Notifikasi pesan teks dan komunikasi digital sehari-hari ditemukan menjadi pemicu utama stres serta kelelahan mental pada pengguna ponsel pada Jumat (24/4/2026). Fenomena ini menempatkan individu dalam kondisi selalu siaga yang melelahkan saraf otak meskipun tidak sedang mengakses media sosial.
Kesehatan masyarakat global dipengaruhi oleh perubahan pola interaksi dari tatap muka menjadi pesan digital yang konstan sebagaimana dilansir dari Lifestyle. Setiap pemberitahuan yang muncul menuntut pengambilan keputusan cepat yang berujung pada kelelahan kognitif tanpa adanya aktivitas fisik yang berat.
Profesor Kesehatan Masyarakat Global dari University of Edinburgh, Devi Sridhar menjelaskan bahwa sistem saraf manusia tidak dirancang untuk menghadapi tekanan komunikasi digital yang tanpa jeda. Otak lebih terbiasa pada interaksi langsung dalam kelompok kecil dibandingkan arus informasi terus-menerus.
"Kita lebih terhubung dari sebelumnya, tetapi juga lebih stres dan merasa kesepian," tulis Sridhar, Profesor Kesehatan Masyarakat Global dari University of Edinburgh.
Penelitian tahun 2026 menunjukkan bahwa tingginya intensitas pesan teks berbanding lurus dengan peningkatan kadar stres. Sebaliknya, interaksi fisik secara langsung memberikan dampak psikologis yang lebih positif bagi kesejahteraan mental seseorang karena melibatkan ekspresi wajah dan intonasi suara yang utuh.
Fitur penanda pesan telah dibaca atau read receipt juga dilaporkan memicu reaksi psikologis negatif berupa rasa sakit sosial. Kondisi ini mengaktifkan bagian otak yang sama dengan rasa sakit fisik saat seseorang merasa diabaikan atau mengalami fenomena ghosting.
Tekanan untuk merespons dengan cepat diperparah oleh fitur status online dan tanda sedang mengetik yang menciptakan kewajiban hadir secara permanen. Hal ini mengaburkan batasan antara waktu pribadi dan waktu kerja sehingga memicu peningkatan detak jantung serta tekanan darah pada pengguna.