OJK Proyeksikan Penjaminan Kredit Sektor Produktif Tetap Dominan

OJK Proyeksikan Penjaminan Kredit Sektor Produktif Tetap Dominan
Foto: Ilustrasi OJK Proyeksikan Penjaminan Kredit Sektor Produktif Tetap Dominan.

Otoritas Jasa Keuangan memproyeksikan produk penjaminan kredit dan pembiayaan akan tetap mendominasi kinerja industri penjaminan ke depan akibat tingginya kebutuhan pembiayaan sektor produktif. Hal itu disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner OJK pada Sabtu (16/5/2026).

Data per Maret 2026 yang dilansir dari Keuangan menunjukkan nilai outstanding penjaminan produktif mencapai Rp 272,07 triliun. Jumlah tersebut menguasai 70,32 persen dari total outstanding industri penjaminan nasional yang mencatatkan angka keseluruhan sebesar Rp 386,87 triliun.

Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono menjelaskan dominasi ini ditopang oleh langkah pemerintah dalam memperkuat ekonomi. Struktur portofolio tersebut sekaligus memperluas akses pembiayaan bagi dunia usaha serta pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.

ÔÇ£Ditambah adanya dukungan kebijakan pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi,ÔÇØ ujar Ogi Prastomiyono, Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK.

OJK mengharapkan adanya diversifikasi produk baru dari industri penjaminan agar menciptakan keseimbangan bisnis jangka panjang. Di sisi lain, Asosiasi Perusahaan Penjaminan Indonesia juga membenarkan bahwa lini bisnis terbesar saat ini masih dipegang oleh produk penjaminan kredit.

Sekretaris Jenderal Asippindo Agus Supriadi mengonfirmasi kondisi pasar dan faktor struktural menjadi penyebab utama dari kuatnya dominasi produk tersebut, bukan karena industri mengalami hambatan dalam berinovasi.

ÔÇ£Produk penjaminan kredit sudah memiliki ekosistem yang matang, mulai dari permintaan yang tinggi, khususnya dari segmen UMKM, dukungan regulasi, hingga pola bisnis yang sudah teruji,ÔÇØ ungkap Agus Supriadi, Sekretaris Jenderal Asippindo.

Agus menambahkan tantangan produk nontradisional mencakup rendahnya literasi pasar, minimnya data historis model risiko, hingga regulasi yang belum fleksibel. Perusahaan penjaminan juga cenderung memiliki risk appetite yang konservatif serta skala ekonomi produk baru yang belum signifikan.

Asippindo merekomendasikan strategi terintegrasi mulai dari peningkatan edukasi, infrastruktur teknologi, pemanfaatan alternative data, hingga kebijakan regulatory sandbox untuk mendorong diversifikasi.

ÔÇ£Insentif atau stimulus juga diperlukan, baik dari pemerintah maupun internal perusahaan, untuk mendorong keberanian ekspansi ke produk nonkonvensional, serta pengembangan kapasitas sumber daya manusia khususnya di bidang manajemen risiko dan inovasi produk,ÔÇØ ujar Agus Supriadi, Sekretaris Jenderal Asippindo.

Artikel terkait

Rekomendasi