Pasar Santa Sepi Pengunjung Akibat Perubahan Tren dan Keterbatasan Ruang

Pasar Santa Sepi Pengunjung Akibat Perubahan Tren dan Keterbatasan Ruang
Foto: Ilustrasi Pasar Santa Sepi Pengunjung Akibat Perubahan Tren dan Keterbatasan Ruang.

Pasar Santa di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, terpantau lengang dengan deretan kios yang tertutup rapat pada Selasa (21/4/2026) siang. Kondisi ikon ruang kreatif ini perlahan kehilangan denyutnya akibat pergeseran tren konsumsi anak muda serta dinamika kota yang terus bergerak, dilansir dari Megapolitan.

Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, memberikan analisis mengenai fenomena penurunan daya tarik pasar yang berlokasi di Jalan Cipaku I tersebut. Ia menyebutkan bahwa ruang kreatif sangat rentan jika tidak mampu beradaptasi dengan kebutuhan sosial.

"Pasar Santa sebelumnya dikenal sebagai ruang kreatif anak muda di daerah Blok M, Jakarta Selatan. Itu menjadi salah satu landmark atau ikonik anak muda. Tapi kemudian mengalami penurunan dan sepi saat ini," kata Rakhmat Hidayat, Sosiolog UNJ.

Perubahan ini dipicu oleh suksesi generasi dari milenial ke Gen Z yang mencari ruang lebih terintegrasi. Rakhmat menekankan bahwa aksesibilitas dan fasilitas publik menjadi pertimbangan utama anak muda saat ini.

"Salah satu penyebabnya juga karena ada pergantian atau suksesi generasi, dari milenial mengalami perubahan cepat secara masif dengan generasi Gen Z," kata Rakhmat Hidayat, Sosiolog UNJ.

Faktor keterbatasan fisik gedung bertingkat juga menjadi kendala interaksi sosial. Menurut Rakhmat, area terbuka yang terbatas membuat pengunjung tidak memiliki banyak pilihan untuk bereksplorasi di dalam pasar.

"Ukuran dan keterbatasan ruang fisik memang dapat mempengaruhi daya tarik sosial suatu tempat. Ruang yang terbatas dapat membatasi interaksi sosial dan pengalaman kolektif yang terjadi dalam suatu komunitas," ucap Rakhmat Hidayat, Sosiolog UNJ.

Kawasan Blok M dinilai memiliki keunggulan karena lebih luas dan terintegrasi dengan transportasi umum. Hal ini membuat persepsi sosial terhadap Pasar Santa kalah bersaing dengan destinasi yang memiliki efek jejaring lebih kuat.

"Ketika ruang fisik terbatas, pengunjung mungkin merasa tidak puas karena tidak ada banyak pilihan untuk dijelajahi," ucap Rakhmat Hidayat, Sosiolog UNJ.

Kondisi di lapangan menunjukkan lantai dasar dan dua didominasi kios pasar konvensional dan jasa permak yang sepi. Kurangnya perhatian publik membuat identitas kreatif pasar tersebut memudar seiring waktu.

"Pasar Santa meskipun memiliki produk menarik yang unik secara kreativitas dan kultural, mungkin tidak mendapatkan perhatian yang cukup untuk menciptakan buzz yang dapat menarik berbagai lapisan sosial," kata Rakhmat Hidayat, Sosiolog UNJ.

Kepala Dinas PPKUKM Provinsi DKI Jakarta, Elisabeth Ratu Rante Allo, menanggapi situasi tersebut dengan menekankan pentingnya evaluasi objektif. Pihaknya terus memantau data aktivitas perdagangan dan masukan dari pengelola pasar.

"Karena itu, evaluasi terhadap kondisi suatu pasar dilakukan secara objektif melalui pemantauan lapangan, data aktivitas perdagangan, serta masukan dari para pedagang dan pengelola," ujar Elisabeth Ratu Rante Allo, Kepala Dinas PPKUKM DKI Jakarta.

Pemerintah mendorong agar setiap pusat perdagangan melakukan inovasi tenant dan meningkatkan kenyamanan sarana. Ratu menyebut bahwa adaptasi terhadap tren pasar adalah kunci keberlanjutan ekonomi lokal.

