Di siang yang terik itu, kuseret kakiku menuju sebuah gedung di Jl Jenderal Basuki Rahmat No 23, Jakarta Timur. Plang besar dengan huruf tebal-tebal bertuliskan ÔÇ£Pasar Baru GembrongÔÇØ menghentikan langkahku.
Kuyakinkan diriku untuk memasuki gedung bernuansa kuning tersebut. Sunyi. Itu kesan pertama saat memasuki Pasar Gembrong, pasar yang dulu dikenal sebagai surga mainan anak-anak. Satu lantai hanya diisi beberapa kios yang memajang berbagai jenis mainan, mulai barang mainan tradisional buatan lokal, hingga barang mainan impor.
Sejumlah pedagang menyambutku dengan ramah. ÔÇ£Lihat-lihat dulu saja, Mbak,ÔÇØ kata mereka. Suara mereka yang lembut terdengar nyaring, saking sepinya tempat tersebut. Tak kulihat seorang pembeli pun mendatangi toko. Di sudut lain, beberapa penjual sibuk membersihkan toko kelontongnya, sementara yang lain sibuk menghitung barang dagangannya.
Mataku tertuju pada tiga orang paruh baya yang sedang bersenda gurau. Mereka terlihat bahagia. Membuatku tertegun. Kuhampiri mereka. ÔÇ£Mau apa, Dik?ÔÇØ tanya salah seorang pedagang. Perempuan itu kemudian membawaku ke salah satu toko.
Atin Barbie, begitu nama toko tersebut. Aku mengedarkan pandanganku pada beberapa mainan yang dipajang. Ibu tersebut menawarkan tempat duduknya, tapi aku menolak. Kuambil kamera dan mulai merekam. Mulailah kami terlibat dalam obrolan yang mengasyikkan.
"Nama saya Ibu Atin, umur 55 tahun. Pemilik Toko Atin Barbie. Berjualan sudah empat tahun. Tapi hingga saat ini belum ada perubahan yang berarti," ujar Atin, Pemilik Toko Atin Barbie.
Atin menceritakan pengalamannya berjualan di Pasar Gembrong. Pasar Gembrong sendiri adalah pasar yang terkenal sebagai nirwana bagi anak-anak. Tak mengherankan jika beberapa tahun lalu, pasar ini menjadi primadona pencari mainan. Bu Atin menceritakan betapa terasanya perbedaan berjualan dulu dengan sekarang.
"Kalau dulu mah rame, sebelum digusur dulu, yang sekarang dibuat tol Becakayu itu. Jadi, kami harus pindah ke sini. Waktu masih di pasar lama yang di pinggir jalan itu, pembelinya rame," tutur Atin, Pemilik Toko Atin Barbie.
Betapa banyak luka yang telah mendera Atin dan para pedagang lainnya di Pasar Gembrong. Mereka bukan hanya kehilangan harta benda saat Pasar Gembrong ludes terbakar, tahun silam. Atin bahkan kehilangan orang tercintanya saat pandemi Covid-19 mengharu biru negeri ini, tiga tahun lalu. Atin yang berstatus single parent bagi anaknya yang masih sekolah, kini menggantungkan seluruh hidupnya dengan berjualan mainan anak-anak di Pasar Gembrong.
Pasar Gembrong menjadi saksi betapa manusia menggantungkan hidupnya dengan menjual barang-barang yang sekiranya sepele bagi orang lain, namun sangat berharga bagi sebagian orang.
"Kadang sedih juga lihat orang kaya. Mereka dengan mudah mengeluarkan uang ratusan ribu rupiah hanya untuk membeli mainan anak-anak. Bagi orang seperti kami, uang segitu bisa untuk makan beberapa hari," ujar Atin, Pemilik Toko Atin Barbie.
Perbincangan kami baru terhenti setelah azan zuhur berkumandang. Aku pun melangkah gontai ke luar gedung. Rasa dahaga memaksaku menuju sebuah warung di sudut pasar untuk memesan es teh. Rasa sejuk yang menjalari kerongkonganku sudah cukup untuk membangkitkan rasa penasaranku saat melihat sebuah toko bernama ÔÇ£Toko Saka ATKÔÇØ. Toko itu memajang semua peralatan sekolah.
Kudatangi penjual toko tersebut. Ryan Hidayat, penjaga toko, dengan antusias menjawab pertanyaan-pertanyaanku.
"Baru sekitar dua tahun. Sebelumnya berjualan di Gembrong lama sekitar setahun, kemudian pindah ke sini. Yang kena gusur memang pada pindah ke sini," papar Ryan, Penjaga Toko Saka ATK.
Ryan mengakui, Pasar Gembrong kini sepi akibat maraknya e-commerce dan marketplace. Ia berharap kondisi pasar bisa pulih kembali di tengah kebiasaan baru masyarakat yang lebih memilih berbelanja melalui gawai.
"Semoga ramai kembali seperti sedia kala. Marketplace dan e-commerce membuat masyarakat terbiasa memesan semua hal lewat handphone. Semoga ke depan, Pasar Gembrong ramai pengunjung lagi," kata Ryan, Penjaga Toko Saka ATK.
Tantangan Arus Digitalisasi
Keluhan yang dilontarkan Atin dan Ryan mewakili keluhan ribuan pedagang tradisional lainnya yang kalah bersaing dengan e-commerce dan marketplace, terutama dari sisi harga. Harga barang di ranah daring seringkali lebih murah karena rantai distribusi yang lebih pendek. Namun, di luar itu, sempat muncul tuduhan adanya praktik predatory pricing yang mengancam UMKM dalam negeri.
Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan telah merespons kondisi ini dengan menerbitkan Permendag Nomor 31 Tahun 2023. Regulasi ini mengatur perizinan hingga larangan transaksi pembayaran pada platform social commerce, serta menetapkan harga minimum untuk barang impor tertentu guna melindungi ekosistem UMKM lokal.
Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, jumlah UMKM saat ini mencapai 67 juta pelaku, dengan 22,81 juta di antaranya sudah masuk ke ekosistem digital. Pemerintah menargetkan angka digitalisasi ini mencapai 30 juta pada tahun 2024. Kendati demikian, pasar fisik tetap menawarkan keunggulan yang tidak dimiliki platform daring.
Dari segi kualitas, pasar tradisional seperti Pasar Gembrong memberikan jaminan karena pembeli bisa melihat fisik barang secara langsung dan melakukan penukaran jika barang tidak sesuai. Hal inilah yang membuat sebagian pelanggan tetap setia.
"Kalau harganya lebih murah di sini, ya pasti akan terus beli di sini," tandas Wildan, Pelanggan Pasar Gembrong.