Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) resmi mengangkat I Ketut Pasek Senjaya Putra sebagai Direktur Utama baru pada Senin (11/5/2026). Dilansir dari Investor Daily, Pasek menggantikan Agung Budi Waskito yang telah memimpin emiten BUMN konstruksi tersebut selama kurang lebih enam tahun.
Pasek Senjaya memiliki rekam jejak panjang di lingkungan BUMN Karya, termasuk pernah menjabat sebagai Direktur Operasi I di PT Waskita Karya Tbk (WSKT). Selain itu, ia sempat mengemban tugas sebagai Direktur Eksekutif di BUMD PT Sarana Bali Dwipa Jaya sebelum akhirnya dipercaya menakhodai WIKA.
Hasil RUPST untuk tahun buku 2025 tersebut juga menetapkan susunan pengurus baru yang terdiri dari jajaran komisaris dan direksi. Apri Artoto ditetapkan sebagai Komisaris Utama, didampingi oleh sejumlah komisaris independen dan jajaran direktur yang membawahi berbagai bidang strategis perusahaan.
| Jabatan | Nama Pengurus |
|---|---|
| Komisaris Utama | Apri Artoto |
| Komisaris Independen | Suryo Hapsoro Tri Utomo |
| Komisaris Independen | Adityawarman |
| Komisaris Independen | Harris Arthur Hedar |
| Komisaris | Suwarta |
| Direktur Utama | I Ketut Pasek Senjaya Putra |
| Direktur Manajemen SDM dan Transformasi | Hadjar Seti Adji |
| Direktur Operasi I | Hananto Aji |
| Direktur Operasi II | Sonny Setyadhy |
| Direktur Manajemen Risiko dan Legal | Vera Kirana |
| Direktur Keuangan | Mulyadi |
Dalam laporan kinerjanya, manajemen WIKA mengungkapkan adanya tantangan penurunan kondisi pasar industri konstruksi nasional sepanjang 2025. Hal ini berdampak langsung pada perolehan kontrak baru, tingkat penjualan, serta arus kas perusahaan secara keseluruhan.
Meskipun demikian, perusahaan mencatatkan kenaikan Gross Profit Margin (GPM) menjadi 8,5% pada 2025 dibandingkan 7,9% pada tahun sebelumnya. Upaya pengendalian beban juga membuahkan hasil dengan penurunan utang usaha sebesar Rp1,79 triliun serta utang berbunga mencapai Rp2,08 triliun.
WIKA melaporkan perolehan kontrak baru sebesar Rp17,46 triliun dengan total kontrak yang dihadapi mencapai Rp50,55 triliun. Realisasi penggunaan dana hasil Penambahan Modal Dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu II (PMHMETD II) tercatat telah mencapai Rp5,7 triliun dari total Rp6,08 triliun.
Strategi pemulihan perusahaan ke depan akan bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu restrukturisasi komprehensif, divestasi aset, serta pemulihan piutang. Perusahaan juga berkomitmen melakukan peningkatan operational excellence guna menjaga stabilitas arus kas sebagai fondasi kinerja berkelanjutan.