Penulis : Erta Darwati 26 Mei 2026 | 19:44 WIB
Ilustrasi pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. (Investor Daily/David Gita Roza)
JAKARTA, investor.id ÔÇô PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pasar keuangan domestik masih berada dalam fase yang rentan di tengah meningkatnya tekanan eksternal, pelemahan rupiah, serta kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan domestik.
Indeks harga saham gabungan (IHSG) anjlok 8,35% sepanjang perdagangan 18ÔÇô22 Mei 2026 dan parkir di level 6.162,04. Pelemahan terjadi di tengah meningkatnya aktivitas transaksi dan tekanan jual investor asing, sementara kapitalisasi pasar tergerus 10,07% menjadi Rp 10.635 triliun terpangkas sekitar Rp 1.190 triliun hanya dalam sepekan.
Tekanan utama bersumber dari rebalancing MSCI efektif 1 Juni 2026, yang menghapus enam saham Indonesia dari Global Standard Index dengan estimasi potensi outflow hingga US$ 1,7 miliar belum termasuk risiko penurunan status Indonesia dari Emerging Market ke Frontier Market jika masalah struktural tidak segera dibenahi.
Pada perdagangan Senin (25/5/2026), IHSG ditutup menguat 0,72% ke level 6.206,35, ditopang kenaikan sejumlah saham big caps termasuk AMMN, BBRI, dan BBCA. Namun penguatan tersebut masih dibayangi net sell asing sekitar Rp 2,2 triliun menjelang implementasi rebalancing MSCI. Di saat yang sama, rupiah kembali melemah ke level Rp 17.744 per dolar AS.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai penguatan pada IHSG masih bersifat teknikal dan belum didukung perbaikan fundamental arus modal asing.
"Selama volatilitas rupiah masih tinggi dan foreign outflow belum mereda, investor global cenderung tetap defensif terhadap aset domestik. Penguatan pasar saat ini masih relatif rapuh," kata Rully.
Dia juga menyoroti pergeseran fokus pasar dari isu inflasi menuju kekhawatiran perlambatan pertumbuhan tercermin dari dinamika yield obligasi domestik pasca kenaikan BI Rate 50 basis poin.
Pendataran kurva imbal hasil (flattening yield curve) dinilai Rully sebagai sinyal risiko perlambatan pertumbuhan ke depan, sekaligus mencerminkan dampak pengetatan moneter front-loaded Bank Indonesia.
Kenaikan yield tenor pendek pasca kenaikan BI Rate mengindikasikan likuiditas domestik yang semakin ketat, sementara yield tenor panjang yang relatif tertahan menunjukkan pasar mulai mempertimbangkan pelemahan pertumbuhan dalam jangka menengah.
"Pasar masuk ke fase di mana investor tidak hanya memperhatikan arah suku bunga, tetapi juga sustainability pertumbuhan ekonomi domestik di tengah biaya dana yang meningkat dan tekanan eksternal yang masih tinggi," tambahnya.
Editor: Erta Darwati
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Prediksi IHSG dan Rekomendasi Saham Jumat, 29 Mei 2026
IHSG Anjlok, tapi 5 Saham Loncat
IHSG Keok Gara-gara Ini
Saham Longsor Gegara Pengumuman MSCI, Padahal Nilai Bukunya Rp 16.000-an
IHSG Jatuh, 5 Saham Malah Catat Cuan Gede
Macroeconomy 15 menit yang lalu Laju Pertumbuhan Ekonomi Belum Selaras dengan Tingkat Kesejahteraan Buruh Tambahan pendapatan masyarakat bergerak lebih lambat dari lonjakan konsumsi. Imbasnya tabungan turun dan utang meningkat.
Market 27 menit yang lalu MDIY Melawan Arus Sektor ritel dihadapkan pada kondisi pasar yang cukup dinamis.
Business 29 menit yang lalu Manajemen Indomaret Tanggapi Aksi Unjuk Rasa Karyawan Terkait Upah Lembur Manajemen PT Indomarco Prismatama (Indomaret) tanggapi aksi unjuk rasa ratusan karyawannya terkait upah lembur yang dikabarkan akan dihapus.
National 38 menit yang lalu Penuhi Hak Dasar, KPK Fasilitasi 52 Tahanan Laksanakan Salat Iduladha KPK fasilitasi 52 tahanan kasus korupsi laksanakan ibadah salat Iduladha di Masjid KPK sebagai pemenuhan hak-hak dasar para tahanan.
Macroeconomy 42 menit yang lalu Top Berita Ekonomi Hari Ini, Selasa 26 Mei 2026 Top berita ekonomi Selasa (26/5/2026), mulai dari tarif pajak penulis dipangkas hingga daftar eksportir CPO diduga lakukan under-invoicing.