Nuryati Tewas dalam Kecelakaan KA Argo Bromo di Jakarta Pusat

Nuryati Tewas dalam Kecelakaan KA Argo Bromo di Jakarta Pusat
Foto: Ilustrasi Nuryati Tewas dalam Kecelakaan KA Argo Bromo di Jakarta Pusat.

Nuryati (62) meninggal dunia akibat kecelakaan yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line saat sedang menempuh perjalanan menuju Cikarang untuk menjenguk anaknya pada Senin (27/4/2026) malam. Insiden maut tersebut merenggut nyawa warga Kemayoran tersebut yang berangkat bersama anak dan cucunya.

Peristiwa ini bermula ketika korban bertolak dari kediamannya di Jalan Kalibaru Timur, Jakarta Pusat, dengan tujuan rumah sakit tempat anak bungsunya dirawat. Sebagaimana dilansir dari Megapolitan, korban sempat berpamitan dan berbincang dengan keluarga sebelum kejadian nahas tersebut menimpanya.

Anak sulung korban, Halimah (41), memberikan keterangan mengenai aktivitas terakhir ibunya sebelum berangkat ke Cikarang. Nuryati disebut masih sempat membahas urusan organisasi lingkungan sebelum meninggalkan rumah sekitar pukul 06.30 WIB.

"(Ibu) Mau ke Cikarang, ke tempat adik saya, mau nengokin adik saya yang sakit, di rumah sakit, kan dirawat. Sampai sekitar pukul 06.30 WIB itu masih di sini di rumah saya. Sama lagi ngomongin masalah PKK, bahas masalah PKK kan mau ada kegiatan," ungkap Halimah.

Sosok Nuryati di mata keluarga dan tetangga dikenal sebagai pribadi yang sangat aktif dalam kehidupan sosial di wilayah tempat tinggalnya. Halimah mengenang ibunya sebagai penggerak di berbagai organisasi kemasyarakatan mulai dari kesehatan hingga keagamaan.

"Mama itu memang orang yang aktif di wilayah," katanya.

Informasi mengenai kecelakaan tersebut baru diterima pihak keluarga pada pukul 21.00 WIB melalui sambungan telepon dari salah satu anak korban yang turut serta dalam perjalanan. Situasi dilaporkan berubah cepat dari kondisi pingsan hingga korban dinyatakan meninggal dunia.

"Pas saya telepon kedua, 'mama sudah tidak sadarkan diri, mbak,' bilang gitu, terus sudah pucat. Terus saya telepon lagi, 'sudah tidak ada kayaknya mbak'," ucapnya.

Berdasarkan keterangan saksi di lokasi, posisi korban saat benturan terjadi tidak berada di gerbong paling belakang. Namun, kekuatan tabrakan membuat tubuh korban terpental di dalam gerbong kereta yang saat itu dipenuhi penumpang.

"Kata adik saya enggak paling belakang (posisi gerbong). Cuma mungkin berapa gerbong dari belakang. Pas benturan yang ditabrak dari tabrakan kereta itu, ya bikin agak terpental kata adik saya," ungkapnya.

Proses evakuasi korban berjalan cukup sulit karena kondisi interior kereta yang gelap total tanpa adanya sirkulasi udara yang memadai. Penumpang pria dilaporkan berupaya menyelamatkan diri terlebih dahulu melalui jendela, sementara Nuryati tertinggal di dalam.

"Jadi itu kata adik, di kereta itu kan gelap ya, tidak ada sirkulasi udara. Jadi Mama tuh penolongannya terakhir kata adik saya, enggak ada yang nolongin, jadi laki-laki yang pada itu pada menyalamatkan diri semua. Sedangkan kalau adik saya sama ponakan saya itu lewat jendela," ujarnya.

Keluarga menduga penyebab utama kematian adalah kekurangan oksigen akibat terjebak terlalu lama di dalam ruangan tertutup. Korban baru bisa dievakuasi setelah pintu gerbong berhasil dibuka secara paksa oleh petugas dan penyintas lainnya.

"Jadi kata adik saya tinggal sedikit doang yang ada di dalam. Jadi karena Mama enggak berhasil (dievakuasi) lewat jendela, kan otomatis lewat pintu," imbuhnya.

Setelah pintu terbuka, hanya tersisa beberapa orang di dalam gerbong yang masih bertahan dalam kondisi kritis. Kondisi ruangan yang pengap dan gelap menjadi faktor yang memperburuk keadaan para korban yang terjebak.

"Nah kata adik pas pintunya berhasil terbuka, tinggal sisa berapa orang doang yang ada di dalam. Mungkin karena Mama kehabisan oksigen di dalam," tambahnya.

Artikel terkait

Rekomendasi