Potensi penghapusan emiten dengan saham terkonsentrasi tinggi atau high shareholding concentration (HSC) dari daftar konstituen MSCI Investable Market Indexes kini terbuka lebar. Langkah dari MSCI Inc ini langsung memicu tekanan jual pada sejumlah saham raksasa di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Dikutip dari Investortrust, dua saham konstituen MSCI teridentifikasi memiliki tingkat HSC yang sangat tinggi. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mencatat konsentrasi saham hingga 97,31% dari total saham milik emiten Prajogo Pangestu tersebut, sedangkan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) memiliki kepemilikan terkonsentrasi mencapai 95,76%.
Melalui pengumuman resminya pada Senin (20/6/2026), MSCI menyatakan dapat menggunakan data pengungkapan pemegang saham di atas 1% untuk menyesuaikan estimasi free float dalam proses evaluasi. Langkah ini diambil guna merespons identifikasi HSC oleh otoritas pasar modal di Indonesia.
Di samping itu, MSCI menegaskan tetap mempertahankan kebijakan sementara atau interim treatment untuk pasar Indonesia. Kebijakan ini mencakup pembekuan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), penundaan penambahan konstituen baru ke MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta pembekuan perpindahan saham ke segmen indeks yang lebih tinggi.
Pengumuman tersebut langsung memicu kejatuhan harga saham BREN sebesar lebih dari 6,4% menjadi Rp 6.175 hingga perdagangan pukul 09.30 WIB. Koreksi tajam ini berbanding terbalik dengan saham grup Prajogo Pangestu lainnya seperti BRPT, PTRO, dan TPIA yang justru cenderung bergerak naik.
Penurunan yang lebih dalam dialami oleh emiten grup Sinarmas, DSSA, yang merosot hingga 11,62% ke posisi Rp 2.890. Emiten yang baru saja menyelesaikan pemecahan nilai nominal saham ini bahkan sempat menyentuh level terendah intraday pada harga Rp 2.830 setelah pengumuman tersebut rilis.
Anjloknya dua emiten dengan kapitalisasi pasar jumbo ini turut menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) BEI yang terpangkas 50 poin atau 0,70% ke level 7.540 pada pukul 09.30 WIB. Situasi bursa domestik ini kontras dengan mayoritas indeks saham Asia yang bergerak menguat pada pagi yang sama.
Pelemahan indeks pada perdagangan pagi juga mendapat tekanan dari saham BBRI yang merosot 4,35% menjadi Rp 3.290. Penurunan saham perbankan tersebut dipicu oleh momentum rampungnya periode cum dividen kemarin, di mana BBRI dijadwalkan membagikan dividen senilai Rp 209 per saham pada 8 Mei 2026.