"Karena itu, yang terpenting adalah bagaimana setiap pusat perdagangan terus beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan tren pasar," kata Elisabeth Ratu Rante Allo, Kepala Dinas PPKUKM DKI Jakarta.

Upaya penguatan UMKM dan promosi usaha lokal terus dilakukan untuk menghidupkan kembali pasar rakyat. Kolaborasi lintas sektor diharapkan mampu menarik kembali minat masyarakat untuk berkunjung.

"Pasar rakyat memiliki potensi besar sebagai simpul ekonomi lokal. Kami terus mendorong kolaborasi antara pedagang, komunitas, pengelola, dan pemerintah agar pasar-pasar di Jakarta tetap relevan, hidup, and mampu menarik minat masyarakat," tutur Elisabeth Ratu Rante Allo, Kepala Dinas PPKUKM DKI Jakarta.

Fathan, seorang pemilik kedai kopi di lantai dua, menceritakan penurunan omzet yang signifikan dibanding masa keemasan pasar. Pendapatannya kini merosot dari jutaan rupiah menjadi hanya ratusan ribu per hari.

"Dulu itu bisa dibilang golden era. Sehari omzet bisa Rp 2 juta sampai Rp 3 juta, bahkan lebih kalau ada event atau weekend panjang," kata Fathan, Pedagang Kopi.

Fathan menilai perubahan perilaku anak muda yang lebih memilih tempat dengan branding konsisten menjadi tantangan berat. Saat ini, banyak kedai kopi mandiri di luar pasar yang menawarkan kenyamanan lebih baik.

"Sekarang rata-rata harian itu di Rp 500 (ribu) sampai Rp 1 juta. Kadang bisa di bawah itu kalau weekday sepi," ujar Fathan, Pedagang Kopi.

Kehilangan kurasi tenant yang unik juga dianggap sebagai penyebab lunturnya identitas Pasar Santa. Fathan berpendapat bahwa rebranding serius masih bisa menghidupkan kembali lokasi yang strategis ini.

"Dulu Santa itu salah satu pusat. Sekarang sudah banyak pilihan, coffee shop standalone, mall baru, tempat yang lebih rapi, lebih nyaman, lebih konsisten branding-nya," kata Fathan, Pedagang Kopi.

Ia berharap ada langkah konkret untuk mengembalikan suasana ramai melalui penataan ulang. Potensi lokasi tetap ada jika dikelola dengan konsep yang lebih segar bagi pengunjung.

"Kalau ada rebranding yang serius, masih bisa hidup lagi. Lokasi ini sebenarnya masih strategis," ujar Fathan, Pedagang Kopi.

Theo, pedagang barang thrift, turut merasakan dampak psikologis dari banyaknya kios kosong di sekitarnya. Pengunjung seringkali enggan menjelajah lebih dalam jika melihat suasana pasar yang tampak mati.

"Dulu itu saya bisa dapat Rp 800 (ribu) sampai Rp 1,5 juta sehari, terutama kalau weekend. Anak-anak datang memang buat cari barang unik," kata Theo, Pedagang Thrift.

Beralihnya pola belanja ke platform online juga menggerus pendapatan pedagang fisik di pasar. Theo menyebut bahwa kini pembeli lebih memilih mencari barang melalui ponsel daripada datang langsung ke lokasi.

"Sekarang rata-rata harian itu di Rp 200 (ribu) sampai Rp 400 (ribu). Kadang malah cuma dapet Rp 100 ribu lebih sedikit," kata Theo, Pedagang Thrift.

Banyaknya rolling door yang tertutup menciptakan kesan negatif bagi konsumen yang datang. Hal ini memicu rantai penurunan minat yang berdampak pada seluruh ekosistem di dalam gedung.

"Sekarang thrift juga banyak online. Jadi orang tidak perlu datang langsung. Mereka tinggal scroll, pilih, bayar," kata Theo, Pedagang Thrift.

Theo juga menekankan bahwa berkurangnya interaksi fisik membuat pengalaman belanja di pasar kehilangan daya tariknya. Pengunjung kini hanya datang sekilas tanpa keinginan untuk menetap lama.

"Kalau orang naik ke atas dan lihat banyak yang tutup, ya mereka malas lanjut jalan. Itu efek psikologis juga," kata Theo, Pedagang Thrift.

