nama ini disepakati melalui konsensus internasional pada 2026 untuk memberikan gambaran klinis yang lebih akurat bagi pasien.

Para ahli menilai istilah PCOS selama ini sering memicu kesalahpahaman di masyarakat. Nama polycystic memberikan kesan bahwa pasien wajib memiliki kista pada ovarium, padahal banyak pengidapnya tidak menunjukkan gejala tersebut.

Kondisi ini sebenarnya jauh lebih kompleks karena melibatkan gangguan hormon, metabolisme, hingga resistensi insulin. Pergantian nama menjadi PMOS bertujuan untuk menekankan bahwa gangguan ini bersifat sistemik.

Masalah kesehatan ini tidak hanya berkaitan dengan organ reproduksi semata. PMOS berdampak pada kesehatan jangka panjang seperti risiko diabetes tipe 2 dan gangguan kardiovaskular.

Dokter menegaskan bahwa PMOS bukanlah penyakit baru yang berbeda dari PCOS. Pasien yang sebelumnya telah mendapat diagnosis PCOS secara otomatis masuk dalam kategori PMOS.

Perubahan ini murni merupakan pembaruan terminologi medis. Langkah tersebut diambil agar istilah yang digunakan lebih relevan dengan temuan ilmiah terbaru mengenai kesehatan metabolik perempuan.

Cara Mengenali Gejala dan Diagnosis

Meski namanya berubah, metode diagnosis utama masih mengacu pada Kriteria Rotterdam. Seseorang dinyatakan mengalami PMOS jika memenuhi minimal dua dari tiga indikator yang tersedia.

Indikator pertama adalah gangguan ovulasi atau siklus menstruasi yang tidak teratur. Indikator kedua berupa kadar hormon androgen berlebih yang ditandai dengan jerawat hormonal atau pertumbuhan rambut berlebih atau hirsutisme.

Indikator ketiga adalah gambaran ovarium polikistik melalui pemeriksaan USG atau hasil laboratorium hormon tertentu. Gejala umum lainnya yang sering muncul meliputi kenaikan berat badan yang signifikan serta kesulitan untuk hamil.

Para ahli memperkirakan sekitar 70 persen kasus PMOS di seluruh dunia masih belum terdiagnosis dengan tepat. Hal ini terjadi karena kurangnya kesadaran masyarakat akan gejala metabolik tersebut.

Penggunaan istilah PCOS diperkirakan masih akan tetap digunakan berdampingan dengan PMOS selama masa transisi beberapa tahun ke depan. Langkah ini dilakukan guna memudahkan adaptasi bagi tenaga kesehatan dan masyarakat luas.

Perubahan identitas medis ini diharapkan dapat mendorong deteksi dini dan penanganan yang lebih komprehensif. Penanganan mendatang tidak hanya fokus pada kesuburan, tetapi juga pada manajemen kesehatan metabolisme secara menyeluruh.

Artikel terkait

Rekomendasi