Bank Indonesia (BI) mencatat sektor perbankan domestik menunjukkan ketahanan yang kokoh melalui hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG). Kondisi ini tercermin dari ketersediaan likuiditas yang memadai, tingginya modal perbankan, dan rendahnya risiko kredit.
Rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan nasional berada di angka 25,09% per Maret 2026. Angka tersebut dinilai kuat untuk memitigasi risiko sekaligus menyokong pertumbuhan penyaluran kredit.
Pada periode yang sama, rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) secara agregat terkendali di level 2,14% bruto dan 0,83% neto. Sektor perbankan juga terbukti tangguh menghadapi gejolak geopolitik di Timur Tengah berdasarkan pengujian stress test Bank Indonesia.
Menyikapi stabilitas industri tersebut, para pelaku perbankan kini mengarahkan fokus pada penguatan aset untuk mendorong pertumbuhan jangka panjang. Strategi ini dikombinasikan dengan peningkatan profitabilitas serta penguatan liabilitas.
Dikutip dari Detik Finance, Wakil Direktur Utama OK Bank Hendra Lie mengungkapkan bahwa perusahaannya memprioritaskan penguatan aset sebagai fondasi ekspansi yang sehat pada tahun 2026. Langkah ini diimbangi dengan efisiensi operasional dan penguatan pendanaan.
Hendra Lie menjelaskan, penambahan kualitas portofolio debitur dan ekspansi kredit secara selektif menjadi pilar utama dalam memperkokoh aset. OK Bank juga melakukan optimalisasi jaringan strategis serta peningkatan manajemen risiko secara ketat.
Aspek profitabilitas perusahaan digenjot melalui akselerasi transformasi digital dan penyaluran kredit yang berkualitas. Penerapan manajemen risiko yang prudent menjadi kunci utama untuk menghasilkan pendapatan yang berkesinambungan.
Guna memperkuat struktur dana pihak ketiga, OK Bank meningkatkan fitur dan layanan pada produk tabungan serta giro. Penawaran produk juga disesuaikan dengan kebutuhan nasabah yang bergerak dinamis.
Selain itu, bank mengembangkan program pendanaan jangka menengah dengan imbal hasil kompetitif. Perusahaan juga terlibat sebagai sub-mitra distribusi pemasaran Surat Berharga Negara (SBN) ritel untuk memperluas alternatif investasi nasabah.
Layanan payroll turut ditingkatkan demi memacu volume transaksi dan memperluas basis nasabah. Langkah ini diharapkan mampu membuka peluang pengembangan produk perbankan lainnya secara berkelanjutan.
"Seluruh upaya ini diarahkan untuk memperkuat fondasi keuangan dan mendorong pertumbuhan yang stabile dan sehat. Langkah-langkah ini diharapkan mampu menjaga stabilitas keuangan sekaligus meningkatkan kinerja Bank secara berkesinambungan," kata dia dalam siaran pers, ditulis Kamis (21/5/2026).
Kinerja keuangan OK Bank Indonesia sepanjang tahun 2025 memperlihatkan tren positif pada seluruh lini bisnis. Pertumbuhan ini mencakup aspek total aset, penyaluran kredit, penghimpunan dana, hingga profitabilitas.
Hendra Lie memaparkan bahwa total aset OK Bank melesat menjadi Rp13,42 triliun pada tahun 2025. Jumlah tersebut meningkat signifikan dari Rp11,87 triliun pada 2024 dan Rp11,07 triliun pada 2023.
Sektor penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) juga mencatat kenaikan menjadi Rp8,98 triliun dari posisi tahun sebelumnya yang sebesar Rp7,54 triliun. Realisasi penyaluran kredit ikut tumbuh menjadi Rp10,73 triliun dibandingkan tahun 2024 yang bernilai Rp9,30 triliun.
Laba bersih OK Bank melonjak tajam menjadi Rp159,98 miliiar pada 2025 dari Rp49,99 miliar pada tahun sebelumnya. Peningkatan ini ditopang oleh kenaikan pendapatan bunga bersih yang menyentuh angka Rp688,88 miliar.
Rasio profitabilitas ikut merangkak naik dengan Return on Asset (RoA) sebesar 1,70% dan Return on Equity (RoE) mencapai 4,35%. Sementara itu, Margin Bunga Bersih (NIM) terjaga di level 5,67% dan Capital Adequacy Ratio (CAR) berada pada posisi sehat di level 42,21%.