Warni, pedagang perlengkapan rumah tangga di lantai dasar, mengenang masa ramai sebelum pandemi ketika anak muda masih memadati pasar. Meskipun segmennya berbeda, keramaian di lantai atas dahulu memberikan dampak positif bagi pedagang di lantai bawah.

"Sekitar 2014 sampai sebelum pandemi itu kerasa banget. Banyak anak muda datang, naik ke atas, tapi yang di bawah juga ikut ramai," ujar Warni, Pedagang Perlengkapan Rumah Tangga.

Penurunan arus pengunjung kini dirasakan secara menyeluruh dari lantai dasar hingga lantai tiga. Warni mengamati bahwa kebutuhan rumah tangga pun kini mulai banyak yang dipenuhi melalui belanja daring.

"Sekarang orang banyak beli online juga. Jadi tidak semua kebutuhan harus ke pasar," kata Warni, Pedagang Perlengkapan Rumah Tangga.

Di sisi lain, pengunjung bernama Hafiz merasa Pasar Santa sudah tertinggal dibandingkan Blok M dalam hal penyediaan ruang terbuka. Ia menilai suasana di dalam kios sempit tidak lagi sejalan dengan kebutuhan mobilitas anak muda.

"Dulu saya sering ke sini pas masih kuliah. Sekarang sudah jarang, ini baru datang lagi setelah lama," kata Hafiz, Pengunjung.

Kurangnya area publik yang memungkinkan orang bergerak bebas menjadi alasan utama beralihnya pengunjung ke tempat lain. Hafiz menyebutkan bahwa pengalaman ruang di gedung bertingkat seperti Santa terasa membatasi.

"Di Santa itu kan lebih seperti pasar dalam gedung. Tidak ada ruang terbuka yang besar, kafenya juga kecil-kecil di dalam kios," tutur Hafiz, Pengunjung.

Senada dengan itu, Andra menilai Pasar Santa kini hanya menjadi lokasi untuk bernostalgia semata. Tidak adanya alasan spesifik atau inovasi baru membuat intensitas kunjungannya menurun tajam.

"Enggak sering sih sekarang. Paling kalau lagi lewat atau lagi pengin nostalgia aja," kata Andra, Pengunjung.

Hilangnya konsistensi tenant membuat tujuan berkunjung menjadi tidak jelas. Andra membandingkan kondisi tersebut dengan Blok M yang selalu memiliki pembaruan dan pilihan yang lebih rapi.

"Sekarang lebih sepi, itu jelas. Terus tenant juga banyak yang berubah-ubah, jadi kurang punya tujuan spesifik kalau datang," kata Andra, Pengunjung.

Blok M dianggap lebih berhasil dalam membangun alur aktivitas sosial yang terintegrasi. Hal ini membuat kawasan tersebut tetap hidup dan terus mendatangkan pengunjung baru.

"Kalau Blok M sekarang lebih hidup sih. Lebih rapi, lebih banyak pilihan baru, dan selalu ada hal yang bikin orang balik lagi," ujar Andra, Pengunjung.

Petugas keamanan pasar, Agus, mengonfirmasi bahwa aktivitas pasar memang mengalami perubahan ritme. Meskipun masih ada pengunjung pada akhir pekan, durasi kunjungan mereka kini menjadi lebih singkat.

"Iya sekarang lebih sepi dibanding dulu. Kalau dulu kan rame terus, terutama lantai atas. Sekarang ya lebih pelan," kata Agus, Petugas Keamanan.

Sejumlah kios yang tidak aktif memperkuat kesan sepi di area-area tertentu. Namun, Agus tetap optimis bahwa pasar masih berjalan meski tidak dalam kapasitas penuh seperti beberapa tahun silam.

"Masih jalan semua sebenarnya. Tapi ritmenya saja yang berubah, tidak seperti dulu yang ramai terus," ujar Agus, Petugas Keamanan.

Fenomena ini menggambarkan tantangan besar bagi pasar tradisional yang bertransformasi menjadi ruang kreatif di tengah gempuran pusat komersial modern. Penyesuaian konsep menjadi mendesak demi mempertahankan eksistensi pusat ekonomi lokal di Jakarta Selatan.

"Masih ada yang nongkrong, tapi tidak sampai penuh seperti dulu. Lebih ke datang sebentar, lalu pergi lagi," katanya Agus, Petugas Keamanan.

Artikel terkait

Rekomendasi