Sektor pariwisata memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional pada Triwulan I Tahun 2026 yang mencapai angka 5,61 persen secara tahunan. Berdasarkan laporan Kementerian Pariwisata, industri ini menyumbang estimasi sebesar 4,01 hingga 5,00 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
Pencapaian tersebut dinilai sebagai bukti ketahanan industri dalam negeri di tengah dinamika global. Dilansir dari Detik Travel, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kunjungan wisatawan mancanegara pada Maret 2026 mencapai 1,09 juta kunjungan atau tumbuh 10,50 persen dibandingkan Maret 2025.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana memberikan apresiasi terhadap kinerja sektor yang dipimpinnya. Ia menyoroti bagaimana strategi adaptif mampu menjaga arus kunjungan meski situasi geopolitik di Timur Tengah sedang memanas.
"Kemenpar akan terus mendorong pengembangan produk wisata dan paket perjalanan yang memberikan manfaat ekonomi, sosial budaya, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan," ujar Widiyanti Putri Wardhana, Menteri Pariwisata.
Pertumbuhan kunjungan wisman ini diikuti oleh peningkatan belanja rata-rata per kedatangan (ASPA) yang mencapai 1.345,61 dollar AS atau setara Rp 22,87 juta. Angka belanja tersebut mengalami kenaikan sebesar 5,36 persen dibandingkan periode tahun sebelumnya.
Widiyanti menegaskan bahwa angka-angka tersebut merupakan indikator kuat dari kepercayaan dunia internasional terhadap kualitas destinasi di Indonesia. Hal ini juga didukung oleh sektor lapangan usaha terkait yang mengalami ekspansi pesat.
"Pencapaian Triwulan I menunjukkan betapa solidnya industri pariwisata Indonesia dan bagaimana sektor ini berjalan selaras dengan pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Widiyanti Putri Wardhana, Menteri Pariwisata.
Data BPS mencatat sektor akomodasi serta makan dan minum tumbuh 13,14 persen dengan nilai Rp 172,7 triliun. Sementara itu, sektor transportasi dan pergudangan memberikan kontribusi sebesar Rp 378,3 triliun dengan pertumbuhan mencapai 8,04 persen.
Aktivitas wisatawan nusantara juga mengalami lonjakan drastis pada Maret 2026 dengan 126,34 juta perjalanan, naik 42,10 persen dibanding tahun lalu. Momentum libur Nyepi dan Idul Fitri menjadi faktor utama pendorong tingginya pergerakan warga di dalam negeri.
| Sektor Usaha | Pertumbuhan (%) | Nilai Ekonomi |
|---|---|---|
| Akomodasi dan Makan Minum | 13,14% | Rp 172,7 triliun |
| Jasa Lainnya | 9,91% | Rp 136,4 triliun |
| Transportasi dan Pergudangan | 8,04% | Rp 378,3 triliun |
| Jasa Perusahaan | 4,91% | Rp 122 triliun |
Meskipun perjalanan warga Indonesia ke luar negeri juga naik menjadi 793.158 perjalanan pada Maret 2026, neraca pariwisata Indonesia tetap mencatat surplus. Secara kumulatif dari Januari hingga Maret 2026, tercatat surplus 0,94 juta kunjungan yang memastikan devisa tetap mengalir positif ke kas negara.