OJK Nilai Penurunan IHSG Dampak Rebalancing MSCI Masih Wajar

OJK Nilai Penurunan IHSG Dampak Rebalancing MSCI Masih Wajar
Foto: Ilustrasi OJK Nilai Penurunan IHSG Dampak Rebalancing MSCI Masih Wajar.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan signifikan pada perdagangan sesi pertama Rabu (13/5/2026) menyusul langkah rebalancing indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI). Otoritas Jasa Keuangan menilai kondisi tersebut masih berada dalam batas kewajaran dan aktivitas perdagangan tetap terkendali.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia yang dilansir dari Money, IHSG ditutup merosot 124,36 poin atau 1,81 persen ke posisi 6.734,537 pada akhir sesi satu. Indeks sempat menyentuh level terendah di 6.726,575 setelah dibuka pada level 6.763,945 di awal perdagangan hari ini.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menjelaskan bahwa koreksi pasar saat ini merupakan bentuk respons terhadap penyesuaian indeks MSCI. Ia menekankan bahwa penurunan ini terjadi dengan tingkat aktivitas pasar yang masih dalam pengawasan normal.

ÔÇ£Hari ini kalau kita cermati tadi sampai pukul 10.00 terkonfirmasi ada penurunan indeks, tapi dengan tingkat aktivitas yang kami nilai masih dalam batasan wajar,ÔÇØ ujar Hasan Fawzi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK.

Hasan juga memberikan catatan khusus mengenai saham-saham yang secara langsung terdampak oleh keputusan rebalancing tersebut. Pihaknya memastikan tidak ada emiten terkait yang mengalami penolakan otomatis pada batas bawah perdagangan bursa.

ÔÇ£Dan sebagai konsekuensi reaksi dari rebalancing. Kalau kita lihat saham-saham yang terdampak sekalipun tidak ada satupun yang mengalami misalnya kondisi auto rejection bawah gitu ya,ÔÇØ katanya Hasan Fawzi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK.

Sejumlah saham terpantau mengalami aksi jual setelah dikeluarkan dari MSCI Global Standard Indexes, termasuk PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA). Selain itu, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) juga resmi keluar dari indeks tersebut.

Daftar Pergerakan Saham Terdampak MSCI Sesi I (13/5/2026)
Kode SahamPersentase PenurunanPosisi Harga
TPIA14,26%Rp 4.330
AMMN11,30%Rp 3.610
CUAN11,11%Rp 840
DSSA10,30%Rp 1.045
BREN8,31%Rp 3.310
AMRT1,77%Rp 1.390

Meskipun terdapat tekanan jual yang kuat pada saham-saham tertentu, Hasan berpendapat bahwa frekuensi dan nilai transaksi di pasar masih stabil. Ia menegaskan tidak ada indikasi tekanan searah yang berlebihan dari para pelaku pasar.

ÔÇ£Jadi masih dalam batasan koreksi yang rentang yang wajar. Kemudian tadi frekuensi dan volume serta nilai transaksi juga cukup baik. Secara rata-rata tidak ada perbedaan normal dibandingkan hari-hari sebelumnya,ÔÇØ ujar Hasan Fawzi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK.

Analisis OJK menunjukkan bahwa kondisi pasar modal Indonesia saat ini tidak menunjukkan gejala kecemasan yang berujung pada pelepasan aset secara massal. Hasan menilai kekuatan pembelian masih mampu mengimbangi tekanan jual yang muncul di lantai bursa.

ÔÇ£Jadi ini juga menunjukkan tidak adanya upaya panic selling atau reaksi satu arah berupa arus katakanlah upaya menjual saham-saham tanpa diimbangi kekuatan pembelian,ÔÇØ lanjut Hasan Fawzi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK.

Di sisi lain, valuasi pasar saham domestik dipandang menjadi lebih kompetitif bagi investor dengan rasio price to earnings (PER) di level 16 kali. Angka ini tercatat lebih rendah dibandingkan rata-rata valuasi bursa saham di wilayah regional lainnya.

ÔÇ£Kita perhatikan sebetulnya tingkat rata-rata harga-harga yang dicerminkan dari ratio price earning ratio atau PER-nya IHSG kita sekarang sudah jauh di bawah posisi pada saat terjadi all time high di pertengahan Januari. Sekarang bahkan secara PER regional tingkat rata-rata per saham kita sudah ada di bawah PER rata-rata bursa lainnya. Sekarang tingkatnya di level 16 kali,ÔÇØ tutur Hasan Fawzi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK.

Data operasional bursa pada penutupan sesi satu mencatat volume transaksi mencapai 26,13 miliar saham dengan nilai Rp 10,27 triliun. Sebanyak 398 saham berakhir di zona merah, sementara kapitalisasi pasar tercatat berada di angka Rp 11.865 triliun.

Artikel terkait

Rekomendasi