Sejumlah orang tua murid di Tugu Utara, Koja, Jakarta Utara, menyetorkan sampah kering sebagai pengganti biaya pendidikan anak-anak mereka di BKB Greens PAUD pada Rabu (6/5/2026). Dilansir dari Megapolitan, sistem sekolah tanpa uang tunai ini bertujuan untuk menumbuhkan budaya peduli lingkungan sejak usia dini.
Setiap siswa diwajibkan mengumpulkan sampah minimal dua kilogram setiap bulan yang dikelola melalui mekanisme bank sampah warga. Bangunan sekolah yang terletak di gang sempit RW 01 tersebut memanfaatkan hasil penjualan sampah untuk membiayai operasional seperti listrik, pengadaan seragam, hingga alat tulis kantor.
Deni Herwanto, Ketua RT sekaligus penggagas program, menjelaskan bahwa sampah yang terkumpul diproses menjadi kompos, pakan maggot, hingga pelet biomassa. Meskipun memberikan manfaat finansial bagi operasional sekolah, ia menekankan bahwa aspek edukasi tetap menjadi prioritas utama dalam inisiatif lingkungan ini.
"Targetnya itu 2 kilo sampah setiap bulan. Tapi bentuknya tabungan. Jadi saldo mereka ada yang lebih daripada 1 kuintal, 50 kilo, lebih dari itu," ungkap Deni Herwanto, Ketua RT sekaligus penggagas program.
Hasil dari pengolahan limbah tersebut dialokasikan kembali untuk mencukupi berbagai kebutuhan penunjang kegiatan belajar mengajar bagi anak-anak di wilayah tersebut.
"Di sini (greens PAUD) juga kan perlu listrik ya, perlu biaya-biaya tambahan lainnya seperti itu. Baik seragam, ATK, itu bisa dari hasil penjualan sampah tadi," ujarnya Deni Herwanto, Ketua RT sekaligus penggagas program.
Pihak pengelola berupaya memastikan bahwa keberadaan sekolah ini memberikan dampak jangka panjang bagi perilaku masyarakat terhadap pengelolaan limbah rumah tangga.
"But di sini bukan itu (ekonomi) tujuan kami, kami hanya mengedukasi tentang kegiatan lingkungan tadi untuk mereka," jelas Deni Herwanto, Ketua RT sekaligus penggagas program.
Melalui pembiasaan rutin, program ini diharapkan mampu mengubah cara pandang generasi muda dan orang tua terhadap nilai guna sampah.
"Intinya membiasakan diri, dan menjadi budaya yang ditumbuhkan daripada adik-adik dan orang tua yang bersekolah di Green PAUD Cemara ini," lanjut Deni Herwanto, Ketua RT sekaligus penggagas program.
Jumiyati, salah satu orang tua murid berusia 38 tahun, mengaku bahwa mekanisme penyetoran dilakukan secara berkala. Ia rutin membawa limbah yang sudah dipilah dari rumah untuk diserahkan kepada pihak sekolah setiap minggunya.
"Biasanya target setiap bulan itu 2 kilogram untuk bank sampah. Namun, agar tidak terlalu memberatkan, kami diminta menyetorkannya seminggu sekali," kata Jumiyati, orang tua murid.
Jenis sampah yang dibawa oleh para orang tua cukup beragam, mulai dari kategori plastik hingga limbah minyak sisa penggorengan.
"Jadi setiap minggu kami menyetor, entah itu kardus, botol, atau minyak jelantah," ucap Jumiyati, orang tua murid.
Sementara itu, Lusi yang juga menyekolahkan anaknya di tempat tersebut merasa diringankan secara ekonomi. Sistem ini memungkinkan dirinya mengalokasikan anggaran rumah tangga untuk keperluan mendesak lainnya.
"Alhamdulillah sangat membantu. Jadi, uang bulanan bisa difokuskan untuk kebutuhan yang lain karena tidak dipakai untuk bayar sekolah," tutur Lusi, orang tua murid.
Dukungan terhadap program ini juga datang dari warga sekitar yang ikut menyumbangkan sampah plastik milik mereka kepada orang tua murid demi membantu biaya sekolah.
"Alhamdulillah saya punya tetangga yang tahu kalau biaya sekolah Affan dibayar menggunakan sampah. Jadi, tetangga-tetangga kalau habis minum, mereka tidak membuang botolnya, tapi diberikan untuk membantu kami," imbuh Lusi, orang tua murid.
Setelah mengikuti program ini selama setahun, Lusi merasakan perubahan perilaku dalam mengelola konsumsi rumah tangga harian secara lebih bijak.
"Saya jadi tahu kalau sampah itu ternyata berguna, dan saya jadi bisa memilah mana saja sampah-sampah yang masih bisa dimanfaatkan," tambah Lusi, orang tua murid.