Emiten pertambangan nikel PT PAM Mineral Tbk. (NICL) memproyeksikan perolehan pendapatan sebesar Rp1,5 triliun pada 2026 mendatang. Target tersebut ditetapkan sejalan dengan rencana peningkatan volume penjualan bijih nikel yang dipatok mencapai 2,6 juta ton pada periode yang sama.
Dilansir dari Market, manajemen perusahaan juga membidik laba bersih sebesar Rp500 miliar untuk tahun buku 2026. Angka ini mencatatkan kenaikan dibandingkan proyeksi tahun 2025 yang menempatkan target pendapatan senilai Rp1,47 triliun dan laba bersih Rp345,14 miliar.
Direktur Utama NICL Ruddy Tjanaka menjelaskan bahwa perusahaan menargetkan tingkat produksi dan penjualan menyentuh 2,60 juta WMT. Angka ini naik dari posisi 2,56 juta ton pada 2025 dengan kadar bijih nikel hasil produksi berada pada rentang 1,3% hingga 1,65%.
Pencapaian target tersebut akan dilakukan di tengah dinamika industri nikel global yang masih menghadapi fluktuasi harga akibat gejolak geopolitik. Namun, kebijakan domestik terkait harga patokan mineral dan penyesuaian RKAB dinilai mampu menstabilkan pasar.
ÔÇ£Kebijakan HPM hingga pemangkasan RKAB sejatinya memberikan dampak positif terhadap stabilitas harga nikel secara global. Kami berupaya menjalankan operasional sesuai rencana,ÔÇØ jelas Ruddy Tjanaka, Direktur Utama NICL dalam Paparan Publik, Senin (4/5/2026).
Operasional NICL saat ini bertumpu pada dua wilayah tambang utama, yakni konsesi PAM Mineral di Morowali, Sulawesi Tengah dengan cadangan 8,25 juta ton. Selain itu, entitas anak PT Indrabakti Mustika (IBM) mengelola tambang di Konawe Utara, Sulawesi Tenggara dengan cadangan 91,82 juta ton.
Ruddy menegaskan bahwa perseroan tetap mengedepankan efisiensi operasional dan tata kelola yang baik guna memastikan pertumbuhan bisnis yang bertanggung jawab. Penguatan kemitraan strategis juga menjadi fokus utama dalam menjaga daya saing perusahaan.
ÔÇ£Strategi ini diharapkan dapat memperkuat penetrasi pasar sekaligus menjaga keberlanjutan kontrak penjualan (offtake agreement) di tengah bertambahnya kapasitas smelter baru,ÔÇØ tutur Ruddy Tjanaka, Direktur Utama NICL.
Sebagai langkah jangka panjang, NICL telah menyusun rencana eksplorasi berkelanjutan hingga 2035 untuk menjamin ketersediaan cadangan. Perusahaan juga mulai mengintegrasikan sistem digital berbasis data guna mengoptimalkan seluruh lini bisnis dan memperluas jaringan pemasaran hingga wilayah Halmahera.