PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) memperkokoh kapabilitas lini bisnis wealth management milik perusahaan. Langkah strategis ini direalisasikan pascaakuisisi aset serta liabilitas retail banking and wealth management dari PT Bank HSBC Indonesia.
Proses akuisisi tersebut melibatkan pengalihan penuh aset dan liabilitas International Wealth and Premier Banking (IWPB) HSBC Indonesia kepada pihak OCBC Indonesia. Informasi ini dilansir dari Investortrust.
Dari aksi korporasi tersebut, total dana kelolaan atau asset under management (AUM) yang dialihkan menyentuh angka Rp 89,8 triliun. Jumlah ini terdiri atas investasi nasabah pada instrumen obligasi, reksa dana, dan asuransi senilai Rp 58,2 triliun, serta simpanan nasabah sebesar Rp 31,6 triliun.
Selain dana kelolaan, OCBC Indonesia juga menerima pengalihan portofolio small retail loans nasabah senilai Rp 3,6 triliun. Layanan IWPB Indonesia sendiri tercatat menjaring lebih dari 336.000 nasabah yang tersebar di 26 kantor cabang.
Melalui penyelesaian transaksi ini, total AUM OCBC Indonesia diproyeksikan mengalami lonjakan sekitar 25%. Perusahaan juga membidik pertumbuhan pada saldo kartu kredit hingga melampaui angka 150%.
Direktur OCBC Johannes Husin menjelaskan bahwa OCBC terus membangun bisnis wealth management yang mencakup investasi obligasi, reksa dana, asuransi, dan emas. Bank yang turut dimiliki oleh investor Lo Kheng Hong ini juga mengoptimalkan layanan digital untuk memberikan pengalaman bertransaksi yang seamless.
Dalam kurun waktu tahun 2022 sampai Desember 2025, lini bisnis manajemen kekayaan OCBC membukukan pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) mencapai 29%. Melalui capaian tersebut, total nilai kelolaan kini telah berada di atas Rp 120 triliun.
Transformasi digital ikut menggeser perilaku nasabah dalam mengelola finansial mereka. Porsi transaksi produk wealth melalui saluran digital meningkat dari posisi 30% pada tahun 2024 menjadi sebesar 44% pada tahun 2025.
Volume transaksi obligasi lewat platform digital melesat hingga 89% secara tahunan (year on year), dengan frekuensi jumlah transaksi tumbuh 50% secara tahunan. Aktivitas nasabah lewat kartu kredit, kartu debit, QRIS, dan pembayaran tagihan dalam lima tahun terakhir juga tumbuh dengan CAGR 68%.
ÔÇ£Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa nasabah membutuhkan mitra untuk pertumbuhan aset jangka panjang. Dengan skala yang semakin kuat, expertise yang semakin dalam, dan ekosistem yang semakin terintegrasi, kami ingin membantu lebih banyak individu, keluarga, dan pelaku usaha untuk mengelola, melindungi, dan mengembangkan wealth mereka dengan lebih optimal,ÔÇØ ujar Johannes dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Untuk memenuhi kebutuhan yang beragam, OCBC menawarkan tiga pilar layanan utama. NYALA by OCBC disediakan bagi nasabah yang memerlukan pengelolaan finansial digital, sedangkan OCBC Premier Banking didukung oleh Relationship Manager serta tim Wealth Management berpengalaman.
Bagi kategori nasabah ultra-high-net-worth, perusahaan menyediakan layanan OCBC Private Bank yang berfokus pada manajemen kekayaan dan perencanaan warisan. Layanan ini diperkuat ekosistem grup melalui PT OCBC Sekuritas Indonesia dan PT Great Eastern Life Indonesia.
Memasuki usia ke-85, OCBC menilai potensi bisnis wealth management di Indonesia terus menguat seiring bertambahnya kelas menengah dan literasi keuangan. Saat ini, tingkat penetrasi wealth management nasional masih berada di bawah angka 5% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Johannes menambahkan bahwa pertumbuhan sektor manajemen kekayaan di Indonesia mulai terlihat masif sejak era 2010-an, tepatnya setelah industri perbankan pulih dari krisis finansial 1998 dan 2008.
ÔÇ£Nasabah perbankan saat ini sudah berada pada fase yang lebih matang dibandingkan dua dekade lalu. Jika sebelumnya fokus masyarakat adalah membangun bisnis dan mengejar pertumbuhan ekonomi, kini kebutuhan mereka mulai bergeser pada pengelolaan kekayaan, proteksi, hingga perencanaan warisan,ÔÇØ katanya.
Layanan ini kini tidak lagi eksklusif bagi kelompok ultra high net worth individual (HNWI). Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), di atas 50% investor di Indonesia kini berusia di bawah 30 tahun, yang menjadi peluang besar untuk wealth management digital.
Perusahaan tetap optimis terhadap prospek manajemen kekayaan domestik di tengah fluktuasi pasar global akibat tensi geopolitik dan ketidakpastian suku bunga. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil di kisaran 5% diyakini akan terus melahirkan new wealth di segmen kelas menengah.