Warga di Kampung Pramuka Proklim Gang Hijau Cemara, Koja, Jakarta Utara, menerapkan sistem pembayaran pendidikan unik bagi anak usia dini menggunakan sampah terpilah. Dilansir dari Megapolitan, program ini mewajibkan orangtua membawa sampah untuk ditimbang sebagai pengganti biaya sekolah pada Rabu (6/5/2026).
Inisiasi ini bertujuan untuk menanamkan kesadaran ekologis kepada generasi muda sejak dini sekaligus meringankan beban finansial keluarga. Melalui skema tersebut, setiap keluarga memiliki buku tabungan khusus yang mencatat volume sampah yang telah disetorkan ke bank sampah setempat.
Penggagas program sekaligus Ketua RT setempat, Deni Herwanto, menegaskan bahwa institusi pendidikan ini dirancang untuk mengubah pola pikir masyarakat terhadap limbah rumah tangga. Fokus utama kegiatan tidak terbatas pada kemampuan akademik dasar seperti membaca atau berhitung.
"Yang belajar di sini bukan cuma anak-anak. Orangtuanya juga ikut belajar, bagaimana menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan," ujar Deni Herwanto, Ketua RT.
Para orangtua rutin mendatangi bank sampah yang berlokasi dekat dengan sekolah untuk menimbang sampah yang dibawa dari rumah. Aktivitas ini secara bertahap membentuk budaya baru di lingkungan pemukiman tersebut mengenai pengelolaan sampah secara bijak.
Jumiyati, salah satu orangtua murid berusia 38 tahun, menyatakan bahwa kurikulum berbasis lingkungan menjadi daya tarik utama sekolah tersebut. Ia mengamati adanya perubahan perilaku positif pada anaknya yang kini lebih peka terhadap kebersihan lingkungan rumah.
"Anak-anak di sini diajarkan cara mengolah sampah, jadi mereka lebih paham dan peduli lingkungan," kata Jumiyati, Orangtua Murid.
Ia menambahkan bahwa sang anak kerap menunjukkan inisiatif untuk memungut sampah yang ditemui di jalanan. Hal ini memberikan dampak edukasi yang berbalik kepada orangtua dalam menjaga kebersihan fasilitas umum.
"Kadang kita sebagai orang tua malu ya kalau harus memungut sampah di jalan. Tapi anak-anak justru semangat, mereka bawa pulang," ujar Jumiyati.
Metode pembelajaran di sekolah ini juga memanfaatkan ruang terbuka hijau yang dilengkapi dengan kolam ikan dan tanaman anggur. Lingkungan alam difungsikan sebagai media praktik langsung bagi para siswa dalam berinteraksi dengan ekosistem sekitar.
Kepala Sekolah PAUD, Yuli, menjelaskan bahwa pengembangan karakter menjadi prioritas utama dibandingkan pencapaian nilai akademik. Sekolah berupaya membentuk mentalitas anak yang lebih berani dalam bersosialisasi.
"Yang penting anak-anak keluar dari sini percaya diri, mandiri, berani tampil, dan berani berkomunikasi," kata Yuli, Kepala Sekolah.